BAB 37
Siang menjelang sore. Mustafa dan Ryan telah selesai meeting dengan Sam. Meeting yang membahas kelanjutan proposal dengan pihak Investor. Selasai meeting Sam meminta izin pada Mustafa untuk mengajak jalan-jalan Nadia. Biar bagaimanapun Mustafa adalah kakak tertua Nadia, jadi izin padanya adalah suatu keharusan.
Alasan makan malam dan ingin dekat dengan Nadia menjadi perkataan yang meyakinkan. Sebenarnya tanpa alasan tersebut, Mustafa sudah menyetujuinya. Karena ia dan Ryan yang bersikeras menjodohkan Nadia dengan Sam.
“Tumben dia pake izin dulu," bisik Ryan
Mustafa menyikutnya. Sam belum melangkah keluar dari ruang kerja Mustafa.
“Liat-liat kalo ngomong. Orangnya masih ada apa ngga," bentak Mustafa setelah menutup pintu ruangannya.
“Ya maaf keceplosan.”
“Udah lah aku mau makan. Kamu mau ikut ngga?”
“Ya ikutlah. Aku malas nyuruh OB beli makanan. Makanan sekitar sini ngga ada yang enak.”
Disuruhnya sekertaris untuk membereskan berkas-berkas yang masih berserakan di atas meja ketika Mustafa dan Ryan keluar dari ruang kerjanya.
Gerungan suara mobil memekikkan telinga membisingkan seantoro parkiran. Terlihat sekali dari cara mengendarai mobilnya, tidak ada rasa menghargai pegawai dibawahnya. Sikap angkuh Mustafa sudah dikenal di kalangan pegawai pabrik. Sikap semena-mena Ryan juga diketahui seluruh pegawai. Hampir seluruh karyawan tidak mau berurusan dengan kedua orang ini.
Keluar dari pabrik garmen mencari restauran untuk makan siangnya yang sudah terlambat. Akhirnya mendapati tempat makan di pinggiran Jakarta. dibekali kartu kredit dari perusahaan sebagai salah satu fasilitas untuk mereka berdua. Dapat digunakan untuk keperluan operasionalnya sehari-hari.
Sinar matahari masih menyengat kuat di sore hari ini. Di jam lima. Sam masih setia menunggu Nadia. Menepikan mobilnya di pinggir jalan tidak jauh dari pintu gerbang kampus Nadia. Di tatapnya terus gerbang kampus. Tidak ingin melewatkan sedetikpun dari pandangan pintu keluar tersebut. Takut terselip Nadia diantara mahasiswa lainnya yang berjalan keluar.
Seikat mawar putih berjumlah dua puluh satu sudah disiapkannya. Tidak ada hal istimewa dari perasaannya dengan jumlah tangkai tersebut, hanya Sam menganggapnya jumlah tersebut bisa mewakili perasaan Nadia yang beberapa hari lagi akan berulang tahun yang ke dua puluh satu. Jadi jumlah tangkai mawar putih tersebut sebagai pengingat Nadia akan hari terspesial setiap tahunnya. Dan Sam sudah menyiapkan kado istimewa di hari ulang tahunnya.
Sesosok gadis yang ditunggu-tunggunya sudah terlihat berjalan keluar. Sam buru-buru keluar dari dalam mobilnya. Melangkah tanpa bersuara mendekati gadisnya.
“Kalau kamu menunggu seseorang yang kamu cintai datang menjemput, maka waktu kamu akan sia-sia." Suara bariton dibelakang mengagetkannya.
Nadia membalikkan badannya. Sam sudah berdiri disana dan menutup wajahnya dengan seikat mawar putih berjumlah dua puluh satu.
Lalu perlahan diturunkannya seikat mawar putih itu. “Tapi kalau kamu menerima orang yang telah menunggumu sekian waktu, maka waktumu tidak akan terbuang percuma."
Nadia tersenyum. Ia melihat jiwa Anggara di diri Sam. Puitis nan romantis. Itulah yang disukainya. Dan jiwa puitis nan romantis itu yang telah membuatnya jatuh cinta pada sosok pemuda blasteran Amerika.
Dan benarkah Sam sudah merubah dirinya menjadi orang yang lebih baik. Waktulah yang akan selalu mengatakan hal yang sebenarnya.
Sam memberikan mawar itu. Nadia menerimanya. Dengan senyum dipaksakan. Sam mengajaknya masuk ke mobil sport dengan ikon kuda jingkraknya. Mobil sport berwarna kuning yang berharga miliaran itu menjadi pusat perhatian banyak mahasiswa. Dan Nadia dianggap sebagai gadis beruntung. Bagaikan seorang putri yang dijemput pangeran tampan berkuda.
*
“Ram. Ngemall yuk," ajak Anggara setelah mata kuliahnya selesai.
“Mall mana Angga?”
“Di daerah blok m aja”