TULUS

hadi wiyono
Chapter #42

PERTEMUAN PERTAMA SETELAH BREAK UP

BAB 42


Aku bersama ibu dan Alvian berlari beriringan. Tertampak sedang saling kejar-kejaran. Celinguk kanan celinguk kiri. Kami melewati selasar rumah sakit yang sulit ditemui ujungnya. Sepertinya hanya jalanan itu-itu saja yang kami laluinya. Kami kesulitan mencari ruang VIP yang diberitahu Pak Surya. Sempat bertanya pada seorang perawat yang sedang terburu-buru. Perawat itu hanya memberikan gambaran jalan yang harus dilalui. Kami kembali berlari beriringan mencari ruang rawat VIP.

Kecemasan mendera wajah ibu. Ia tidak lagi mengingat situasi yang pernah terjadi beberapa minggu ke belakang. Bahkan peristiwa di rumah kamkmalam itu sudah dilupakannya. Fokusnya saat ini mengetahui keadaan Nadia.

“Itu bukan ruang VIPnya," tunjuk Alvian kesebuah ruangan. Tidak jauh dari ruangan itu berjaga dua orang sekuriti berbaju safari sedang duduk di belakang meja. Aku berlari kecil ke petugas jaga itu. Bertanya ruang VIP yang dimaksud.

“Pasien atas nama siapa, Pak?” tanya salah seorang sekuriti tersebut.

“Nadia, Pak," jawabku terengah-engah.

“Nadia siapa?” tanya petugas jaga lainnya.

“Nadia Samudra.”

“Oh iya benar, Pak. Pasien dirawat di ruang VIP 3. Ini Pak tinggal lurus saja. Lalu belok kanan. Ruangannya hanya berjarak satu ruangan dari ruangan paling pojok." Ucap petugas itu sambil menunjuk menggunakan ibu jarinya.

“Baik, Pak, terima kasih." Aku menganggukan kepala tanda hormatku pada dua sekuriti.

Kaki memasuki area VIP setelah terlebih dahulu meninggalkan satu kartu identitas pada petugas jaga tersebut. Area VIP ini memang didesain berbeda dengan area lain yang menggunakan kartu fasilitas dari pemerintah. Area ini sangat nyaman. Taman yang dipenuhi tanaman hias dengan bunga-bunga cantik berwarna warni menambah kesan bersahabatnya area ini. Belum lagi di tengah-tengah taman terdapat kolam ikan dengan air mancur di tengahnya. Dibuat sedemikian nyamannya sebagai salah satuupaya penyembuhan pasien, agar pikiran pasien lebih tenang.

Dari jarak yang tidak terlalu jauh, terlihat Mustafa sedang duduk di kursi dekat pintu. Aku mendekat cepat. Menyusul ibu dan Alvian.

“Kak Mus.”

Mustafa mengenali suaraku, yang sangat dia benci. Dia perlahan mendongakan kepalanya melihat wajahku.

“Anggara!” Mustafa langsung berdiri dan memeluku. Memeluknya sangat erat. Ia bahkan menangis dipelukanku.

“Kak Mus ada apa? Apa yang sebenarnya terjadi? Nadia kenapa kak Mus. Hah?!”

Aku memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak sanggup dijawabnya. Tangan kekarku mencengkeram lengan Mustafa. Anak pertama itu semakin tidak terkendali tangisannya. Aku terus mencecarnya, menggoyang-goyangkan tubuhnya sambil terus melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang belum bisa dijawabnya.

Kegaduhan kecil memancing Ryan keluar. Meninggalkan Bu Indah dan Nadia yang masih terbaring lemah di dalam.

“Anggara. siapa yang memberitahu?” tanya Ryan menghentikan tangisan Mustafa.

“Pak Surya yang memberitahu tadi pagi di mesjid. Ada apa sebenarnya Ryan?”

Ryan menarikku menjauh dari depan pintu kamar, ke taman. Dekat kolam ikan terdapat bangku panjang. Ia mengajakku duduk di sana.

“Mustafa. Nadia ada di dalam?” sempat kudengar ibu bertanya penuh kecemasan setelah Mustafa bisa menenangkan dirinya.

“Iya, Bu. Nadia di dalam.”

“Saya boleh masuk. Mau menjenguk Nadia.”

“Silahkan, Bu," jawab Mustafa. Matanya masih berkaca-kaca. Sisa tangisan.

“Vian. Kamu tunggu di luar dulu ya. Ibu masuk ke ke dalam."

Kulihat Alvian dan Mustafa berdiri canggung. Tidak berani memandang satu sama lain. Alvian pernah mengancamnya, ketika pria itu mempermalukanku di rumah kontrakannya. Melemparkan aku dengan amplop berisi uang seratus juta yang menjadi mahar untuk Nadia.

Bu Euis masuk. Saat membuka pintu, dia melihat Nadia tengah menangis. Dipeluk oleh blBu Indah. Sejenak menyadari keberadaan seseorang di dalam kamarnya, gadis itu semakin membenamkan kepalanya. Bersembunyi di balik tubuh tambun Bu Indah.

“Bu Euis, silakan duduk, Bu," sapa bu Indah.

“Terima kasih, Bu."

Bu Euis duduk di samping ranjang. Memperhatikan Nadia yang masih menangis dalam pelukan. Sekilas dilihatnya Nadia dalam keadaan berantakan. Tanpa hijab. Bu Euis bisa melihat kalau Nadia sedang terpukul. Depresi. Entah karena apa.

“Nadia sakit apa. Bu?”

“Sebentar ya, Bu. Nanti saya jelaskan ke Bu Euis.”

Lalu Bu Indah merajuk Nadia untuk melepaskan pelukannya. Sedikit kesulitan membujuknya. Karena gadis itu malu melihat kedatangan seorang wanita yang pernah berhubungan dekat dengannya. Wanita yang telah memberikannya banyak pelajaran hidup.

“Kamu sapa dulu blBu Euis. Beliau sudah datang jauh-jauh ke mari. Masa kamu cuekin seperti ini," ucap Bu Indah terus merajuk Nadia. Kemudian Nadia melepaskan pelukannya. Bangun dari pembaringannya. Selanjutnya gadis cantik itu memeluk Bu Euis. Kali ini tangisannya makin menjadi. Semakin keras. Terdengar hingga keluar kamar. Bahkan ke tengah taman di mana Anggara dan Ryan sedang berbincang serius. Sempat menghentikan pembicaraannya, kini mereka melanjutkan kembali setelah tidak ada suara tangisan dari dalam ruang rawat.

“Bu. Nadia minta maaf. Nadia banyak salah sama Bu Euis. Sama Anggara. Sama Alvian," ucapnya serak. Suaranya sangat pelan hampir tak terdengar. Sepertiya pita suara gadis itu mengalami keausan karena terus menerus menangis setelah tersadar dari siuman.

Lihat selengkapnya