BAB 33
Lagu dari penyanyi Andmesh mengalun lembut di telinganya. Sebagai guru ngaji, ia hampir tidak pernah mendengarkan lagu. Hari-harinya disibukkan mentadaburi Al-Quran. Membaca buku Sirah Nabawiyah. Atau buku-buku perawi hadis terkenal. Dan mempelajari buku dari madzab Imam Safii. Madzab yang digunakan di negara Asia Tenggara.
Mengingat masa-masa indah saat bersama. Nadia duduk memeluk kakinya di bangku kecil di bawah jendela kamarnya. Menyandarkan pipi kirinya di atas lutut.
Diresapi tiap baris liriknya. Kata per kata adalah kondisinya saat ini. Nadia masih bingung atas pilihan hatinya. Ia belum merubah statusnya dengan Anggara. Masih menggantung. Ia sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutannya nanti.
Layaknya dua sisi mata uang yang harus segera dipilih. Pilihan pertama adalah memaafkan Anggara dan melanjutkan hubungannya sesuai saran terselubung dari mamahnya. Pilihan kedua menerima pinangan Sam karena Nadia sudah terlanjur berjanji pada papahnya yang akan memberi tahu siapa ibu kandungnya.
Senja berwarna jingga di ufuk barat semakin menenggelamkan alam bawah sadarnya untuk terus hanyut dalam rasa tak tentu arah. Rasa yang hilang berselimut kebencian. Beralaskan kepedihan.
Jarum jam kian mendekat ke posisi tegak lurus. Pukul enam sore. Waktu makhluk bumi memasuki tempat berlindung. Sandikala siap menebarkan aura negatif.
Ketukan pintu kamarnya tak terdengar. Nadia masih mendengarkan musik melalui handsfree. Bu Indah membuka pintunya. Nadia tak tahu kehadirannya, dia duduk membelakangi pintu menghadap ke jendela. Masih setia dengan posisi yang sama.
“Nad,” sapanya lembut. Gadis itu tak bergeming. Handsfree masih menempel. Dilepasnya benda kecil yang mengeluarkan bunyian dahsyat yang mampu menghanyutkan pemakainya. Nadia baru menyadari keberadaan bu Indah.
“Mamah. Dari kapan di sini?”
“Barusan. Mamah mau ajak kamu salat maghrib di mesjid.”
“Di mesjid mah? Tumben Mamah mau salat di mesjid.”
“Iya. Sekali-kali tidak mengapa kan, Nad. Banyak ibu-ibu salat berjamaah di mesjid kalo maghrib, sekalian tadarusan biasanya. Mamah sudah lama tidak ikut,” jelasnya. “Kamu sekalian bisa pimpin tadarusan.”
“Iya, Mah," jawab Naadia tak antusias.
*
Selepas maghrib ibu-ibu yang yang sudah berkumpul bersiap tadarusan. Mata Bu Indah berputar mencari seseorang yang memang sengaja ingin diajaknya bicara. Bu Euis yang biasanya hadir setiap tadarusan tidak terlihat.
“Sudah hadir semua?” tanya salah seorang ibu yang duduk di dekat dinding kayu pemisah jamaah wanita dan pria.
“Bu Euis belum hadir," bu Indah menjawabnya.
“Kalau Bu Euis tadi saya lihat pergi sama anak-anaknya. Sebelum Maghrib," tukas salah seorang jamaah.
Nadia tahu, mamahnya sedang menunggu-nunggu pertemuannya dengan Bu Euis. Terlihat dari wajahnya yang kecewa. Mungkin mamahnya tidak mau ke rumah kontrakan Bu Euis karena akan bertemu dengan Anggara. Biar bagaimanapun dia mendukung hubungan Nadia dengan pemuda blasteran itu.
“Baik. Kita mulai saja langsung. Karena waktu kita tidak banyak. Ee, Nadia bisa memimpin pengajian ini," ucap ibu RT.
“Iya, Bu. Mari semuanya kita awali pengajian ini dengan membaca Al-Fatihah. Kita hadiahkan untuk junjungan Nabi Muhammad SAW. Keluarga dan sahabatnya. Dan untuk keluarga kita yang sudah tiada. Serta untuk jamaah mesjid yang sedang tidak sehat. Semoga diberikan kesembuhan."
Ibu-ibu yang hadir menunduk khusuk.
“Al-Fatihah ...”