BAB 30
Karena sudah tidak bisa membendung amarahnya, Anggara menampar setengah keras wajah Luna. Wanita licik nan culas tersebut meringis kesakitan memegangi pipi kirinya. Wajahnya menahan kemarahan.
“Kasar sekali kamu Anggara pada wanita.”
“Kamu berhak menerimanya. Licik. Cintamu tidak aku balas tapi kamu berbuat semaumu. Wanita yang kuhadapi sekarang adalah wanita iblis.”
“Aku akan melaporkan ini ke kepolisian. Sebagai tindakan kekerasan.”
“Silahkan. Aku juga akan melaporkan rencana pembunuhan yang kamu lakukan di Bali. Aku punya buktinya. Dan sekali lagi aku bilang, kamu yang akan merugi karena akan kehilangan kekayaan kalau sampai suami kamu tahu wanita seperti apa kamu.”
“Lebih baik tante keluar dari sini. Atau saya tambah tamparannya. Dasar tante girang. Suka cari berondong," ancam Alvian ikutan kesal.
Dengan wajahnya yang bertekuk-tekuk, Luna pergi mmbawa kekesalannya. Masih memiliki perasaan istimewa pada Anggara. Berharap lebih tapi jiwanya terjatuh bersama pemuda berdarah campuran dan kekasihnya. Karena ulahnya sendiri.
*
Alvian menutup pintu. Dan menguncinya. Ibu terduduk lemas di depan televisi.
Aku miris melihat sosok terduduk lemas, wanita yang baru saja aku sakiti. Aku tidak pantas dipanggil ‘nak’ oleh ibu. Aku kotor. Aku serakah. Aku lemah.
Ibu duduk di sofa menatap televisi yang tidak menyala. Kulihat wajah masam Alvian. Dia berlalu begitu saja di depanku. Naik ke lantai atas.
Aku mendekati ibu. Berdiri di samping sambil menatap wajah sendunya. Aku ingin menyapanya. Tapi ribuan kata hilang begitu saja di kepalaku. Aku tidak tahu harus memulai dari mana.
Akhirnya aku duduk bersimpuh di depannya. Aku bersujud padanya. Mencium surgaku. Memohon maaf yang sebesar-besarnya pada wanita yang sudah melahirkan dan membesarkanku.
“Bu aku minta maaf. Aku sudah mengecewakan, Ibu.”
Tangisku pecah. Lebih pecah dari minta maaf pada saat lebaran. Aku sesenggukan menumpahkan semua air mata yang kupunya. Rok ibu basah. Karena aku menempelkan wajahku di kedua pahanya.
“Ibu kalo marah sama aku, silahkan. Kalo mau menamparku bolak balik, aku terima. Kalo Ibu mau mengusirku dari rumah, aku ikhlas. Tapi jangan pecat aku jadi anak Ibu. Aku bukan siapa-siapa tanpa Ibu.”
“Aku anak durhaka, Bu. Aku udah bikin malu keluarga.”
Tangisanku belum berhenti. Karena aku belum mendengar suaranya.
“Bu ngomong. Jangan diem aja. Jangan diemin aku kaya gini."
Aku masih terus menangis. Entah sudah berapa banyak air mata yang jatuh
“Makasih ya, Nak.”
Aku seketika berhenti menangis. Kudongakkan kepalaku. Kutatap wajah ibuku. Aku tidak menyangka kalimat pertama yang keluar dari mulut ibu adalah ucapan terima kasih.
“Makasih kamu sudah jadi tulang punggung yang baik untuk keluarga, untuk Ibu dan Alvian. Kamu rela menghitamkan diri kamu untuk kami. Kamu rela menjadi target pembunuhan Luna. Kamu rela menjadi pengganti Bapak setelah meninggalkan kita. Kamu bekerja keras untuk kami. Ibu bangga sama kamu.”
Aku merangkul pinggang ibu. Menempelkan wajahku lagi di pangkuannya. Aku tidak kuat dwngan kata-kata itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Meraung-raung. Ibu mengusap rambutku. Menyayangiku seperti ketika aku masih kecil. Ibu tak pedukiseberapa kotornya aku, Ibu tetao mencurahkan kasih sayangnya padaku. Tak lama, aku merasakan rangkulan dari samping kiriku. Ternyata Alvian datang memelukku dan ikutan menangis. Kami menangis bersamaan. Menangis di pangkuannya. Memohon maaf sekali lagi. Bahkan Alvian ikutan memohon maaf pada ibu. Dan juga padaku.
Ibu terus mengusap rambutku dan rambut Alvian. Aku dan Alvian masih saling berangkulan. Dan masih di pangkuan ibu.
Diangkatnya kepala kami berdua. Ditatapnya kami. Lembut kulihat sinar matanya. Tidak ada sama sekali wajah yang kecewa, apalagi marah. Sejuk sekali memandangnya.
Ibu mengusap air mata kami bergantian. Lalu berkata padaku.
“Ibu memang kecewa sama kamu tadi. Kecewa sekali. Tapi ngga ada alasan bagi Ibu untuk terus marah sama anak Ibu sendiri,” ucap ibu.
“Kalian berdua anak-anak Ibu yang hebat. kalian tidak pernah mengeluh sejak ditinggal Bapak. Justru Ibu yang meminta maaf karena tidak bisa jadi orang tua yang baik.”
“Ngga, Bu, ngga. Ibu sudah luar biasa buat aku. Buat Alvian. Ibu jangan merasa bersalah seperti ini lagi." Kini tangis Alvian yang pecah. mendengar ibu dan aku berbicara seperti.
“Mas aku minta maaf. Tadi aku sempet kesal sama Mas Angga.”
“Kamu ngga perlu minta maaf Vian. Mas senang kamu belain Mas tadi dari Sam dan wanita licik itu."
Aku dan Alvian berpelukan. Tak lama suasana berubah, menjadi lebih tenang dan damai
“Angga. Ibu minta kamu tinggalkan ya dunia itu. Sudah cukup.”
“Iya, Bu. Angga akan tinggalkan.”