BAB 38
Disapu wajahnya dengan kedua telapak tangan yang baru selesai berdoa. Ada harapan terbaik dari doa yang sudah dipanjatkannya. Dia tidak lagi memaksa permintaan yang menurutnya baik. Tidak lagi memaksakan seseorang yang dulu selalu ia sebut namanya. Di setiap doanya. Tetapi dia menyerahkan semuanya pada penguasa alam semesta. Menyerahkan alur hidupnya. Membiarkan sang pencipta mengatur takdir yang harus ia jalani dengan ikhlas.
Dilepas mukenanya. Lalu dilipat sajadah dan di sampirkan ke kursi. Serantai tasbih berwarna biru muda terarsir abstrak berwarna putih ditaruh di atas meja dekat jendela. Diminumnya air putih di dalam gelas bening sisa semalam.
Ia memandang kosong ke dinding bercat offwhite. Melamun. Lamak-lamat terdengar suara krasak krusuk di luar kamarnya. Suara seperti orang-orang tengah berbisik.
Dibuka pintunya. Dan...
“HAPPY BIRTHDAY...”
Tersenyum lebar menyambut. Papah, Mamah dan kedua kakaknya memberikan kejutan di usia ke dua puluh satu tahunnya. Ada rasa bahagia ketika melihat semua anggota keluarganya berkumpul merayakan hari lahirnya. Terlihat mereka ikut bahagia atas perjalanan usianya sampai hari ini. Semua sudah membaik. Seperti yang diharapkan bu Indah dan pak Surya.
Mustafa memegang kue ulang tahun coklat berdiameter dua puluh senti meter dengan tiga layer krim tiramisu di tengahnya. Di atas kue ulang tahun tersebut terdapat cake topper bunga mawar yang mengisi penuh setengah bagian. Di sebelahnya ada sekeping coklat berbentuk love dan bertuliskan “Happy Bday 21 thn Nadia” dan tiga buah lilin panjang yang sudah dinyalakan.
Terharu. Namun menahan tangisan. Pernah merasakan terpuruk. Tapi keluarga tetap bersamanya. Walaupun sebelumnya berseteru dengan kedua kakaknya. Tapi di saat ini mereka bersamanya.
“Make a wish," ucap Ryan sebelum Nadia meniup lilinnya.
Gadis itu memejamkan matanya. Menyematkan sebaris doa di dadanya. Diucapkan dengan penuh penghayatan di lubuk hati terdalamnya. Agar doa tersebut teresapi dan memuai ke langit.
Ditiupnya tiga lilin yang apinya bergoyang-goyang tertiup hembusan AC kamarnya yang belum dimatikan. Nadia menangis haru. Buliran cairan bening keluar dari matanya. Kali ini tidak menangisi seseorang yang membuat dadanya sesak bagaikan dihantam kepala martil. Tapi dia menangis karena bahagia. Ini kejutan pertama dari keluarganya, di ulang tahunnya yang dia rasakan. Hingga usia dua puluh tahun, Nadia belum pernah mendapatkan kejutan. Sederhana namun bermakna.
Bu Indah memeluknya. Mendoakan putri sambungnya mendapatkan keberuntungan sepanjang hidupnya. Pak Surya menciumnya, memberikan ucapan selamat dan memohon maaf karena tidak bisa mempertemukan ibu kandungnya ketika masih hidup. Lalu bergantian Mustafa dan Ryan yang memberikan ucapan selamat. Kedua kakaknya juga memberikan doa kepada adik perempuan satu-satunya itu.
“Makasih ya mah, pah. Makasih juga kak Mus dan kak Ryan. Nadia tidak tahu harus bicara apa," ucapnya sambil menyeka air matanya yang masih meleleh di pipinya yang mulus bak batu pualam.
“Iya Nad. Sama-sama ya. Kehadiran kamu sudah memberikan arti buat mamah. Selamat ya sekali lagi.”
“Papah juga mengucapkan terima kasih ke kamu. Usia kamu sekarang dua puluh satu tahun. Itu artinya kamu semakin dewasa. Sudah bisa memilah-milah mana yang benar."
“Iya pah."
“Mmmm hari ini kita mau kemana?, Kita rayakan di mana?” tanya Mustafa memecah pembicaraan yang serius
“Bagaimana kalau kita ke villa. Kita pinjam saja villanya Sam,” imbuh Ryan.
“Ya enaknya sih memang di luar kota. Tapi ke daerah sentul itu macet kan," tutur bu Indah memberikan pendapatnya.
“Macet sih mah pasti. Tapi kita kan nginap di sana. Eh ngomong-ngomong, kita belum beri kabar ke Sam," jawab Ryan
Nadia tidak memberikan reaksi apapun. Dia hanya berdiri mendengarkan keluarganya berdiskusi. Gadis cantik berhijap itu hanya mengikuti kemauan keluarganya. Sebenarnya ia hanya lelah berdebat. Yang diinginkan hanyalah hidup damai.
Kemudian Ryan menelepon Sam. Memberitahukan kalau mereka ingin menginap di villa milik lelaki kaya raya itu. Tanpa sepengetahuan keluarga Nadia, ternyata Sam sudah berada di depan rumah mereka. Ingin memberikan kejutan pada Nadia.
“Nad. Kamu ke depan gerbang gih.”
“Ada apa kak?”
“Ee, kamu bisa lihat sendiri aja," senyum Ryan menatap Nadia.
Penasaran. Nadia keluar. Sesuai anjuran Ryan. Ia menemui Sam yang sudah menunggunya.
*
Sebuah ucapan selamat ulang tahun telah dikirim sejak pukul tiga pagi. Ucapan selamat ulang tahun pertama untuk gadis yang sudah tidak menjadi kekasihnya lagi. Ucapan berbentuk puisi yang dipikirkan sejak satu minggu menjalin hubungan asmara. Dituangkan ke dalam sebuah buku yang terisi banyak tulisan indah. Beberapa baris tulisan yang telah dibuatnya untuk hari istimewa sang gadis yang kini tinggal kenangan.
Namun, tulisan itu tetap dikirimnya. Pantang baginya sudah membuat rencana namun dibatalkannya. Sungguh, Anggara bukan laki-laki seperti itu. Ia akan tetap memenuhi janjinya pada hatinya sendiri. Mengirimkan puisi cintanya.
Kefakiran Cinta
Fajar dan Senja...
Dua keadaan yang tidak mungkin bersatu
Karena keduanya tidak pernah bisa menyatu
Walau keinginan itu sangat kuat
Fajar dan Senja...
Dua keadaan yang sangat berbeda
Yang satu mengawali sebuah kisah
Yang satu lagi mengakhiri kisah yang telah dimulai