TULUS

hadi wiyono
Chapter #34

PILIHAN NADIA

BAB 34


Sejuknya udara kota Bandung menyambut ramah keluarga Anggara. Mobil digas perlahan. Anggara ingin menikmati setiap detik berada di sini. Rama dan Anggara bertukar menyetir mobil di rest area. Memang sudah kesepakatan keduanya untuk bergantian agar tidak ada yang kecapekan.

“Kita langung ke Lembang aja ya," kata Anggara.

“Iya lebih baik begitu, Nak. Ibu langsung pengen ke Lembang.”

Anggara mengarahkan mobilnya ke arah Lembang. Melalui jalan Ciumbuleuit menuju jalan Pagerwangi di daerah Punclut.

Mobil terus berjalan. Mencari tempat mengistirahatkan mesinnya yang sudah tua. Mobil keluaran lima belas tahun lalu itu memang perlu banyak beristirahat. Tidak diporsir tenaganya. Mesinnya bisa aus. Kalau dipaksa terus takut turun mesin nantinya.

Restauran di Jalan Raya Lembang ditujunya. Suasana bergaya klasik sunda kental ketika masuk ke dalam.

Di dalam banyak ornamen-ornamen terinspirasi dari Kerajaan Padjajaran.

Mereka duduk dan memesan makanan. Menahan lapar di jalan selama tiga jam lebih Membuat mereka kalap memesan banyak makanan.

Diiringi musik tradisional Jawa Barat, suasananya begitu menghanyutkan, menghipnotis, seolah teebawa arus, ikut mengalir, dan tenggelam dalam rasa di jiwa. Mengingatkan Bu Euis akan tanah kelahiranya di Garut yang sudah puluhan tahun tidak dikunjunginya.

Anggara mengerti sekarang kenapa ibunya ingin berlibur ke Lembang. Ada rasa rindu akan tanah kelahirannya.

Tapi kenapa tidak ke garut? Ia tidak pernah berani menanyakan. Itu adalah ruang privasi ibunya.

Pesanan datang. Bersamaan dengan dua mobil mewah yang memasuki kafe itu. Keluarga Pak Surya dan Pak Sumitro, berkunjung ke restauran yang sama.

Keluarga kaya raya itu memesan ruang VIP. Terletak di tempat terpisah.

“Bu mau mampir ke Garut ngga?”

“Ngga usah, Nak.”

“Yah kenapa, Bu," Alvian bertanya dengan mulutnya yang penuh dengan makanan.

“Ibu sudah tidak ada kerabat di sana.”

Aku ingat ibu pernah bercerita terlahir sebagai anak tunggal. Memiliki tiga orang saudara sepupu. Saudaranya tidak pernah peduli lagi sejak ibu menikah dengan Michael Smith, pria Amerika.

Jadi ibu sudah putus hubungan sejak lama dengan saudara-saudaranya.

*

Di ruang VIP. Keluarga Pak Sumitro dan Pak Surya sedang membicarakan sesuatu dengan suasana yang santai. Tempat ini yang diinginkan keluarga Pak Surya. Memilih Lembang supaya pembicaraan dalam suasana kekeluargaan. Dengan pikiran relaks di tempat yang asri.

Pembicaraan dipertengahan mengarah mengenai kelanjutan lamaran Sam. Sempat tertunda karena insiden Nadia yang berlari dari rumah disusul Sam dan kedua kakaknya. Sekarang pembicaraan tersebut sudah sampai di titik yang paling serius.

“Jadi lamaran Sam di terima kan l, Nadia?” tanya Bu Shayne dalam pertemuan itu.

Nadia mengangguk. Tanpa berpikir lagi. Atau berdebat memberi argumen. Bersilat lidah atau apapun itu mengarah ke penolakkan. Lantas dia berkata, “Saya menerima lamaran Sam." Tidak satu pun tercetus syarat-syarat.

Jiwanya sedang mengambang. Tak berpijak. Karena pijakan sebelumnya telah mengkhianatinya. Dengan pengkhinatan brutal yang mengoyak hatinya menjadi kepingan tak berarti. Hingga dia mencari pijakan lain. Pijakan yang diharapkannya mampu membebaskan dirinya dari penjara cinta. Terbebas dari terpidana hukuman mati pada jiwanya yang sakit.

Mustafa dan Ryan ersenyum penuh arti. Benar yang Mustafa pikirkan. Perempuan yang sedang patah hati tidak akan berpikir panjang untuk memutuskan suatu hal. Akan mengambil keputusan apapun untuk menghibur dirinya.

Lihat selengkapnya