Tumbal Ranjang Pengantin

Cutiepie18
Chapter #1

1: Rumah Warisan Berbau Melati

Angin malam membawa aroma melati yang terlalu pekat ke dalam ruang tamu. Bau itu seolah sengaja ditaburkan di setiap sudut halaman belakang. Maya menarik napas dalam. Paru-parunya terasa penuh dengan wangi yang manis sekaligus lengket. Sensasinya hampir memabukkan, mirip parfum murah yang disemprotkan berlebihan di dalam lift yang sesak.

Maya menyentuh lantai kayu jati yang dingin dengan telapak kaki telanjang. Dia sedikit bergidik. Tangannya meraih sakelar lampu gantung tua di tengah ruangan. Bohlam kuning itu berkedip dua kali sebelum menyala remang. Cahayanya menerangi ukiran burung garuda dan motif sulur pada tiang rumah yang sudah menghitam dimakan usia.

Rian muncul dari pintu belakang. Dia menyeret dua koper besar terakhir ke tengah ruangan. Keringat membasahi lehernya meski udara malam ini cukup menggigit.

“Rumah ini bau melati banget, Yang,” gumam Maya. Matanya menyapu langit-langit yang tinggi.

Rian meletakkan koper itu di dekat tangga kayu. Dia menyeka dahi dengan punggung tangan. “Kata orang sini, leluhur memang suka tanam melati di belakang. Biar harum terus katanya. Biar rumahnya tidak terasa sepi.”

Maya tersenyum tipis, tapi matanya tidak menatap Rian. “Harumnya sampai terasa seperti ada yang baru saja mandi parfum di sini.”

Rian tertawa kecil. Terdengar sedikit dipaksa. Dia mendekat lalu merangkul bahu Maya yang tegang. “Besok kita bereskan semuanya. Sekarang istirahat dulu. Aku sudah tidak sanggup lagi naik turun tangga.”

Mereka baru saja menikah dua minggu lalu. Pernikahan itu digelar sederhana di kampung, tanpa pesta mewah. Rumah warisan bergaya Jawa kolonial ini adalah hadiah dari eyang buyut Rian. Bangunan tua dengan atap joglo kecil di bagian belakang itu sudah kosong selama tiga tahun sejak pemiliknya meninggal. Pesan terakhir eyang hanya satu. Rumah ini harus dihuni pasangan baru agar semangat leluhur tetap hidup.

Bagi Maya, rumah di pinggiran Jakarta ini adalah berkah. Dia membayangkan ketenangan dan udara segar yang jauh dari polusi kota. Namun, saat berdiri di tengah ruang tamu yang luas dan sunyi ini, perasaan senang itu perlahan terkikis oleh kegelisahan yang sulit dijelaskan.

Mereka melangkah naik ke lantai atas. Tangga kayu itu berderit setiap kali dipijak. Suaranya nyaring di tengah keheningan malam, seolah rumah itu sedang mengeluh karena tidurnya terganggu.

Kamar utama berada tepat di ujung koridor. Pintunya terbuka lebar.

Maya terpaku di ambang pintu. Sebuah ranjang jati berukuran besar berdiri kokoh di tengah ruangan. Kelambu putih tipis tergantung lemas di atasnya dengan warna yang sudah menguning. Di atas kasur, seprai sutra berwarna krem terpasang sangat rapi. Lipatannya tampak sempurna seolah baru saja disetrika. Di samping tempat tidur, ada meja kecil dengan vas kristal berisi serangkaian melati segar. Kelopak putih itu masih basah oleh embun.

“Siapa yang menaruh bunga itu di situ?” tanya Maya. Suaranya mengecil.

Rian mengerutkan kening sambil mendekat ke arah meja. “Mungkin Mbok Sari. Pembantu eyang dulu bilang dia masih sesekali datang untuk bersih-bersih. Mungkin dia tahu kita datang hari ini.”

Maya mendekati vas tersebut. Dia menyentuh kelopak bunga itu dengan ujung jari. Dingin dan lembap. Bau harumnya langsung menusuk ke saraf pusat, membuat kepalanya berdenyut nyeri. Dia menarik tangannya dengan cepat.

Lihat selengkapnya