BAB 44
Aku belum bisa menyudahi lamunanku, teringat makan malam tadi bersama Nadia. Ini sudah jam satu pagi. Mata ini tidak mau terpejam. Tubuhku yang sudah berbaring di atas kasur bolak balik ke kanan dan ke kiri. Aku pernah merasakan ini ketika sedang jatuh cinta pertama kali pada gadis itu.
Aku tidak bisa memejamkan mata setelah membaca pesannya. Pak Surya dan keluarganya sudah menetapkan tanggal pernikahan kami. Dibuat panas dingin tubuhku. Rupanya pada saat aku meninggalkan pertemuan tadi, ketika Ryan sengaja memberitahuku kalau Nadia sudah menunggu, mereka membicarakan mengenai pernikahan. Dan Tanpa sepengetahuan kami, Mustafa dan Ryan serta dibantu Alvian telah memesan wedding organizer untuk pesta pernikahan kami.
Duh, mereka kompak sekali. Tak enak hati aku dibuatnya. Dan menurut Alvian, semua ini sebagai ucapan permohonan maaf dan terima kasih padaku. Jadi aku tidak perlu memikirkan sedikit pun persiapannya.
Oke. Aku mengikuti saja. Aku tinggal mempersiapkan diri di hari penting dalam hidupku nanti. Tidak perlu repot ikut mempersiapkan pernikahanku. Semua sudah ada yang mengurusnya.
Kupaksakan tidur, jam sudah menunjukan pukul dua pagi. Sesuai saran Nadia, aku dimintanya untuk membiasakan diri bangun malam, salat dan berdoa untuk kelancaran pernikahan kita. Pengalaman kemarin membuat kita bersikap waspada untuk langkah selanjutnya. Aku hanya punya satu setengah jam untuk memejamkan mata. Merelaksasikan pikiranku. Hingga aku terlelap dalam mimpi manis bersanding dengan Nadia di pelaminan.
*
Suara alarm handphone mengagetkanku. Suara yang kuatur berbunyi di volume maksimal agar aku cepat terbangun dan semangat menjalankan salat malam. Aku duduk sebentar di atas kasur setelah kumatikan alarm yang terus meraung-raung membangunkan seisi rumah. Kantuk ini masih belum bisa kuatasi. Aku masih terduduk, mataku masih setengah terpejam dan kepalaku terangguk-angguk. Tetapi hatiku berkata untuk segera ambil wudhu agar rasa kantuk hilang.
Yap. Aku harus bisa menghilangkan rasa malas ini. Aku harus membiasakan diri bangun malam. Memaksakan diri untuk salat dan berdoa. Aku tidak mau kejadian buruk terulang lagi saat aku sudah melamar Nadia dan merencanakan pernikahan tapi itu semua gagal karena aku terlalu yakin akan terlaksananya pernikahanku dengan lancar, tanpa bersujud pada-Nya.
Aku berjalan malas ke kamar mandi. Mengambil air wudhu dengan dingin yang mengiris kulitku. Dingin ini bisa memaksaku membuka mata. Segar sekali. Kantukku hilang. Aku merasa dimudahkan salat malam ini.
Kugelar sajadah di kamar. Sajadah pemberian Alvian agar aku rajin menundukkan kegalauan hatiku kala itu. Saat aku terpuruk berkali-kali dalam hidup ini.
Aku tidak akan menyia-nyiakan sajadah pemberian Alvian. Sajadah ini dia beli dari hasil jerih payahnya sebagai tukang parkir. Kan kujaga salatku sebesar apapun ujiannya. Terima kasih adikku tersayang.
Seusai salat, aku terus berdzikir. Melafazkan nama-nama yang maha agung. Sampai tak terasa suara azan terdengar membelah malam yang beranjak pagi.
Aku ke kamar Alvian membangunkannya dan mengajaknya salat subuh berjamaah. Di mesjid sudah banyak jamaah yag berkumpul. Kumasuki mesjid dengan pikiran yang tenang. Tanpa ada beban lagi.
Kulihat telah duduk di sana pak Surya, Mustafa, dan Ryan. Baru kali ini kulihat kedua kakak adik itu salat subuh di mesjid. Sekarang aku semakin yakin kalau keluarga ini sudah berubah.
Selesai salat subuh aku menyempatkan diri mampir ke rumah Nadia. Sementara Alvian memutuskan pulang untuk menyiapkan diri berangkat ke sekolah. Di rumah Nadia aku dan keluarganya sempat berbincang di teras rumahnya. Membicarakan rencana pernikahan ini. Seraut wajah penuh senyum keluar dari dalam rumah menyambutku seraya membawa secangkir teh. Kecantikan Nadia tidak pernah luntur sedetik pun.
Baru jam setengah enam pagi. Biasanya aku masih rebahan di kamar, menunggu datang jam sibukku sebagai mahasiswa. Tapi kali ini pagiku sudah di taburi semangat. Dan aku tidak lagi memiliki kesibukan sebagai mahasiswa.
“Anggara. Kamu bisa kan bantuin salah satu bisnis kita.”
“Bisnis apa, Kak Mus?”
Mustafa menceritakan bisnis apa saja yang tengah dikelolanya. Dan aset bisnis-bisnisnya itu berasal dari mana. Aku mengerti. Bisnis-bisnis yang didapatnya sebagai konsekuensi keluarga Pak Sumitro karena perbuatan Sam, anak tunggalnya. Setidaknya Mustafa jujur bisnis itu dia dapatkan dari mana, aku salut.
Ada beberapa bisnis yang belum memiliki pimpinan, karena pimpinan yang sebelumnya mengundurkan diri setelah berganti kepemilikan. Saat ini Ryan yang mengelola bisnis hotelnya. Dan bisnis restauran belum ada yang menanganinya. Mustafa memintaku untuk ambil bagian, mengingat aku sudah lulus dan hanya menyisakan wisuda saja.
Aku sempat menolak karena belum memiliki banyak pengalaman dalam dunia kuliner. Tapi sedikit paksaan dari keluarga Nadia membuatku luluh. Ya, aku menerima tawaran itu. Aku akan belajar intens untuk bisa cepat menguasai bisnis kuliner. Besok aku akan memulai bekerja di restauran itu sebagai Chief Opeasional.
*
Siang hari ini menjadi siang terpanas. Dan menurut perkiraan BMKG, awal musim ini akan menjadi musim kemarau terpanjang di Indonesia. Tampak jalanan berdebu. Asap kendaraan bermotor menyumbatkan hidungku. Dan panas terik membuat kultku dan Alvian berubah seperti udang rebus yang baru saja diangkat dari panci.
Aku bersama Alvian mencari barang-barang kebutuhanku untuk menikah nanti. Rencananya kami akan tinggal dirumah yang sudah disediakan oleh keluarga pak Surya. Rumah yang akan diisi olehku dan Nadia serta ibu dan Alvian.
Aku menerobos pasar-pasar tradisional hingga mal. Banyak sekali barang-barang yang kubeli dengan uang lamaran yang saat itu dikembalikan oleh Mustafa. Dan ketika ingin kukembalikan uang itu karena aku sudah direstui oleh keluarganya, Pak Surya menolak. Calon bapak mertuaku itu mengatakan lebih baik dibelikan kebutuhan untuk berumah tangga saja.
Di sebuah mal aku sempat bertemu dengan Luna ketika kita sedang berbelanja di toko furnitur. Seperti biasa dia memperhatikanku tak berkedip. Tak pernah kapok dengan ancamanku dan Alvian sebelumnya, Luna mencoba mendekatiku. Aku menghindar. Dia terus mengikuti. Aku malas meladeninya. Untung saja aku pergi bersama Alvian. Adikku itu mengancamnya akan memanggil petugas keamanan mal. Dan Luna hanya tertawa merendahkan. Kalau saja Alvian tidak kuhalangi, mungkin saja adikku sudah berbuat sedikit kekerasan dengan wanita itu. Selain bergaya songong, Alvian juga memiliki sifat temperamen. Untuk sifatnya yang temperamen itu mirip sama bapak. Sementara aku hanya menuruni sifat introvertnya saja.
Lelah mencari barang-barang yang kumau. Aku mengajak Alvian sekedar nongkrong di caffee shop untuk beristirahat sejenak. Sebelum lanjut mencari sisa barang-barang lainnya. Ketika kami duduk, mataku tertuju pada sosok pria yang kukenal perawakannya. Pria itu tengah berbincang dengan rekan sejawatnya. Mungkin sedang membicarakan bisnis.
Pria itu adalah Sam. Pria yang telah menodai Nadia. Dan pria yang beberapa kali memancing kemarahanku. Dan kudengar terakhir kali pria itu berada di Amerika. Kini dia sedang berada di Jakarta.
Aku bangun dari tempat dudukku. Berjalan menghampirinya.
“Mas, mau kemana?”
“Ada Sam tuh di situ.”
Alvian memperhatikan ke arah tempat duduk yang kutunjuk. Wajahnya berubah geram. Marah. Aku tahu, Alvian paling tidak suka dengan tindakan kekerasan di sekitarnya. Dia akan bereaksi kalau melihat itu. Makanya ketika aku akan menghampiri Sam, dia dengan gesit mengikutiku.
Aku dan Alvian berdiri di antara Sam dan koleganya. Ternyata dia cukup terkejut dengan kehadiran kita berdua. Laki-laki kaya raya itu berdiri. Sementara koleganya bingung atas apa yang terjadi.
“Oh ternyata sudah kembali dari pelariannya ke Amerika.”
Sam terkejut atas kata-kataku. Dari mana aku tahu keberadaannya selama pelarian.
“Mau apa kalian? Ada apa kalian berdiri di sini?”
“Ini public area. Siapapun berhak di sini,” jawabku menirukan ucapannya padaku di kafe kecil seberang kampus.
“Saya tahu tempat apa ini. Tidak perlu ajari saya. Tapi kalian sudah mengganggu privasi kami yang sedang makan di sini.”
“Ya anda memang tidak perlu diajari. Yang perlu anda pelajari adalah arti tanggung jawab. Tidak kabur setelah berbuat sesuatu yang menghancurkan masa depan seseorang.”
Sam tertegun, lagi-lagi terkejut. Koleganya menghentikan aktivitas makannya, nlmencerna percakapan Sam dan keita berdua. Mata laki-laki kaya raya itu tak berkedip memandangku dan Alvian bergantian. Dan aku membalas tatapan Sam dengan tajam. Mataku siap menyilet-nyilet jiwa laki-laki itu.
"Kenapa, Om. Kaget kita tahu?” celetuk Alvian.