BAB 42
Bertiga berlari beriringan. Tertampak sedang saling kejar-kejaran. Celinguk kanan celinguk kiri. Melewati selasar rumah sakit yang sulit ditemui ujungnya. Sepertinya hanya jalanan itu-itu saja yang dilaluinya. Mereka kesulitan mencari ruang VIP yang diberitahu pak Surya. Sempat bertanya pada seorang perawat yang sedang terburu-buru. Perawat itu hanya memberikan gambaran jalan yang harus dilalui. Mereka kembali berlari beriringan mencari ruang rawat VIP.
Kecemasan mendera wajah bu Euis. Ia tidak lagi mengingat situasi yang pernah terjadi antara keluarganya dan keluarga Nadia beberapa minggu kebelakang. Bahkan peristiwa di rumahnya malam itu sudah dilupakannya. Fokusnya saat ini mengetahui keadaan Nadia.
“Itu bukan ruang VIPnya," tunjuk Alvian kesebuah ruangan. Tidak jauh dari ruangan itu berjaga dua orang sekuriti sedang duduk di belakang meja. Anggara berlari kecil ke petugas jaga itu. Bertanya ruang VIP yang dimaksud.
“Pasien atas nama siapa pak?” tanya salah seorang petugas jaga tersebut.
“Nadia pak, l" jawab Anggara.
“Nadia siapa?” tanya petugas jaga lainnya.
“Nadia Samudra.”
“Oh iya benar pak. Pasien dirawat di ruang VIP 3. Ini pak tinggal lurus saja. Lalu belok kanan. Ruangannya hanya berjarak satu ruangan dari ruangan paling pojok." Ucap petugas itu sambil menunjuk menggunakan ibu jarinya.
“Baik pak terima kasih."
Mereka memasuki area VIP setelah terlebih dahulu meninggalkan satu kartu identitas pada petugas jaga tersebut. Area VIP ini memang didesain berbeda dengan area lain yang menggunakan kartu fasilitas dari pemerintah. Area ini sangat nyaman. Taman yang dipenuhi tanaman hias dengan bunga-bunga yang cantik berwarna warni menambah kesan bersahabatnya area ini. Belum lagi di tengah-tengah taman terdapat kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Dibuat sedemikian nyamannya sebagai fasilitas agar tingkat stres pasien bisa berkurang.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat Mustafa sedang duduk di kursi dekat pintu. Anggara mendekat cepat. Menyusul bu Euis dan Alvian.
“Kak Mus.”
Mustafa mengenal suara itu. suara pria yang sangat dibencinya. Dia mendongakan kepalanya. Melihat siapa yang telah menyapanya.
“Anggara.”Mustafa langsung berdiri dan memeluk pemuda blasteran itu. Memeluknya erat. Menangis dipelukannya.
“Kak Mus ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Nadia kenapa kak Mus. Ha?!”
Anggara memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup dijawabnya. Tangan kekarnya mencengkeram lengan Mustafa. Anak pertama itu semakin tidak terkendali tangisannya. Anggara terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tbelum bisa dijawabnya.
Kegaduhan kecil memancing Ryan keluar dari dalam. Meninggalkan bu Indah dan Nadia yang masih terbaring lemah di dalam.
“Anggara. siapa yang memberitahu?” tanya Ryan menghentikan tangisan Mustafa.
“Pak Surya yang memberitahu tadi pagi di mesjid. Ada apa sebenarnya Ryan?”
Ryan menarik Anggara ke taman. Dekat kolam ikan terdapat bangku panjang. Ia mengajak Anggara duduk di sana.
“Mustafa. Nadia ada di dalam?” tanya bu Euis penuh kecemasan setelah Mustafa bisa menenangkan dirinya.
“Nadia ada di dalam bu.”
“Saya boleh masuk. Mau menjenguk Nadia.”
“Silahkan bu," jawab Mustafa. Matanya masih berkaca-kaca. Sisa tangisan.
“Vian. Kamu tunggu di luar dulu ya. Ibu masuk ke dalam," ucapnya pada anak keduanya yang dari tadi diam, tidak berbuat apa-apa.
Alvian dan Mustafa berdiri canggung. Tidak berani memandang satu sama lain. Alvian pernah mengancamnya, ketika pria itu mempermalukan Anggara di rumah kontrakannya. Melemparkan kakaknya dengan amplop berisi uang seratus juta yang menjadi mahar untuk Nadia.
Bu Euis masuk. Saat membuka pintu, dia melihat Nadia tengah menangis. Dipeluk oleh bu Indah. Sejenak menyadari keberadaan seseorang di dalam kamarnya, gadis itu semakin membenamkan kepalanya. Bersembunyi di balik tubuh tambun bu Indah.
“Bu Euis, silakan duduk bu," sapa bu Indah.
“Terima kasih bu."
Bu Euis duduk di samping ranjang. Memperhatikan Nadia yang masih menangis di pelukan mamahnya. Sekilas dilihatnya Nadia dalam keadaan berantakan. Tanpa hijab. Bu Euis bisa melihat kalau Nadia sedang terpukul. Depresi. Entah karena apa.
“Nadia sakit apa bu?”
“Sebentar ya bu. Nanti saya jelaskan ke bu Euis.”
Lalu bu Indah merajuk Nadia untuk melepaskan pelukannya. Sedikit kesulitan membujuknya. Karena gadis itu malu melihat kedatangan seorang wanita yang pernah berhubungan dekat dengannya. Wanita yang telah memberikan banyak pelajaran hidup.
“Kamu sapa dulu bu Euis. Beliau sudah datang jauh-jauh ke mari. Masa kamu cuekin seperti ini," ucap bu Indah terus merajuk Nadia. Kemudian Nadia melepaskan pelukannya. Bangun dari pembaringannya. Selanjutnya gadis cantik itu memeluk bu Euis. Kali ini tangisannya makin menjadi. Semakin keras. Terdengar hingga keluar kamar. Bahkan ke tengah taman dimana Anggara dan Ryan sedang berbincang serius. Sempat menghentikan pembicaraannya, kini mereka melanjutkan kembali setelah tidak ada suara tangisan dari dalam ruang rawat.
“Bu. Nadia minta maaf. Nadia banyak salah sama bu Euis. Sama Anggara. Sama Alvian," ucapnya serak. Suaranya sangat pelan hampir tak terdengar. Sepertiya pita suara gadis itu mengalami keausan karena terus menerus menangis setelah tersadar dari siuman.