Tumbal Pesugihan Tanah Kuburan

AWSafitry
Chapter #7

Muntah Darah

Meski terasa sakit, namun Bai pun tetap berusaha tenang agar tetap bisa mengendalikan dirinya. 

Ekor matanya melirik sang Istri yang juga terlihat mengerang kesakitan akibat dicekik oleh Sumi. Ken berusaha melepas tangan Sumi dari lehernya. Tapi, tidak bisa. Tenaga Sumi benar-benar luar biasa. 

Bai membacakan surah Al-Baqarah ayat 255 dengan bibir bergetar karena menahan sakit. Tangannya yang terbebas berusaha melepas tangan Sumi dari lehernya sembari meminta perlindungan kepada Allah dari gangguan setan yang tengah menguasai tubuh Sumi. 

Detik berikutnya, Sumi langsung melepas kedua tangannya dari lehernya juga leher Ken. 

"Panas!" pekiknya sambil mengibaskan kedua telapak tangannya yang terasa panas bagai tersulut bara api.

Ken pun langsung terbatuk dan hampir saja terjungkal ke belakang. Untung saja, Bai dengan sigap menangkap tubuh istrinya. 

"Kamu nggak apa-apa?" tanyanya cemas.

Ken pun menggelengkan kepalanya pelan. "Aku nggak apa-apa, Mas. Kamu harus hati-hati, dia bukan lawan yang sembarangan." Ken memperingatkan suaminya. "Aku mengira, dia itu ... Mas, awas!" pekiknya saat melihat Sumi tiba-tiba hendak menyerangnya dan Bai saat mereka lengah. 

Ken menyingkirkan Bai ke arah samping dan dia langung menendang perut Sumi hingga tubuh wanita itu terjungkal ke belakang. Refleks alaminya melindungi diri dan suami. 

"Sayang ...." Bai mendekat ke sisi sang Istri dan menatap Sumi dengan waspada. 

"Kita harus kerjasama menuntaskan iblis jahanam ini, Mas," ucap Ken yang juga menatap Sumi yang berdiri dan akan kembali menyerang mereka. 

Bai dan Ken kembali membacakan ayat-ayat rukiyah. Mulai dari surah Al-fatihah, Surah Al-Baqarah, hingga Surah Ali Imron. 

Membuat tubuh Sumi berguling ke segala arah saat merasa tubuhnya terasa seperti terbakar api. 

Di tempat itu, hanya tinggal tersisa Sumi, Bai, Ken, dan Husain. Orang-orang yang tadinya berkerumun memilih masuk ke rumah masing-masing karena takut dengan reaksi Sumi saat kerasukan tadi yang dinilai bisa membahayakan siapa saja yang ada di dekatnya. 

Mereka mengintip dari jendela kaca rumah masing-masing.

"Ampun ... panas ...," teriak Sumi yang terus berguling sambil bereaksi. 

Bai pun mencoba mendekat dan menyentuh tengkuk Sumi. Tapi, Sumi menepisnya, kemudian malah mencengkram lengan tangan Bai dan hampir membantingnya. 

Lihat selengkapnya