Tumbal Pesugihan Tanah Kuburan

AWSafitry
Chapter #18

Terbongkar

Menjelang sore hari, terdengar ketukan pada pintu utama rumah Sumi. Wanita itu sudah bisa menebak siapa yang datang ke rumahnya. Dia pun gegas menuruni anak tangga, lalu membuka pintu.

Senyum manis selalu dia tunjukkan untuk menyambut kepulangan suami tercintanya, Agus. Meski hatinya dipenuhi rasa penasaran dan ingin segera menanyakan serentetan pertanyaan pada laki-laki itu atas apa yang dilihatnya tadi malam di hutan dekat pemakaman.

Dia memilih mengubur rasa penasarannya. "Mas mau langsung mandi atau istirahat dulu?" tawar Sumi sambil meraih jaket hitam sang Suami. Lalu, mempersilakannya masuk.

"Aku mandi dulu lah," sahut Agus dengan senyuman mengerikan. "Tapi ... mandinya sama kamu," godanya sambil mengusap pipi sang Istri.

Sumi meradang, namun coba dia tahan.

Sabar, Sumi. Layanilah dia sampai puas dulu. Baru kamu interogasi sampai dia rasa penasarannya terbayar lunas.

"Aku baru saja mengalami keguguran, Mas. Dokter menyarankan paling tidak dua sampai empat minggu atau enam minggu menunggu pulih," tolaknya. Karena dia memang belum benar-benar baik rahimnya.

Agus memang tidak punya hati, istrinya baru saja mengalami keguguran lima hari yang lalu. Bahkan, dia sendiri tega menyerahkan janin anaknya yang telah meninggal untuk dijadikan tumbal. Tapi, sudah mau minta nafkah batin.

"Heh, menolak ajakan suami itu berdosa!" sentak Agus sambil menarik rambut istrinya.

"Tahu apa kamu tentang dosa, Mas? Kalau apa yang kamu lakukan saja itu sudah melanggar aturan Allah! Itu dosa besar!" balas Sumi.

Membuat kedua mata Agus terbelakak. Karena untuk pertama kali, Sumi berbicara keras padanya. Bahkan berani melawannya.

"Apa yang kamu maksud?" Agus semakin menarik rambut istrinya. Membuat Sumi semakin meringis kesakitan.

"Biadab kamu, Mas! Lepaskan!" teriaknya.

"Coba saja kalau bisa," tantang Agus dengan senyum sinis. Wajahnya dia dekatkan dan mengecup bibir ranum istrinya.

Sumi pun berulang kali melengos dan menolak kecupan dari suaminya. Namun, semakin dia bergerak, semakin sakit kepalanya karena semakin ditarik oleh Agus.

"Mas, ini dosa!" tolak Sumi menatap tajam suaminya. Wajahnya kini basah oleh air mata.

"Dosa itu kalau menolak ajakan suami!"

"Aku masih nifas, Mas! Tidakkah kamu ingat?"

Seketika itu Agus melepas tangannya dari rambut sang Istri. Sumi pun menghela napas panjang. Merasa lega karena rambutnya kini terbebas dari tangan suaminya.

Lihat selengkapnya