TULUS

hadi wiyono
Chapter #41

NEGOSIASI

BAB 41


Rumah mewah. Mobil mewah. Ornamen mewah. Furnitur mewah. Fasilitas mewah. Semuanya kelas atas. Kelas konglomerat. Bahkan harga rumahnya saja tanpa sesuatu apapun di dalamnya bisa diatas dua puluh miliar rupiah. Belum lagi barang-barang yang mengisi tiap sudut rumahnya.

Rumah Pak Sumitro dan Bu Shayne seperti rumah besar namun seperti tak berpenghuni. Hanya pekerja di rumahnya saja yang kerap terlihat berseliweran. Jarang sekali keluarga itu menempati kediamannya. Rumah ini hanyalah satu dari rumah-rumah yang dimiliki keluarga kaya raya ini. Termasuk vila yang belum jadi di kawasan sentul.

Mustafa dan Ryan sudah berada di depan gerbang setinggi dua setengah meter. Ryan yang duduk di bangku penumpang turun menyapa petugas keamanan yang berjaga.

“Maaf, Pak. Bapak Sumitro dan Bu Shayne ada di rumah?”

“Bapak sudah ada janji dengan bapak atau ibu?" Petugas keamanan itu tak menjawab pertanyaan Ryan, malah bertanya balik

“Belum, Pak. Tapi saya ini Direktur salah satu perusahaan Pak Sumitro.”

Ryan sengaja tidak menyebutkan di perusahan mana diriya bekerja. Dan dia juga tidak menyebutkan ada hubungan sedarah dengan Nadia.

“Saya tanya bapak dulu ya," ucap petugas keamanan itu masuk kembali ke dalam pos jaganya. “Oke, Pak." Ryan menghampiri Mustafa yang duduk di belakang kemudi.

“Gimana?” tanya Mustafa tak sabar padahal kaca mobil belum sepenuhnya turun.

“Dia mau izin Pak Sumitro. Berarti dia sedang ada di rumah ”

“Kamu ngga tanya, Sam ada atau tidak?”

“Ngga, Kak. Lupa aku."

Sebentar saja petugas itu berizin pada Ryan untuk meminta izin pada bossnya. Sekarang sudah keluar dari dalam posnya. Petugas jaga itu kembali berjalan ke depan gerbang.

“Ryan, dia balik tuh,” ujar Mustafa sambil menunjuk petugas keamanan yang mengarah ke mereka. Ryan berbalik.

“Gimana, Pak?” tanya Ryan.

“Silahkan, Pak. Sudah diizinkan masuk," jawab tegas petugas keamanan.

Ryan segera masuk ke dalam mobil sementara petugas keamanan itu kembali ke pos menekan tombol untuk membuka pintu gerbang.

“Ryan kita harus siap sama segala kemungkinan. Kita bawa semua perlengkapan perang. Saya yakin di dalam ada tombol alarm untuk keadaan bahaya."

“Benar, Kak. Pokoknya kita harus hati-hati. Kalau sampai dia menelepon kepolisian, kita viralkan pemerkosaan Nadia. Aku geram banget sama Sam." ucapnya mengepalkan tangan.

“Kak, mobil ini hadapkan ke arah gerbang. Kalo ada apa-apa kita ngga perlu memutar lagi.”

“Beres!”

Turun dari mobil langsung masuk ke dalam rumah mewah itu. Tanpa melihat lagi kanan kiri. Mereka masuk ke ruang di mana Pak Sumitro dan Bu Shayne sudah menunggu.

“Silahkan, Pak, sebelah sini," ujar asisten rumah tangga sambil menggiring keduanya. Melewati koridor rumah yang seperti lorong hotel kelas sultan, mata Ryan tak berhenti berdecak kagum. Kaca-kaca yang terbuat dari kristal yang dipasang membentuk pola deksagram melapisi dinding-dinding kokoh. Lampu-lampu gantung di langit-langit sepanjang koridor semakin menambah elegan salah satu bagian dalam rumah ini.

Bayangan ketiga orang yang tengah berjalan menuju satu ruangan saling terpantul di kaca-kaca itu. Menjadi banyak bayangan. Mustafa merasa seperti berjalan di lorong rumah sakit yang sepi dan sempit. Karena koridor ini hanya seluas satu meter saja. Mungkin memang sengaja dibikin seperti itu.

Asisten rumah tangga itu mengetuk sopan pintu satu-satunya ruangan yang ada di koridor ini. Suara berat dari dalam ruangan menjawab singkat.

“Pagi, Pak Sumitro," sapa Mustafa hormat. Pak Sumitro tetaplah pemilik dari pabrik garmen tempatnya bekerja, jadi Mustafa tetap menaruh hormat padanya. Beda dengan Ryan, wajah menekuknya sudah ditunjukkan sejak di depan pintu ruangan itu.

“Hei Mustafa, Ryan l, masuk sini, "suara Pak Sumitro menggema dari dalam ruangan pribadi itu. “Bagaimana liburan kalian. Sam mana?” tanya Pak Sumitro.

“Kami tidak tahu dimana keberadaan Sam. Kami sendiri sedang mencarinya," jawab Mustafa.

“Sam tidak bersama kalian?”

“Benar, Pak.”

“Silahkan duduk," imbuh bu Shayne dengan sopannya

“Terima kasih," jawab Mustafa lalu duduk, diikuti Ryan.

“Ada apa kalian datang kesini. Sepertinya ada yang serius.”

“Ini lebih dari serius, Pak," jawab Ryan

“Ya silahkan kalian cerita saja ada apa ini."

“Biar aku saja Ryan yang cerita," ucap Mustafa pada adiknya.

Mustafa tahu emosi adiknya sedang di level paling tinggi. Makanya dia berinisiatif akan menceritakan kejadian yang sudah terjadi. Mungkin kalau ada Sam di ruangan itu, sudah dia bikin babak belur.

“Begini, Pak Sumitro Bu Shayne. Semalam setelah makan malam Sam mengajak Nadia melihat-lihat vila yang belum selesai pembangunannya. Vila yang katanya Sam akan mereka tempati setelah menikah.”

“Oke."

“Tapi lebih dari jam dua belas malam, mereka belum kembali ke vila di Sentul.”

Wajah Pak Sumitro dan Bu Shayne berubah serius saat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Mustafa. Menanti cemas ada kejadian apa setelah jam dua belas Sam dan Nadia belum kembali ke vila. Bu Shayne yang semula terlihat duduk santai bersandar, kini menegakkan tubuhnya.

“Kami mencari-cari keberadaan vila yang belum jadi itu. Ryan mencarinya melalui GPS handphone Nadia yang terdeteksi. Akhirnya kami menemukan vila tersebut. Kami sampai di sana pagi-pagi buta. Dan Bapak tahu apa yang kami temukan disana?”

Pak Sumitro semakin tegang mendengarkan penjelasan Mustafa. Bu Shayne oun tidak melepaskan sedikitpun pandangannya.

Lihat selengkapnya