Tumbal Ranjang Pengantin

Cutiepie18
Chapter #3

3: Sentuhan Dingin di Balik Kelambu

"Maya! Buka pintunya Maya!"

Dum! Dum! Dum! Suara gedoran pintu itu menghantam kayu jati dengan keras, mengguncang ketenangan pagi yang baru saja merayap masuk.

"Haakh hakh hakh Haaaa... heh heh heh..." Suara tawa aneh itu menyusul, bergetar di koridor yang kosong sebelum akhirnya menghilang ditelan keheningan yang mencekam.

Maya terbangun dengan napas tersengal.

Tubuhnya basah oleh keringat dingin yang membuat bajunya melekat lekat pada kulit.

Cahaya pagi menyusup lewat celah jendela kayu yang sudah melengkung karena usia, menerangi kamar utama dengan warna kuning pucat yang tidak sehat. Dia duduk perlahan sambil memegang dadanya yang masih berdegup kencang melawan tulang rusuk.

Ranjang terasa kosong di sisinya. Rian tidak ada di sana.

Maya menoleh ke arah pintu kamar sebelah yang masih setengah terbuka seperti posisi semalam.

Dia ingat jeritan Rian yang terdengar samar dalam kegelapan, namun sekarang rumah itu terasa sunyi sekali. Terlalu sunyi untuk ukuran rumah yang baru saja dihuni. "Apa aku hanya bermimpi?".

Tapi kapan mimpi itu di mulai?.

Dia turun dari ranjang. Telapak kakinya menyentuh lantai kayu yang dinginnya semakin terasa menusuk hingga ke saraf. Saat melangkah ke arah pintu, matanya tertarik pada kelambu putih yang tergantung lemas di atas ranjang. Ada sesuatu yang berbeda di sana. Lipatan kain itu bergoyang pelan meski tidak ada hembusan angin sedikit pun di dalam ruangan yang tertutup rapat.

Maya mendekat dengan rasa penasaran yang dibalut ketakutan. Jarinya menyentuh kain tipis yang sudah menguning itu. Rasanya sangat dingin.

Bukan dingin kain biasa, melainkan dingin yang tajam seperti menyentuh logam beku. Di balik kelambu yang transparan, samar-samar terlihat bayangan gelap yang berdiri diam tepat di sisi ranjang yang kosong. Bayangan itu tinggi dengan bahu yang lebar.

Maya menarik napas tajam dan segera mundur selangkah. Bayangan itu tidak bergeming. Ia hanya diam seperti patung yang terbuat dari asap hitam pekat.

“Sayang?” panggil Maya dengan suara yang gemetar hebat ke arah pintu.

Tidak ada jawaban dari luar, dan saat menoleh sekali lagi, sosok itu tetap diam.

Maya berbalik dengan cepat, membuka pintu dan tidak ada suaminya di depan pintu, ia berlari keluar menuju koridor. “Rian!” teriaknya memanggil sang suami.

Suara langkah kakinya bergema di sepanjang lantai kayu. Dia menuruni tangga dengan tergesa-gasa hingga hampir tersandung di anak tangga ketiga yang berderit nyaring.

Di ruang tamu bawah, Rian sudah duduk di sofa panjang dengan secangkir kopi hitam di tangannya. Wajah suaminya tampak pucat dan matanya cekung seolah-olah dia tidak memejamkan mata sedetik pun semalam.

Lihat selengkapnya