TULUS

hadi wiyono
Chapter #40

PENYESALAN

BAB 40


Hijabnya yang tersingkap tidak dipedulikan lagi oleh Mustafa. Laki-laki itu mengangkat cepat tubuh Nadia. Menggendongnya. Kemudian melarikannya ke bawah. Ryan bergerak cepat mengambil tas dan handphone Nadia. bahkan ia menarik paksa sprei bernoda kesucian sang adik dan membawanya.

Pelan Mustafa menuruni tangga. Disusul oleh Ryan. Bahkan mendahului langkah cepat Mustafa saat menuruni tangga. Berjaga-jaga agar Mustafa tidak terhelincir. Atau terjatuh. Mereka terus berlari keluar.

“Ryan. Kunci mobilnya di kantungku. Kamu yang bawa."

Ryan langsung merogoh kantung saku celana Mustafa dan menemukan kunci di dalamnya. Segera di ambil dan ia berlari lebih dahulu menuju mobilnya.

Setelah menekan tombol pada keycar, Ryan membuka pintu belakang mobil. Mustafa membawa masuk Nadia. Duduk di kursi belakang. Disandarkan kepala Nadia di pangkuannya. Ryan berlari ke depan. Ke belakang kemudi. Setelah seatbelt terpasang, dia memacu secepat kilat mobil tersebut.

Jalanan di hampir jam tiga pagi sudah seperti kampung mati tak berpenghuni. Ryan tidak menemui kendala dalam mengendarai mobil Mustafa. Mobil dinas yang diberikan kantornya di pabrik garmen Milik Sam.

Tidak ada sumpah serapah. Ryan hanya fokus mengendarai mobilnya. Berharap secepatnya sampai di rumah sakit di daerah Sentul, agar kedua orang tuanya tidak kesulitan menjenguk Nadia nantinya.

Mobilnya memasuki area parkir rumah sakit yang tidak besar bangunannya. Ryan langsung keluar dan meminta security yang berjaga di depan ruang IGD membawakan tempat tidur dorong. Nadia masih belum sadarkan diri ketika dikeluarkan dari dalam mobil. Mustafa dan security dengan sigap membawa ke dalam ruang IGD sementara Ryan memarkirkan mobilnya.

“Gimana kak?. Nadia sudah di dalam?”

“Sudah Ryan. Sedang ditangani dokter IGD ”

“Sialan tuh Sam! Apa yang dilakukannya ke Nadia!. Seandainya terjadi apa-apa, aku tidak bisa tinggal diam kak,” gerutu Ryan

Ryan sangat marah melihat Nadia tidak sadarkan diri seperti itu. Nadia telah mengalami kekerasan fisik. Mungkin juga kekerasan psikis. Ditambah pendarahan yang dialaminya.

“Kak. Apa Nadia di rudapaksa Sam?” tanya Ryan hati-hati. Dia pun menggunakan kata yang sopan karena ada beberapa keluarga pasien lain sedang menuggu di depan ruang IGD.

“Aku pikir juga begitu Ryan."

“Apa kita perlu lapor ke polisi."

“Kita pikirkan itu nanti. Kita diskusi sama papah, mamah. Kita juga tunggu reaksi Nadia setelah dia siuman. Aku punya rencana terhadap pabrik garmen itu.”

“Kak Mus punya rencana apa?”

“Kalau Nadia sudah di pindahkan ke ruang rawat. Dan sudah ditunggui. Kita langsung ke pabrik garmen.”

Ryan setuju dengan usulan Mustafa. Dia percaya rencana Mustafa akan menjadi rencana yang baik untuk masa depan.

“Ini salah kita Ryan. Kita terlalu berambisi menjodohkan Nadia dan Sam akhirnya jadi seperti ini.”

“Iya kak. Aku juga merasa bersalah. Jadi ruwet gini urusannya. Aku pikir akan mudah.”

“Dan kita sudah mengorbankan Nadia. Karena kita pikir niat Sam tulus mau menikahi adik kita."

Perawat dari ruang IGD keluar meminta Mustafa dan Ryan untuk mendaftar ke bagian administrasi.

“Kak, sudah mau jam empat pagi. Sebaiknya aku pulang. Kasih tahu mamah sama papah. Mereka sedang khawatir sekarang.”

“Iya Ryan hati-hati ya. Aku rasa di jalan sudah ada banyak orang beraktivitas. Biar aku yang urus semuanya di sini."

Sebelum Ryan meninggalkannya, Mustafa membisiki sesuatu. Ada hal penting yang perlu disampaikannya kepada adik laki-lakinya itu.

Ryan mengangkat jempolnya. Menandakan setuju dengan sesuatu yang dibisiki oleh Mustafa. Ia kembali ke villa di daerah Sentul dimana kedua orang tuanya masih berada di sana.

*

Suara orang mengaji di mesjid terdengar sangat jelas. Aku yang baru tertidur sejam yang lalu terbangun. Menggeliatkan tubuh. Meregangkan otot-ototnya yang kaku. Pegal. Karena tidurku yang sebentar.

Lihat selengkapnya