BAB 43
Semusim telah berlalu. Kemarau panjang dengan paparan gelombang panas yang menyengat kulit, yang kerap mengganggu aktivitas berganti. Semusim berlalu tanpa kehidupan yang memicu adrenalin. Cenderung membosankan.
Anggara masih tinggal di rumah kontrakannya. Tidak jadi berpindah. Sengaja terus tinggal di daerah ini agar bisa selalu dekat dengan Nadia. Pemuda itu selalu ingin menjaganya walaupun bukan dari jarak yang dekat. Karena sampai saat ini dirinya belum berdamai dengan Nadia. Padahal sebelumnya ia selalu ingin pindah dari lingkungan itu untuk menjauh dari gadis yang dicintainya.
Dengan keadaan selama enam bulan itu, dia hanya ingin memberikan waktu Nadia untuk bernapas sedikit lega tanpa diganggu urusan percintaan. Membiarkan tenggelam dalam dunianya. Menyembuhkan dirinya sendiri. Nadia tahu apa yang harus dilakukannya. Gadis cantik berhijab itu tidak berlarut-larut hidup dalam penyesalan. Dia menyerahkan sepenuhnya pada yang maha pengasih. Bersyukur hingga hari ini masih bisa menghirup kesegaran udara. Dan masih bersyukur saat kejadian itu, Sam tidak kalap mencelakainya. Atau mencabut nyawanya.
Itulah salah satu ketulusan hati Nadia, bisa melihat sesuatu yang positif dari kejadian paling negatif sekalipun.
Menanti dan terus menanti. Tak pernah berhenti berharap. Bersabar dengan keadaan. Kini waktu baginya berkonsentrasi menghadapi sidang skripsi. Beberapa bulan yang melelahkan berkutat dengan pembuatan tugas akhir perkuliahannya.
Mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Menunggu giliran di depan ruangan yang dipersiapkan bagi mahasiswa yang akan sidang skripsi hari ini. Anggara tak sendiri. Ada Rama di sampingnya. Kedua sahabat ini berjuang keras menyelesaikan kuliahnya. Keduanya mahasiswa yang bernasib sama. Telah tertinggal setahun dari teman seangkatannya yang kini tengah mengembangkan diri di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja. Tetapi itu semua tidak mematahkan semangatnya.
Sukses hanyalah satu kata yang tertunda, yang harus melewati proses panjang dan menyakitkan untuk menggapainya.
Pun Anggara dan Rama juga mengalaminya. Mencapainya dengan air mata. Berdarah-darah. Kini mereka siap menggapainya. Siap melalui proses yang harus mereka lewati. Karena itu bagian hidup yang harus dijalani.
Rama terlebih dahulu dipanggil untuk menjalani sidang skripsi. Anggara yang menunggu di luar tampak gelisah menanti gilirannya. Berjalan hilir mudik di depan ruang sidang. Telah satu jam menunggu belum ada tanda-tanda Rama akan keluar ruangan. Makin tak menentu perasaannya.
Satu setengah jam, Rama baru keluar ruangan eksekusi. Menunjukkan wajah gembiranya. Dia sudah berhasil melewati babak menegangkan dalam penentuan akhir menuju masa depannya.
“Gimana Ram?”
Senyum lebar menyambut pertanyaan Anggara. “Gue lulus Angga.”
Anggara bergembira atas pencapaian Rama. Memeluknya. Dia sangat tahu perjuangan Rama hingga ada di titik sekarang. Lebih sulit dari dirinya. “Sekarang giliran lu Angga. Udah di tunggu”, ujar Rama. Dia juga sempat membisikkan ada bu As di deretan meja dosen penguji. Bu As si dosen killer.
“Ha? yang benar Ram."
Rama tidak menjawabnya, hanya tertawa cekikikan sampai menutup mulutnya.
“James Anggara Prasetya. Mahasisiwa fakultas Teknik.”
Namanya disebut, jantungnya berdebar kencang. Detaknya sudah tak berima. Bagaikan pemusik amatir yang tengah memamikan sebuah lagu, tidak beraturan alurnya. Anggara melangkah masuk. “Good luck Angga," ucap Rama memberinya semangat.
Dia mendorong pintu. Sudah menunggu empat orang dosen penguji duduk berjajar layaknya para hakim di pengadilan. Tapi tidak ada dosen bernama bu As, si dosen killer itu.
Sialan Rama ngerjain gue aja. katanya ada bu As.
Kelu lidahnya menghadapi dosen-dosen penguji itu. Sifat introvertnya kembali muncul.
“Ya silahkan berdiri di depan situ. Perkenalkan diri kamu. Dari fakultas apa. Dan judul skripsi kamu apa. Nanti kamu jelaskan garis besarnya.”
“Baik pak," jawab Anggara dengan suara terdengar bergetar. Dia menarik napasnya. Lalu mulai menjelaskan tema dan isi dari skripsi yang diangkatnya.
*
Selesai menjalani ujian semester enam. Nadia duduk-duduk di taman literasi di depan perpustakaan kampus. Menyaksikan mahasiswa lain hilir mudik sibuk masing-masing. Biasanya kalau sedang jam-jam bebas seperti ini, Anggara datang menemuinya. Menemaninya di kala sendiri. Maklum Nadia tidak memiliki banyak teman. Sama seperti Anggara. Itu sebabnya, sebenarnya mereka adalah pasangan yang cocok. Ketika introvert bertemu orang pendiam, maka keduanya akan menjadi ekstrovert.
Nadia ingat benar ketika Anggara selalu datang membawakan makanan. Mereka akan memakannya di taman literasi itu. Atau kalau taman itu sedang ramai, Anggara akan mengajaknya ke kafe kecil di seberang kampusnya.
Kenangan itu kembali hadir setelah semusim terlewati. Apakah Nadia sedang rindu pada pemuda blasteran itu. Atau apakah dia sudah siap membuka hatinya kembali pada Anggara. hanya gadis itu yang tahu apa yang dia kehendaki, untuk masa depannya.
“Nadia," gadis itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya. “Kita ke kafe depan yuk. Ngopi buat ngilangin suntuk.”
Tanpa berpikir lama Nadia mengiyakan ajakan temannya, Lisa. Daripada melamun sendirian di taman ini. Dia juga ingin melepas penatnya sehabis menjalani ujian yang cukup berat.
“Kamu mau apa Nad?” tanya Lisa begitu mereka sampai.
“Es kapucino aja Lis.”
Masih ingat kenangan bersama Anggara kala berada di kafe ini. Selalu aja es kapucino yang dipesannya. Minuman yang menjadi kesukaan Anggara, kini menjadi favoritnya.
“Nad pacar kamu yang bule itu, udah lama ngga pernah jemput kamu," tanya Lisa memulai pembicaraan.
“Dia lagi sibuk skripsian dan sidang akhir.”
“Ooh, aku pikir kalian ada apa-apa.”
Nadia tersenyum. Kejadian demi kejadian sebelumnya, tidak ada yang mengetahuinya. Tertutup sangat rapat. Karena Nadia memang bukan tipe FOMO yang setiap aktivitasnya di pamerkan di sosial media.
“Ujian kamu gimana tadi Lis?” Nadia langsung mengalihkan topik pembicaraan
“Lancar Nad. Aku yakin kamu juga lancar. Kamu kan mahasiswi teladan.”
“Ah bisa aja kamu Lis. Aku cuma mau lancar-lancar aja kuliahnya sampai wisuda nanti. Setahun lagi kita di sini.”
“Iya Nad, ngga terasa ya udah tiga tahun berlalu. Yang penting kita lancar sampai selesai. Dapat kerja di tempat yang kita mau."
Nadia mengaminkan. Tidak ada hal lain yang diinginkannya selain dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.
Dari dalam kafe kecil itu, Nadia melihat sosok pria berpakaian putih hitam tengah berdiri dari pintu gerbang kampusnya. Berdiri sekitar lima belas meter jaraknya. Berdiri di belakang mobil yang tengah terparkir. Membawa seikat mawar putih dan merah. Selingkaran mawar merah mengitari mawar putih yang terletak di tengahnya.
Gadis itu terkesiap melihatnya. Tersungging senyum kecil di sudut bibir mungilnya. Ada binar-binar di matanya.
Cukup lama Anggara berdiri di sana. Menantikan Nadia keluar. Ingin memberi kabar kalau dia sudah menyelesaikan kuliahnya seperti yang dijanjikan pada gadis itu bulan-bulan lalu.
Lelah menunggu yang tidak kunjung datang, Anggara pulang. Berjalan ke terminal busway terdekat. Koridor busway yang melayani hingga terminal di dekat rumahnya, terminal Mampang.
Rasa sesal bergemuruh di dadanya. Nadia ingin sekali menyambutnya. Berbincang-bincang atau hanya sekedar saling sapa. Namun langkah berat kakinya menolak untuk pergi ke sana.