TULUS

hadi wiyono
Chapter #43

MENITI TANGGA

BAB 43


Semusim telah berlalu. Kemarau panjang dengan paparan gelombang panas yang menyengat kulit, yang kerap mengganggu aktivitas berganti. Semusim berlalu dengan kehidupan datar. Cenderung membosankan.

Aku masih tinggal di rumah kontrakan yang sama. Tidak jadi berpindah. Sengaja terus tinggal di daerah ini agar aku bisa selalu dekat dengan Nadia. Aku ingin selalu menjaganya meskipun bukan dari jarak yang dekat. Karena sampai saat ini aku belum berdamai dengan Nadia.

Selama enam bulan itu, aku hanya ingin memberikan waktu Nadia untuk bernapas sedikit lega tanpa diganggu urusan percintaan. Kubiarkan tenggelam dalam dunianya untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Nadia tahu apa yang harus dilakukannya. Aku menyerahkan sepenuhnya pada yang maha pengasih. Bersyukur hingga hari ini masih bisa menghirup kesegaran udara. Dan masih bersyukur saat kejadian itu, Sam tidak kalap mencelakainya. Atau mencabut nyawanya.

Itulah salah satu ketulusan hati Nadia, bisa melihat sesuatu yang positif dari kejadian paling negatif sekalipun.

Aku menanti dan terus menanti. Tak pernah berhenti berharap. Bersabar dengan keadaan. Saat ini waktu bagiku berkonsentrasi menghadapi sidang skripsi. Beberapa bulan yang melelahkan berkutat dengan pembuatan tugas akhir perkuliahannya.

Aku mengenakan kemeja putih dan celana hitam. Menunggu giliran di depan ruangan yang dipersiapkan bagi mahasiswa yang akan sidang skripsi hari ini. Aku tak sendiri, ada Rama yang juga sidang hari ini. Kami berdua berjuang keras menyelesaikan kuliah ini. Pokoknha sejak kami saling mengenal dekat, kami harus selesai kuliah sesuai rencana, karena kami dua orang orang mahasiswa yang tertinggal setahun dari teman seangkatannya yang kini tengah mengembangkan diri di perusahaan-perusahaan tempat mereka bekerja.

Tapi itu tidak mematahkan semangat kami.

Sukses hanyalah satu kata yang tertunda, yang harus melewati proses panjang dan menyakitkan untuk menggapainya.

Itu yang aku dan Rama alami, proses yang panjang, dan menyakitkan. Mencapainya dengan air mata. Berdarah-darah. Kini kami siap menggapainya. Siap melalui proses selanjutnya. Karena itu bagian hidup yang harus dijalani.

Rama terlebih dahulu dipanggil untuk menjalani sidang skripsi. Aku yang menunggu di lua sangat gelisah menanti giliran. Berjalan hilir mudik di depan ruang sidang. Telah satu jam menunggu belum ada tanda-tanda Rama akan keluar ruangan. Makin tak menentu perasaan ini.

Satu setengah jam, Rama baru keluar ruangan eksekusi. Ia menunjukkan wajah gembiranya. Rama sudah berhasil melewati babak menegangkan dalam penentuan akhir menuju masa depannya.

“Gimana, Ram?”

Ia senyum lebar menyambut pertanyaanku. “Gue lulus, Angga. Yeah!" Rama berteriak kegirangan.

Aku bergembira atas pencapaiannya. Memeluknya. Aku sangat tahu perjuangan Rama hingga ada di titik sekarang. Lebih sulit dari dirinya.

“Sekarang giliran lu, Angga. Udah ditunggu," ujar Rama. Dia juga sempat membisikkan ada Bu As di deretan meja dosen penguji. Bu As si dosen killer.

“Ha? yang benar, Ram."

Rama tidak menjawabnya, hanya tertawa cekikikan sampai menutup mulutnya.

“James Anggara Prasetya. Mahasisiwa fakultas Teknik.”

Namaku disebut. Jantungnya berdebar tak karuan, kencang sekali. Detaknya sudah tak berima. Bagaikan pemusik amatir yang tengah memainkan sebuah lagu, tidak beraturan alurnya. Aku melangkah masuk.

“Good luck, Angga," ucap Rama memberinya semangat.

Perlahan aku mendorong pintu. Sudah menunggu empat orang dosen penguji duduk berjajar layaknya para hakim di pengadilan. Tapi tidak ada dosen bernama Bu As, si dosen killer itu.

Sialan Rama ngerjain gue aja. katanya ada Bu As. Aku bersungut kecil.

Kelu lidahku menghadapi dosen-dosen penguji itu. Sifat introvertku kembali muncul.

“Ya silahkan berdiri di depan situ. Perkenalkan diri kamu. Dari fakultas apa. Dan judul skripsi kamu apa. Nanti kamu jelaskan garis besarnya.”

“Baik, Pak," jawabku dengan suara terdengar bergetar. Aku menarik napas dalam-dalam. Lalu mulai menjelaskan tema dan isi dari skripsi yang kuangkat.

*

Selesai menjalani ujian semester enam. Nadia duduk-duduk di taman literasi di depan perpustakaan kampus. Menyaksikan mahasiswa lain hilir mudik dengan kesibukannya masing-masing. Biasanya kalau sedang jam-jam bebas seperti ini, Anggara datang menemuinya. Menemaninya di kala sendiri. Maklum Nadia tidak memiliki banyak teman. Sama seperti Anggara. Itu sebabnya, sebenarnya mereka adalah pasangan yang cocok. Ketika introvert bertemu orang pendiam, maka keduanya akan menjadi ekstrovert.

Nadia ingat benar ketika Anggara selalu datang membawakan makanan. Mereka akan memakannya di taman literasi itu. Atau kalau taman itu sedang ramai, Anggara akan mengajaknya ke kafe kecil di seberang kampusnya.

Kenangan itu kembali hadir setelah semusim terlewati. Apakah Nadia sedang rindu pada pemuda blasteran itu. Atau apakah dia sudah siap membuka hatinya kembali pada Anggara. Hanya gadis itu yang tahu apa yang mau dia lakukan untuk masa depannya.

“Nadia," gadis itu menoleh ke arah orang yang memanggilnya. “Kita ke kafe depan yuk. Ngopi buat ngilangin suntuk.”

Tanpa berpikir lama Nadia mengiyakan ajakan temannya, Lisa. Daripada melamun sendirian di taman ini. Dia juga ingin melepas penatnya sehabis menjalani ujian yang cukup berat.

“Kamu mau apa, Nad?” tanya Lisa begitu mereka sampai.

“Es kapucino aja, Lis.”

Masih ingat kenangan bersama Anggara kala berada di kafe ini. Selalu aja es kapucino yang dipesannya. Minuman yang menjadi kesukaan Anggara, kini menjadi favoritnya.

“Nad, pacar kamu yang bule itu, udah lama ngga pernah jemput kamu," tanya Lisa memulai pembicaraan.

“Dia lagi sibuk skripsian dan sidang akhir.”

“Oh pantes, aku pikir kalian ada apa-apa.”

Kaget juga Nadia dwngan pertanyaan Lisa. Maklum Lisa tu orang yang tidak pernah mau tahu urusan orang lain. Bahkan ketika Nadia dekat dengan Sam lebih dari semusim lalu, Lisa tak pernah tahu. Temannya ini begitu fokus pada kuliahnya.

Nadia tersenyum. Kejadian demi kejadian sebelumnya, juga tidak ada yang mengetahuinya. Tertutup sangat rapat. Karena Nadia memang bukan tipe update girl yang setiap aktivitasnya di pamerkan di sosial media.

“Ujian kamu gimana tadi, Lis?” Nadia langsung mengalihkan topik pembicaraan.

“Lancar, Nad. Aku yakin kamu juga lancar. Kamu kan mahasiswi teladan.”

“Ah bisa aja kamu, Lis. Aku cuma mau lancar-lancar aja kuliahnya sampai wisuda nanti. Setahun lagi kita di sini.”

“Iya, Nad, ngga terasa ya udah tiga tahun berlalu. Yang penting kita lancar sampai selesai. Dapat kerja di tempat yang kita mau."

Nadia mengaminkan. Tidak ada hal lain yang diinginkannya selain dapat menyelesaikan kuliahnya tepat waktu.

Dari dalam kafe kecil itu, Nadia melihat sosok pria berpakaian putih hitam tengah berdiri dari pintu gerbang kampusnya. Berdiri di belakang mobil yang tengah terparkir. Membawa seikat mawar putih dan merah. Selingkaran mawar merah mengitari mawar putih yang terletak di tengahnya.

Gadis itu terkesiap melihatnya. Tersungging senyum kecil di sudut bibir mungilnya. Ada binar-binar di matanya.

Cukup lama Anggara berdiri di sana, menantikan Nadia keluar. Pemuda itu hanya ingin memberi kabar kalau dia sudah menyelesaikan kuliahnya seperti yang dijanjikan pada gadis itu semusim lalu.

Lelah menunggu yang tidak kunjung datang, Anggara pulang. Berjalan ke terminal busway terdekat. Koridor busway yang melayani hingga terminal di dekat rumahnya, terminal Mampang.

Lihat selengkapnya