TULUS

hadi wiyono
Chapter #31

TERPENJARA CINTA

BAB 31


Duduk di tepian tempat tidur. Di dekat Nadia. Bu Indah iba memandangnya. Dua kabar yang menjatuhkan mentalnya seketika. Bagaikan terjatuh di dasar lautan terdalam tanpa bisa menghirup udara yang semakin membuat dadanya terhimpit.

Air matanya sudah tidak bergulir agi. Sudah mengering. Energinya sudah habis. Bu Indah bangkit berdiri di samping Nadia. Membelai rambutnya. Dia tidak menggunakan hijab saat di kamarnya.

“Nad. Ini mamah bawain sarapan. Kamu makan ya. Dari semalam belum makan." Ujar bu Indah begitu masuk langsung meletakkan senampan sarapan di meja rias sebelum menghampiri putrinya.

Nadia memandang kosong ke depan. Matanya redup. Tidak bercahaya sama sekali.

“Nad.”

“Semua yang terjadi sama kita sudah digariskan Tuhan. Kita tidak akan keluar dari jalurnya. Kenapa kamu yang mendapatkan ujian ini. Karena kamulah yang dianggap kuat sama Tuhan. Kamu memiliki bahu yang kokoh, yang bisa melewati ini semua”, ujar bu Indah dengan bijaknya

Nadia masih memandang kosong. Matanya masih redup. Belum bercahaya lagi seperti hari-hari sebelumnya.

“Kamu makan ya. Biar ngga sakit.”

Hening. Sunyi. Bu Indah membelai-belai rambut gadis cantik itu. Gadis yang tidak terlahir dari rahimnya. Gadis yang sangat disayanginya meskipun bukan anak kandungnya.

“Siapa ibu kandung aku mah?”

Bu indah diam. Menurunkan tangannya dari rambut gadis yang dibelainya. Ia sudah menerka kalau Nadia akan bertanya seperti itu.

“Papah selingkuh sama siapa?”

Kali ini, wanita setengah baya itu tersentak. Pertanyaan yang tidak diduganya. Terlontar dari bibir mungil Nadia. Bu Indah masih terdiam. Dan Nadia masih menunggu jawaban.

“Mah. Kenapa diam?”

“Ehh, mamah...”

“Apa karena aku bukan anak kandung mamah. Jadi mamah ngga mau menjawabnya”

“Nad...”

“Kalau mamah ngga mau jawab ya sudah. Aku cari tahu sendiri”

Nadia beranjak dari tempat tidurnya. Hendak ke kamar mandi. Membersihkan dirinya yang sudah berantakan tak karuan.

“Mamah ngga tahu siapa ibu kandung kamu.”

Gadis itu menghentikan langkahnya. Membatalkan niatnya.

“Duduk di sini dulu nak,” ajak bu Indah seraya duduk di sisi tempat tidur. Nadia mengikutinya. Ia begitu menghormati bu Indah yang sejak kecil ia kira adalah ibu kandungnya.

“Nak. Kamu yang tenang ya. Mamah selalu bersama kamu.”

Nadia menggangguk pelan. Namun anggukan yang hanya sekali sudah membuat tentram hati bu Indah.

“Dua puluh tahun lalu ada yang meletakan bayi di teras..” Bu Indah menghentikan ceritanya. Tidak sanggup melanjutkan. Nadia masih menunggu.

Lamat-lamat diceritakan mengenai seonggok bayi yang di letakkan seseorang di teras rumahnya. Bayi yang saat itu baru berusia tujuh hari. Hanya diberi nama Nadia di balik sebuah foto.

“Foto?” tanya Nadia. “Foto ibu kandung aku mah?”

“Iya. Bersama papah," jawab bu Indah tertunduk. Ia kembali mengingat kejadian dua puluh tahun lalu. kejadian yang membuatnya terpuruk. Merasakan patah hati seperti yang dirasakan Nadia saat ini. Dan kejadian itu yang sempat membuat hubungan rumah tangganya retak. Lalu menggugat cerai pak Surya.

“Mamah pernah gugat cerai papah?”

Bu Nadia mengangguk.

“Kita wanita. Dikhianati itu menjadi sesuatu yang haram kita rasakan.” Bu Indah berdiri. Menyingkap tirai di balik Jendela. Melihat taman yang terisi bunga-bunga cantik yang ia buat bersama pak Surya. Kadang Nadia membantunya. “Memori di otak kita akan selalu mengingat pengkhianatan laki-laki yang kita cintai”

“Rasanya perih. Seperti diiris-iris mata pisau yang sangat tajam. Lalu di teteskan air perasan jeruk nipis”. Bu Indah menutup tirai tersebut. Matanya berkaca-kaca kala mengingat kejadian dua puluh tahun lalu itu. Kembali duduk di samping Nadia. Di belainya rambut gadis yang ia anggap sudah seperti anak kandung. Ia sangat menyayanginya. Entah sudah berapa kali belaian yang ia lakukan pagi ini. Tidak akan pernah dihitungnya, Nadialah yang menjadi penyemangat hidupnya. Karena kedua anak laki-lakinya tidak pernah peduli padanya. Mustafa dan Ryan hanya peduli pada harta, harta dan harta.

“Jadi mamah tahu apa yang kamu rasakan saat ini.”

Nadia lekat-lekat menatap ibu sambungnya. Menatapnya tak percaya. Selama ini sang ibu telah menyimpan begitu dalam rasa sakit hatinya. Membiarkannya menguap. Mengikhlaskannya.

“Hingga saat ini mamah masih mengingat semuanya. Mengingat pengkhianatan itu.”

Lagi, Nadia meneteskan air matanya. Mata yang sudah mengering terbasahi kembali oleh cerita penuh menyayat hati mamahnya.

“Tapi mamah cabut gugatan cerai itu. Mamah ngerasa bersalah karena melihat ada bayi mungil dan cantik di rumah ini. Itu yang membuat mamah semangat merawat bayi perempuan, yang dari awal pernikahan dengan papahmu selalu mamah idam-idamkan.”

Bu Indah menghadap ke kiri. Menoleh ke wajah Nadia.

“Mamah tidak membenci kamu sama sekali. Justru kamu yang membangkitkan semangat mamah. Kamu yang memunculkan rasa sayang mamah ke kamu. Kamu alasan mamah membatalkan gugatan cerai itu. Mamah sangat terhibur dengan kehadiran kamu. Karena sudah terlanjur sayang sama kamu, makanya mamah tidak memberitahukan yang sebenarnya.”

Dirinya tidak menyangka dengan pengorbanan mamahnya selama bertahun-tahun. Menahan rasa sakit setiap melihat dirinya. Tapi mamahnya bisa mengesampingkan itu semua demi mempertahankan keluarganya.

Tetiba Nadia memeluk mamahnya. Bu Indah membalas pelukannya. Mereka saling berpelukan erat. Nadia mengucapkan terima kasih pada mamahnya yang sudah menerimanya dengan baik. Ia berjanji pada diri sendiri, tidak akan mencari ibu kandungnya. Wanita yang telah menelantarkannya. Ia tidak mengenal wanita itu sama sekali. Tidak pernah hadir sampai usianya menginjak angka dua puluh.

Lihat selengkapnya