BAB 32
Turun di mulut gang kecil. Di samping rumah Nadia. Di depan mesjid. Aku mendengar suara seorang wanita yang sedang mengaji. Membaca kitab suci. Aku sangat mengenali suara itu. Aku masuk ke dalam mesjid. Dan benar sekali. Yang mengaji itu adalah kekasihku. Atau calon mantan. Mungkin sebutan itu pantas disematkan Nadia padaku. Tapi aku tetap menganggapnya kekasih, karena status kita yang belum berubah. Walaupun aku kesal dengan tamparannya.
Dia membaca kitab suci dengan suaranya yang merdu di depan mimbar. Adem sekali mendengarnya. Hati ini terasa sejuk. Berdesir di kupingku dengan nyamannya. Aku tersihir dibuatnya. Nadia telah menghipnotisku dengan ayat-ayat yang dibacanya. Ayat-ayat yang mengobati rindu. Menyembuhkan luka.
Perlahan tapi pasti aku mendekat ke arahnya. Berjalan tanpa bersuara. Hanya menyisakan satu meter saja. Kulihat dari dekat, dia berbalut busana muslim yang indah. Seindah sosoknya. Lembut kain sutra yang yang dikenakan selembut hatinya. Aku berharap hatinya tetap lembut jika dia menyadari keberadaanku. Bukan kebencian yang tidak aku inginkan.
Nadia mendadak menghentikan bacaannya. Feelingnya bekerja, ada seseorang yang tengah mendekat. Ia melihat ke depan. Ke dinding keramik tempat yang biasanya digunakan untuk imam solat.
Dia sedang melihat bayanganku berdiri. Aku menahan napas. Bersiap untuk kemungkinan terburuk
Dia berdiri. Berbalik badan. Menghadapku. Dan melihatku bagaikan seorang prince of warrior dari amazon hendak menghabisi musuhnya. Aku terkesima melihat perubahan di wajahnya. Seperti malam itu di rumahku. Berubah dari bidadari menjadi ratu iblis dan berakhir bagaikan malaikat tak bersayap. Berujung menjadi seorang pesakitan jiwa.
“Ada perlu apa?” Nada yang datar. Wajah tanpa ekspresi. Tiga kata itu saja sudah membuatku tak mampu bergerak. Tak mampu berkata. Dan tak sanggup melihatnya.
“Aku... aku kangen.” Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku. Berat sekali kuucapkan. Karena aku tahu perasaannya saat ini. Memang aku sangat kangen sama Nadia.
“Untuk apa! untuk kamu jadikan kelinci percobaan.”
“Kenapa kamu berkata seperti itu?”
“Kenapa kamu menjadikanku lampiasan cinta.”
“Maksud kamu apa?”
“Kamu masih belum mengerti maksud aku apa.”
“Iya aku tidak tahu maksud kamu apa?”
“Cintamu bersamaku, tapi ragamu bersama yang lain.”
Aku kembali menunduk setelah beberapa saat berani menatap matanya yang indah. Menatap wajahnya yang cantik. Baru semalam tidak bertemu seperti berbulan-bulan tertahan rindu. Namun aku terdesak oleh kata-katanya yang menikam jiwaku. Nadia yang sedang bersamaku tidak seperti Nadia yang kukenal
“Aku terpaksa.”
“Terpaksa kamu bilang!”
Mata dan bibirnya bergerak sangat indah ketika marah. Baru kulihat pemandangan seperti ini. ini kemarahan Nadia pertama. Tapi menjadi kemarahan yang sangat besar.
“Kalau saja kamu tahu kesulitan yang aku dan keluargaku alami.”
Nadia diam. Membeku. Wajah dingin seperti hamparan salju di puncak Jayawijaya.
“Sepeninggal bapakku, hutang kami menumpuk. Aku bisa apa saat itu, usiaku baru 12 tahun. Itu pun aku sudah mencoba membantu ibu. Aku jadi tukang parkir. Kadang pulang sekolah aku mencuci piring di rumah makan padang. Kadang ngamen sama Alvian. Dengan penghasilan ibu sebagai buruh cuci tidak terpenuhi kebutuhan kami. Bahkan ibu bekerja di tiga rumah sekaligus, masih belum tercukupi.”
Aku melihat Nadia memalingkan wajahnya. Aku tahu dia menangis tapi tidak ingin terlihat olehku. Dia memandang ke atas, ke bagian dalam kubah yang dilukis sekumpulan awan-awan di langit biru.
“Kenapa aku sering ambil cuti kuliah.”
Nadia kembali melihat ke arahku setelah kulanjutkan dengan sebuah kalimat tanya yang aku sendiri akan menjawabnya.
“Karena aku tidak ada uang untuk bayar. Aku berusaha mati-matian untuk menyelesaikannya. Dengan fisik yang aku punya, aku pikir mudah mencari pekerjaan. Ternyata sulit sekali. Aku sudah berusaha mencarinya kesana kemari. Aku sudah berdoa siang malam. Tapi ternyata Tuhan belum mengabulkan yang kuminta. Sampai aku putus asa.”
Aku menghentikan penjelasanku. Terhenti karena suara mencekik di tenggorokanku. Aku menahan tangisanku. Menahan air mataku agar tidak terjatuh. Aku gengsi kalau Nadia melihatku menangis. Aku berusaha mencoba tegar. Karena aku seolah bisa menebak endingnya nanti seperti apa.
“Bahkan jalan gelap yang aku pilih ini. Penuh dengan kerikil tajam dan lubang menganga. Jalan berliku penuh dengan pendakian terjal dan turunan curam. Aku pernah mendapatkan percobaan pembunuhan oleh orang suruhan Luna. Tiga orang berbadan besar-besar. Di Bali. Karena aku menolak cintanya. Karena aku sudah bersama kamu. Untungnya aku bisa melumpuhkan mereka. Ini berkat ibu dan kamu yang selalu mendoakan keselamatanku.”
Nadia memandangku tidak percaya. “Sumpah demi Allah. Ini dirumahNya. Aku tidak bohong. Kalau saat itu Luna dan orang suruhannya berhasil membunuhku. Kita tidak akan bertemu lagi di sini.” Kembali Nadia memalingkan wajahnya. Kali ini memandang rumahnya yang terlihat dari dalam mesjid.
“Saat itu aku ke Bali karena ingin mendapatkan uang untuk melamar kamu. Aku tahu kamu lahir dari keluarga berada, makanya aku tidak ingin melamarmu apa adanya. Aku ingin mengambil hati keluarga kamu. Terutama kedua orang tua kamu.”
0“Oleh sebab itu aku melamar dengan uang seratus juta. Bagiku uang seratus juta sangatlah besar. Tapi bagi keluargamu tidak seberapa. Seperti yang Ryan katakan di malam aku melamar kamu.”
Sekarang aku bisa menguasai emosiku. Menahan siksaan batin yang terlampau parah. Menyiksa. Menyayat. Mengiris-iris menjadi kepingan tak berharga. Mungkin ini juga yang dirasakan Nadia.
“Yah, kalau seandainya aku menemui ajal di Bali kemarin. Sekarang aku tidak bisa berdiri di mesjid ini. Aku tidak bisa meminta maaf padamu. Aku tahu kamu akan sulit memaafkan. Karena kesalahanku sudah sangat fatal. Aku menjual tubuhku untuk melayani wanita-wanita pencari kepuasan. Mereka membutuhkan itu, aku membutuhkan uang.”
“Aku minta maaf sekali lagi. Aku telah mendosakan cinta. Kamu maafkan atau tidak, aku pasrah. Aku tidak akan mengganggumu lagi. Ini terakhir kalinya kita berkomunikasi. Aku akan mengubur dalam-dalam impianku untuk menikahi wanita solehah seperti kamu. Akan kututup rapat-rapat buku harian yang kerap aku isi dengan puisi cinta tentangmu. Sekali lagi aku minta maaf.”
Aku membungkuk. Kurendahkan lagi tubuhku. Bersujud di kakinya. Inilah caraku meminta maaf agar Nadia tahu betapa sungguh-sungguhnya aku. Sama sekali tidak bermaksud menduakan Tuhan.
“Aku pamit ya. Aku tidak akan menegurmu lagi. Aku hanya akan memandangmu dari jauh saja. Memandang gadis tercantik yang pernah kutemui. Selamat tinggal”, ucapku sambil mendongakan kepala.