TULUS

hadi wiyono
Chapter #35

MELANJUTKAN HIDUP

BAB 35


Ya Tuhan

Entah sampai kapan aku bisa menjalani semua ini

Detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, bahkan tahun dan windu mendatang

Semuanya tentang waktu yang tak kembali

Sekuat tenaga aku memperjuangkannya


Ya Tuhan

Beri aku kekuatan tuk bertahan

Saat ini, aku hanya berharap pada ketenangan

Untuk kulupakan semua kenangan


Ya Tuhan

Bantu aku melewati perjalanan dalam epsiode terkelam

Tak satupun yang kan ku sia-siakan

Segala permohonan akan kembali padaMu

Untuk menyelesaikan semua kewajiban

Sampai suatu saat aku akan kembali


Ya Tuhan

Bantu aku untuk mengabulkan semua doa dan keinginan

Aku berharap mampu menyeberangi kisah pahit

Beri aku kesempatan sampai aku berdiri di ujung usiaku...

____James Anggara Prasetya, Jakarta.


Sengaja tidak kutulis tanggalnya. Untuk menghapus kenangan kalau aku pernah menulis kata-kata puitis itu. Agar aku tidak kembali ke tanggal kejadian yang sangat menyakitkan suatu saat aku membuka buku kumpulan coretan perasaan ini.

Sejujurnya masih ada pengharapan. Untuk bersatu pada Nadia. Setidaknya dengan berharap, hidupku kembali bersemangat. Walaupun hanya harapan kosong semata. Harapan yang mungkin tak berujung.

Aku duduk di bangku kecil di depan jendela kamarku. Tidak lagi dengan rokok-rokokku, karena sebenarnya aku bukan perokok. Aku duduk di sini hanya ingin memandang rumahnya. Dimana beberapa kali aku pernah memasukinya. Melamar. Berkunjung. Dan memberikan makanan-makanan pada pak Surya dan bu Indah.

Di satu sisi jiwaku, begitu tersiksa dengan keadaan ini. Tapi di sisi lainnya aku ingin membuktikan pada Nadia dan keluarganya aku bisa bangkit dan sukses. Selama ini kedua kakaknya dan tentu saja pak Surya terlalu menyepelekanku. Karena imageku yang sudah terlanjur rusak melekat di benak mereka. Jadi aku kembali berpikir. Mereka pasti negative thingking kalau aku sukses suatu saat.8 Pasti mereka berpikir aku memiliki sesuatu atau orang dalam atau bahkan pelangganku yang membantu.

Posisiku sekarang jadi serba salah. Benar kata ibu. Alvian. Dan Rama. Aku harus move on. Tapi aku belum tahu caranya. Apa aku harus pindah dari sini. Terpikir sepintas ketika liburan ke Lembang kemarin.

Hari ini kuliah terakhirku di semester tujuh. Berat sekali melangkah ke luar kamar. Seandainya aku punya batu infinity, rasanya ingin kujentikkan jariku hingga sebagian orang menghilang, termasuk aku.

Telapak kakiku seolah menempel pada lantai. Pijakanku lengket. Sulit menggeser langkahku. Namun kupaksakan saja. Aku harus mengejar impianku untuk menyelesaikan kuliah semester depan. Sudah saatnya aku serius memikirkan masa depan. Mendapatkan pekerjaan yang halal sesuai janjiku pada ibu.

Aku menuruni tangga. Mendekat ke ibu yang sedang membuat sarapan.

“Nak sudah bangun?”

“Sudah bu. Lagi masak apa bu?”

“Nasi goreng cumi kesukaan kamu. Itu tehnya diminum nak, mumpung masih hangat.”

Aku mengambil secangkir teh yang sudah tersedia di meja kecil di dapur. Aku duduk di kursi yang biasa Nadia duduki kala membantu ibu membuat kue-kue untuk dijual.

Kembali teringat dia.

Setiap detikku selalu terbayang-bayang sosoknya.

Sukar sekali untuk cepat melupakannya.

Memang waktulah yang pandai menyembuhkan. Merubah keadaan. Walau akan terasa lama sekalipun.

“Kuliah jam berapa nak?”

“Nanti agak siangan bu. Jam sebelas,” jawabku atas pertanyaan ibu. Ia meletakkan dua piring nasi goreng cumi. Sepiring untukku dan sepiring untuk ibuku sendiri. “Bu, mau ngga kita pindah dari sini. cari kontrakan baru?”, tanyaku disela-sela suapan sarapan kami.

Lihat selengkapnya