Tumbal Ranjang Pengantin

Cutiepie18
Chapter #2

2: Larangan di Malam Jumat Kliwon

Pagi setelah malam pertama itu, terasa seperti sisa mimpi buruk yang enggan pergi. Maya terbangun dengan leher yang berdenyut pelan.

Dia menyentuh bekas gigitan kecil di depan cermin kamar mandi. Kulitnya merah dan sedikit bengkak, namun tidak ada darah yang keluar. Maya menatap bayangannya dengan jari gemetar. Di bawah, suara air mengalir di dapur menandakan Rian sudah bangun lebih dulu.

Maya menarik kerah kaus tidurnya lebih tinggi untuk menyembunyikan tanda itu. "Mungkin cuma gigitan nyamuk," gumamnya pelan. Namun, dia tahu itu bohong. Nyamuk tidak meninggalkan sensasi panas yang berdenyut di bawah kulit seolah ada jantung kedua yang berdetak di sana.

Di meja makan kayu panjang yang permukaannya sudah kusam dimakan usia, Rian menyajikan nasi goreng sederhana. Aroma bawang goreng dan kecap manis berusaha keras menutupi sisa bau melati yang masih menggantung tipis di udara.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Rian sambil menuangkan teh hangat ke gelas Maya.

Maya mengangguk cepat lalu duduk di seberang suaminya. “Iya. Hanya sedikit lelah karena kemarin.”

Rian menatapnya cukup lama. Matanya kini kembali normal dengan warna cokelat hangat yang biasa Maya lihat, bukan hitam pekat yang mengerikan seperti semalam. “Maaf jika aku agak kasar semalam. Aku tidak ingat banyak hal. Rasanya seperti tiba-tiba kehilangan kesadaran dan ketiduran.”

Maya menelan ludah dengan susah payah. “Tidak apa-apa. Mungkin memang karena terlalu kelelahan.”

Mereka makan dalam keheningan yang canggung.

Di luar jendela, kicau burung terdengar riuh, namun suasana di dalam rumah terasa sangat sunyi. Setiap denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar nyaring, menciptakan gema di ruangan yang terlalu luas itu.

...

Sore harinya, Mbok Sari datang berkunjung.

Wanita tua dengan lilitan kain batik di kepalanya itu membawa keranjang anyaman bambu berisi hasil kebun. Wajahnya dipenuhi kerutan dalam, namun sorot matanya sangat tajam untuk orang seusianya.

“Selamat datang di rumah ini, Neng Maya, Mas Rian,” sapa Mbok Sari dengan suara pelan namun tegas. “Bagaimana tidurnya semalam? Nyenyak?”

Maya tersenyum kaku sambil menerima keranjang itu. “Lumayan, Mbok.”

Mbok Sari meletakkan barang bawaannya di dapur lalu menoleh ke arah tangga kayu yang menjulang ke lantai atas. “Malam ini Jumat Kliwon. Malam yang sangat spesial bagi penghuni rumah ini.”

Rian mengerutkan kening sambil menyimpan gelasnya. “Maksud Mbok spesial bagaimana?”

Mbok Sari tidak langsung menjawab. Dia melangkah menuju lemari tua di sudut ruang tamu dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil dengan ukiran sulur yang rumit. Di dalamnya terdapat sehelai kain putih yang sudah menguning dan botol kaca kecil berisi cairan bening.

“Ini adalah pesan dari eyang buyut Mas Rian,” kata Mbok Sari sambil membentangkan kain tersebut. Di sana tertera tulisan Jawa kuno yang warnanya sudah pudar.

Mbok Sari membacakan artinya dengan nada dingin. Pengantin baru harus sangat berhati-hati pada malam Jumat Kliwon. Pihak laki-laki dilarang keras menyentuh istrinya. Jika aturan ini dilanggar, sesuatu yang gaib akan mengambil gantinya.

Rian tertawa kecil mendengarnya. “Ini serius, Mbok? Terdengar seperti mitos kampung yang sengaja dibuat untuk menakut-nakuti.”

Lihat selengkapnya