TULUS

hadi wiyono
Chapter #39

MAHKOTA

BAB 39


Tatapan tajam tak henti menguliti gadis itu dari kepala hingga kaki. Matanya mendelik dengan seringai senyuman iblis yang telah menguasai jiwanya. Gigi-giginya bergemerutuk keras menahan hasrat yang dipendamnya selama ini. Seluruh anggota tubuhnya menegang seolah ingin menerkam sesuatu.

Nadia terus melangkah mundur. Merasakan aura negatif yang keluar dari wajah Sam yang dalam beberapa minggu ini berperilaku sangat meyakinkan keluarganya. Apakah Sam sedang berkamuflase selama ini. Atau dia menggunakan topeng berwajah malaikat untuk menutupi wajah iblisnya.

“Sam, mau apa kamu?” tanyanya dengan suara bergetar. Langkahnya terpaksa berhenti. Tubuhnya sudah tersudut dinding kamar. Tidak bisa mundur lagi. Gadis cantik berhijab itu ketakutan.

“Sam. Berhenti di situ!!” teriak Nadia. Suaranya tercekat. Teriakannya tertahan. Tidak menyangka akan menghadapi situasi sulit ini.

“Kamu tahu Nadia. Aku sudah terlalu sabar menghadapimu. Aku sudah muak padamu. Aku hanya dianggap sebagai pelarian cintamu saja," ucapnya keras. Bola matanya memerah.

“Maksud kamu apa Sam?” tanya Nadia semakin ketakutan. Namun Sam malah menikmati ketakutan Nadia. Sam semakin mendekat. Ia melepas satu persatu kancing kemejanya

“Kamu jangan pura-pura bodoh Nadia. Kamu masih mencintai Anggara kan. Dan aku hanya sebagai pelarian kamu saja. Kamu tidak benar-benar mencintaiku.”

Kini jarak keduanya hanya tinggal dua langkah saja.

“Tolong Sam kamu dengar aku dulu. Rasa cinta aku ke Anggara sudah hilang. Sekarang cintaku buat kamu Sam.”

“Bohong kamu!”, bentak Sam. Tangannya menunjuk wajah Nadia. Suaranya menggelegar. Bergema di setiap sudut rumah.

“Benar Sam. Aku ngga bohong, kamu lihat kan sikap aku ke kamu, bagaimana beberapa minggu terakhir ini,” ucap Nadia berusaha meyakinkan Sam.

“Sudahlah Nadia. Aku tidak percaya. Mari kita nikmati saja malam ini,” balasnya.

Maju selangkah. Maju lagi selangkah. Kini Sam sudah sangat dekat, Nadia semakin ketakutan. Mulutnya komat kamit. Dia membaca ayat-ayat yang diingatnya. Berdoa. Nadia ingin berteriak sekencang-kencangnya. Tapi dia tahu kalau villa ini berlokasi jauh dari keramaian. Gadis itu sudah menyadarinya sejak kedatangan tadi.

“Kamu berdoa? Hahahha. Dengar ini Nadia.” Tiba-tiba tangannya mencengkeram rahang gadis itu. membungkam mulutnya. “Tuhan kamu tidak akan mendengar doamu saat ini. Nasibmu ada ditanganku.”

Sam tertawa. Tangannya tak lepas mencengkeram rahang Nadia. Dan dengan sekejap saja. Ia mencium paksa bibir gadis itu.

Nadia memaksa melepaskan diri dari perbuatan tak senonoh Sam. Dia menampar keras pipinya. Bunyi tepakannya nyaring menggema seisi ruangan. Bukannya mengurungkan niatnya tapi Sam malah semakin tertantang. Dia tarik tubuh Nadia dan didekap paksa. Lalu Sam melemparkannya ke tempat tidur.

“Kamu tahu arti sesungguhnya mawar merah yang ku beri.” Sam mulai melepaskan kemeja dan celananya. Kini hanya menyisakan kaus oblongnya saja. “Arti sesungguhnya mawar merah itu adalah kamu telah membuatku semakin bergairah.”

Nadia merengek. Memohon agar dirinya tidak disentuh. “Tolong Sam jangan lakukan ini sama aku. Sekarang aku sungguh- sungguh mencintai kamu."

“Aku tidak peduli lagi sama kamu Nadia. Aku hanya ingin merasakan kehangatan tubuhmu. Tidak untuk menikahimu. Kalau aku ingin mencari istri bukan wanita dengan model seperti kamu. Kamu itu membosankan."

Nadia akhirnya berteriak sekencang-kencangnya ketika Sam mulai merangkak naik ke atas tempat tidur. Sekali lagi dia tahu kalau teriakannya akan sia-sia. Tapi inilah cara terakhir untuk meminta bantuan. Berharap ada yang mendengar dan menolongnya.

Tapi Sam tidak peduli pada teriakan Nadia. Ia tetap melanjutkan aksinya. Sam yang benar-benar sudah dikuasai keinginan duniawi merobek-robek pakaian Nadia. Laki-laki kaya raya itu melakukan rudapaksa pada seorang guru ngaji yang selalu menjaga kehormatannya. Tapi kali ini kehormatannya direnggut paksa oleh laki-laki yang telah dicintainya itu.

Nadia hanya menangis. Ia tidak sanggup melakukan perlawanan karena tenaga Sam yang kuat. Ia menyesal atas kepercayaannya yang pada Sam. Menyesal telah jatuh cinta padanya. kini penyesalan itu tidak berguna sama sekali. Musibah terbesar dalam hidupnya akan dialaminya malam ini. Musibah dari seorang gadis suci. Seorang guru ngaji. Kejadian yang tidak pernah terpikirkannya sama sekali. Bahkan negative thingking pun tidak pernah telintas di benaknya,

*

“Mus,” bu Indah keluar dari kamarnya. Mendapati Mustafa tengah duduk sendiri di ruang tengah villa tersebut. Sedangkan Ryan sedang menikmati suasana malam di depan, yang di bagian samping bawahnya mengalir tenang aliran sungai.

“Ya mah. Kenapa?”

“Ini sudah mau jam dua belas. Nadia sama Sam belum kembali.”

Mustafa melihat jam dinding. Sepuluh menit lagi jam dua belas tepat. Nadia belum kembali. Ada rasa khawatir pada adiknya, mengingat hubungan mereka sudah membaik belakangan ini.

“Dia kan sama Sam mah. Mungkin sedang jalan kemari. Jalanan juga mungkin macet mah."

“Ini sudah hampir tengah malam mus. Tidak mungkin jalanan masih macet.”

Ryan kembali masuk ke dalam. Karena suasana yang hening, percakapan antara mamah dan kakaknya terdengar keluar.

“Ada apa?, suara mamah sampai terdengar keluar.”

“Ryan, ini mau jam dua belas. Nadia dan Sam belum kembali. Mamah khawatir."

Ryan melihat jam di tangannya. Benar sekali. Tinggal delapan menit lagi menuju jam dua belas malam.

“Coba aku telepon Sam,” ujar Ryan. Dicari di daftar kontak handphonenya nama Sam. lalu ia menelepon pria yang menjadi atasannya itu.

“Aku telepon Nadia,” sahut Mustafa.Nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan. Silahkan menghubungi beberapa saat lagi.

“Nomor Sam tidak aktif mah."

“Coba lagi Ryan," ucap bu Indah cemas

Ryan mencoba lagi sampai beberapa kali. Tapi suara operator terdengar sama. Sama halnya dengan Mustafa, beberapa kali menghubungi Nadia namun tidak angkat. Meskipun terdengar nada sambung dari handphone adiknya.

“Gimana nih mah?" tanya Ryan

“Ada apa," pak Surya terbangun dari tidurnya setelah mendengar keributan kecil. Lantas Mustafa menjelaskan kalau Nadia bersama Sam belum kembali.

“Mungkin sedang jalan kemari. Mungkin handphonenya Sam mati. Trus Nadia tertidur di mobil jadi tidak diangkat,” ucap pak Surya seraya bangun dan membasahi tenggorokannya dengan segelas teh yang telah mendingin.

“Tapi tumben sekali Nadia seperti ini pah. Dia tidak pernah di luar rumah sampai selarut ini.” Bu Indah meyakinkan suaminya. Dan juga kedua anak laki-lakinya.

Lihat selengkapnya