BAB 36
Bangku kantin ini terasa sangat nyaman. Kantin ini juga sangat nyaman. Tempatnya sedikit tersembunyi. Menjorok ke dalam. Bermaksud tongkrongan para mahasiswa tidak terlihat bergerombol. Keadaan hari ini pun juga sangat nyaman. Hanya ada beberapa mahasiswa di sini. Aku bisa tebak, mereka introvert sepertiku. Karena beberapa mahasiswa itu duduk sendiri-sendiri dengan jarak beberapa meja di antara mereka. Pun dengan dudukku.
Aku menunggu Rama yang sedang menyelesaikan administrasi pembayaran sampai akhir semester. Duduk di sini ditemani kipas angin yang putarannya menimbulkan kegaduhan. Mirip suara mesin getek. Berderu. Menusuk-nusuk gendang telinga, serasa mau pecah.
“Angga,” panggil Rama saat masuk ke dalam kantin. Semua mata tertuju pada Rama yang meneriaki namaku. Suaranya bersaing dengan suara kipas angin.
Aku melihat ke arahnya. Melambaikan tanganku setinggi bahu. Rama menghampiri dan duduk di depanku.
“Administrasi lu udah selesai?”
“Udah. Udah gue lunasin sampe semester akhir.”
“Baguslah, Ram, biar lu tenang. Nih kopi lu udah gue pesenin," sodorku ke Rama menggeser segelas kopi ke depannya.
Aku kembali konsen ke laptopku. Mengerjakan tugas yang hampir dateline. Aku tidak mau menyepelekan tugas semester tujuh ini. Seperti tekadku ingin cepat menyelesaikan kuliah ini. Aku sedang semangat-semangatnya. Seperti ada sesuatu yang mendorongku dari dalam untuk membuktikan ke orang-orang yang sudah merendahkanku.
“Angga,” tubuh Rama mendekatkan diri padaku. Sepertinya ia akan membisikkan sesuatu ke telingaku.
“Kenapa, Ram?” tanyaku penasaran.
“Lu beneran udah ngga mau terima orderan lagi?” tanya Rama memastikan.
Aku diam sejenak. Mencoba mencerna lebih dalam perkataan sahabatku itu.
“Gue udah janji sama ibu, Ram. Dia ngga marah setelah tau gue begini. Itu aja udah bikin gue bersukur. Dan ibu gue minta berhenti kerja seperti ini."
“Lu ngga tergiur. Ini bayarannya gede, Angga. Dia minta kita melayani berdua.”
“Berdua? Memang dia mau bayar berapa satu orang?”
“Dua puluh lima," jawab Rama sembari jarinya membentuk huruf V.
Aku berpikir keras. Angka yang tidak sedikit. Bisa buat tabunganku. Membelikan Alvian handphone baru. Kasian adikku, handphonenya sudah jadul.
“Ayolah, Angga,” rengeknya seperti anak kecil yang minta dibelikan jajanan. Aku masih diam. Belum mengambil keputusan. Iya atau tidak. “Gue lagi butuh nih Angga, tabungan habis buat bayar ujian sama wisuda.”
“Buat bayar ujian sama wisuda?. Emngnya lu ngga punya uang tabungan lain, Ram.”
Rama mengeleng-gelengkan kepalanya. Lantas memijat-mijat kepalanya yang tidak sakit. Hanya stres yang dirasakannya. Kasian sekali melihat wajahnya. Aku selalu tidak tega kalau melihat hal begini. Di hadapanku langsung.
“Lu tau kan l, Angga. Tanggungan gue banyak. Adik gue ada tiga. Gue juga ngontrak kayak lu. Itu aja gue ambil kontrakan yang murah.”
Sedih dengar teman sendiri mengalami kesulitan seperti ini. Kesulitan yang pernah aku rasakan sejak masa kanak-kanak.
“Kapan?” tanyaku dengan satu kata yang bikin matanya berbinar seketika.
“Nanti malam.”
“Ah gila lu, Ram."
Segelas kopi tersenggol dan tumpah saking kagetnya aku mendengar jawaban Rama.
“Kenapa, Angga?”
“Kok mendadak banget?”
“Udah dari dua minggu yang lalu. Waktu itu gue langsung iya aja. Gue pikir bisa dapetin orang lain, kayak lu ajak gue. Tapi ternyata gue susah ajak orang.”
Aku mendengus. Tidak kesal. Tidak marah. Hanya mendengus saja. Karena aku sudah tidak berniat tercebur lagi ke dunia yang membuatku kehilangan calon belahan jiwa. Tapi melihat sahabatku Rama dengan wajah memelasnya, membuat bentengku yang kokoh terkoyak-koyak. Tidak bisa menahan ajakannya. Bukan karena uang. Tapi karena persahabatanku dengannya yang semakin kuat. Saling merasakan penderitaan masing-masing saat kami kesulitan ekonomi yang memaksa kami beberapa kali mangambil cuti kuliah. Meskipun persahabatan kami baru dimulai ketika kami menjadi satu angkatan di awal semester tujuh ini.