TULUS

hadi wiyono
Chapter #36

KEMBALI

BAB 36


Hidupku penuh hinaan

Dari kecil hingga dewasa

Dari orang biasa hingga orang yang mengerti ilmu agama sekali pun

Mereka sesuka hati merendahkanku

Tidak kah mereka mengerti apa yang kurasa

Lelah sekali hidup seperti ini

Hidupku seakan tiada guna

___Ilmu agama yang tinggi tidak menjamin seseorang mempunyai adab untuk menghargai orang lain. Holy man is holy shit. Semua sama saja bagiku.___


Bangku kantin ini terasa sangat nyaman. Kantin ini juga sangat nyaman. Tempatnya sedikit tersembunyi. Menjorok ke dalam. Bermaksud tongkrongan para mahasiswa tidak terlihat bergerombol. Keadaan hari ini pun juga sangat nyaman. Hanya ada beberapa mahasiswa di sini. Aku bisa tebak, mereka introvert sepertiku. Karena beberapa mahasiswa itu duduk sendiri-sendiri dengan jarak beberapa meja di antara mereka. Pun dengan dudukku.

Aku menunggu sahabatku Rama yang sedang menyelesaikan administrasi pembayaran sampai akhir semester. Duduk di sini ditemani kipas angin yang putarannya menimbulkan kegaduhan. Mirip suara mesin getek. Berderu. Menusuk-nusuk gendang telinga. Serasa mau pecah.

“Angga,” panggil Rama saat masuk ke dalam kantin. Semua mata tertuju pada Rama yang meneriaki namaku. Suaranya bersaing dengan suara kipas angin.

Aku melihat ke arahnya. Melambaikan tanganku setinggi bahu. Rama menghampiri dan duduk di depanku.

“Administrasi lu udah selesai?”

“Udah. Udah gue lunasin sampe semester akhir.”

“Baguslah Ram, biar lu tenang. Nih kopi lu udah gue pesenin”, sodorku ke Rama menggeser segelas kopi ke depannya.

Aku kembali konsen ke laptopku. Mengerjakan tugas yang hampir dateline. Aku tidak mau menyepelekan tugas semester tujuh ini. Seperti tekadku ingin cepat menyelesaikan kuliah ini. Aku sedang semangat-semangatnya. Seperti ada sesuatu yang mendorongku dari dalam untuk membuktikan sesuatu ke orang-orang yang sudah meremehkanku.

“Angga,” tubuh Rama mendekatkan diri padaku. Sepertinya ia akan membisikkan sesuatu ke telingaku

“Kenapa Ram?” tanyaku penasaran

“Lu beneran udah ngga mau terima orderan lagi?” tanya Rama penasaran

“Iya Ram. Gue udah janji sama ibu.”

Aku diam sejenak. Mencoba mencerna lebih dalam perkataan sahabatku itu.

“Gue udah janji sama ibu Ram. Dia ngga marah setelah tau gue begini. Itu aja udah bikin gue bersukur. Dan ibu gue minta berhenti kerja seperti ini."

“Lu ngga tergiur. Ini bayarannya gede Angga. Dia minta kita melayani berdua.”

“Berdua? Memang dia mau bayar berapa satu orang?”


“Dua puluh lima," jawab Rama sembari jarinya membentuk huruf V.


Aku berpikir keras. Angka yang tidak sedikit. Bisa buat tabunganku. Membelikan Alvian handphone baru. Kasian adikku, handphonenya sudah jadul.

“Ayolah Angga,” rengeknya seperti anak kecil yang minta dibelikan jajanan. Aku masih diam. Belum mengambil keputusan. Iya atau tidak. “Gue lagi butuh nih Angga, tabungan buat bayar ujian sama wisuda.”

“Buat bayar ujian sama wisuda?. Emngnya lu ngga punya uang tabungan lain Ram.”

Rama mengeleng-gelengkan kepalanya. Lantas memijat-mijat kepalanya yang tidak sakit. Hanya stres yang dirasakannya. Kasian sekali melihat wajahnya. Aku selalu tidak tega kalau melihat hal begini. Di hadapanku langsung.

“Lu tau kan Angga. Tanggungan gue banyak. Adik gue ada tiga. Gue juga ngontrak kaya lu. Itu aja gue ambil kontrakan yang murah.”

Sedih dengar teman sendiri mengalami kesu;itan seperti ini. Kesulitan yang pernah aku rasakan sejak masa kanak-kanak.

“Kapan?” tanyaku dengan satu kata yang bukin matanya berbinar

Lihat selengkapnya