BAB 29
Nadia terkejut. Sementara Mustafa tersenyum senang. Ryan puas. Tetapi Pak Surya dan Bu Indah kebingungan. Karena Nadia sudah dilamar oleh Anggara dan Pak Surya setuju walau terpaksa.
“Nadia," ucap pak Sumitro.
“Ya, Om.”
“Kamu mau menerima Sam sebagai calon pendamping kamu.”
Nadia tidak menjawab. Ia masih terkejut dengan lamaran mendadak Sam.
“Saya yakin Nadia mau, Om,” jawab Ryan tanpa ditanya.
Semua yang ada di ruang itu menoleh ke arah Ryan. Salah satu kakak Nadia yang rakus itu. Ryan mengulangi ucapannya dengan mantap. “Nadia menerima lamaran Sam.”
Perkataan Ryan di setujui oleh Mustafa. Anak tertua itu mengatakan kalau Nadia sudah lama menyukai Sam. Dan Nadia masih terdiam. Masih belum mengeluarkan sepatah katapun.
“Pak Surya, ini benar lamaran Sam di terima," tanya pak Sumitro.
“Kalau saya sih setuju,” jawab Pak Surya. Dan jawaban ini mengejutkan Nadia yang merasa teriris hatinya. Bukan hanya gadis cantik berhijab itu yang terkejut, tapi juga Mustafa dan Ryan. Kedua anak laki-laki Pak Surya itu merasa kalau Papahnya akan menolak lamaran ini, karena sudah menerima lamaran Anggara.
“Pah, Mamah mau bicara sebentar," ujar Bu Indah yang sebenarnya lebih terkejut dari anak-anaknya atas jawaban suaminya. “Kami permisi sebentar," Bu Indah meminta izin ke keluarga Sam. Kemudian ia menarik tangan Pak Surya dan menyeretnya ke belakang.
Pak Sumitro dan Bu Shayne saling melirik, menerka-nerka apa yang terjadi. Karena situasi di ruangan itu membuat Nadia tak nyaman, gadis itu ikutan permisi. Mengikuti diam-diam kedua orang tuanya yang sedang berbicara di halaman belakang, yang bersebelahan dengan dapur.
“Udah tenang aja Sam. Keluarga kita setuju kamu melamar Nadia." Mustafa menenangkan Sam dengan mengelus-elus punggungnya.
Sam bernapas lega. Dia tersenyum pada kedua orang tuanya yang masih bingung sepeninggal Pak Surya dan Bu Indah serta Nadia.
Di halaman belakang. Bu Indah memprotes keputusan suaminya menerima lamaran Sam. Alasannya karena sang suami sudah menerima lamaran Anggara.
“Papah gimana sih. Kita kan sudah menerima lamaran Anggara. Kenapa sekarang lamaran Sam diterima juga?”
“Mah! PApah kan sudah bilang kalau papah belum sreg sama Anggara.”
“Kalau papah belum sreg, kenapa diterima. Mamah kan ngga enak sama Bu Euis, ibunya Anggara.”
Mereka berbicara dalam intonasi suara yang rendah. Hampir berbisik.
“Mah, waktu itu Papah sedang kesal dengan Mus dan Ryan. Sekarang Papah mikir kedepan. Untuk masa depan Nadia, Mah. Sam bisa diandalkan."
“Papah ngga bisa begini dong. Papah harusnya tanya dulu sama Nadia. Mamah ngga setuju, Pah. Mamah tetap pilih Anggara.”
“Papah tidak perlu meminta izin Nadia. Mamah juga tidak memiliki hak apapun pada Nadia.”
“Maksud papah apa! Jangan bilang Papah malu Bu Euis jualan kue setiap pagi di depan rumah.”
Bergetar suara Bu Indah. Emosinya menbuncah. Dada naik turun menahan napas yang tersengal.
“Mamah lupa, kalau Nadia bukan anak kandung Mamah!”
Minuman kaleng yang dipegang Nadia terjatuh. Jari jemarinya tak mampu mencengkeramnya. Lututnya gemetaran. Lantai dipijakannya seakan bergetar hebat. Gadis itu terkulai lemas. Belum hilang keterkejutannya saat keluarga Sam datang melamar, sekarang ia kembali dikejutkan ucapan papahnya.
Berdiri setengah berlutut, Nadia berusaha bangkit dan berjalan meninggalkan dapur.
Bu Indah dan Pak Surya spontan menengok ke arah dapur yang dibatasi oleh dinding yang tidak terlalu tebal. Bu Indah sempat tertegun dengan ucapan Pak Surya. Bahkan ia tidak menyangka suaminya bisa berkata demikian.
Wanita setengah baya itu berjalan terburu-buru masuk ke dalam dapur melalui pintu kaca yang menghubungkannya. Hendak melihat barang yang terjatuh barusan. Sekilas nampak di mata Bu Indah, Nadia berlari menjauh dari dapur. Dia bisa menebak kalau Nadia mendengar perkataan suaminya.