Siang hari di sebuah rumah sederhana di tengah pedesaan, angin bertiup kencang membuat ranting pohon di sekitar menyentuh atap seng menghasilkan suara berisik. Seorang anak kecil perlahan membuka mata dari tidur siangnya ketika mendengar suara dua orang dewasa sedang berbincang di ruang keluarga. Sesuatu yang sudah tidak asing baginya, bahkan belum melihatnya ia tahu bahwa itu adalah ibu dan pamannya, ayahnya bekerja diladang dan akan pulang sore nanti.
Tara bukan anak biasa. Di sekolah, ia dikenal pintar, cepat memahami soal-soal yang diberikan guru. Meski begitu, ia lebih banyak diam di rumah, memilih mengamati daripada banyak bicara. Hari itu, ia pulang dari sekolah, berjalan kaki sambil tertawa bersama teman-temannya, sesekali menghindari jalanan becek akibat hujan semalaman.
“Ibuuu,” teriaknya di depan pintu
Tangan kecilnya mendorong pintu kayu dengan kuat menimbulkan suara gesekan.
“iyaa,” suara ibu ratih dari ruangan jahit miliknya yang berada tidak jauh dari pintu belakang.
Bagian belakang rumah itu selalu menjadi bagian yang paling ramai. Orang-orang lebih sering keluar masuk lewat pintu belakang dan berkumpul di ruang keluarga yang berada di tengah rumah. Sementara bagian rumah lainnya jarang dipakai. Tara biasanya pergi ke sana saat pamannya datang untuk membaca buku bersama, atau ketika ada tamu berkunjung. Rumah itu cukup panjang, bagian tengah hingga belakang selalu dipenuhi suara, sedangkan bagian depan terasa lebih sunyi.
Terdengar suara beberapa orang dari ruang jahit itu. Hampir tidak pernah ada hari tanpa seseorang datang ke rumah untuk menjahit pakaian. Apalagi jika ada acara tertentu, ibu Ratih akan jauh lebih sibuk dari biasanya. Tara sering membantu mengantarkan pakaian yang sudah selesai dijahit oleh ibunya, lalu mendapatkan sedikit upah yang biasa ia gunakan untuk membeli snack favoritnya.
Setelah itu, Tara mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian sehari-hari lalu berjalan menuju meja makan. Ibunya sudah menyiapkan makan siang untuknya: telur ceplok matang sempurna, sayur bening, dan ikan goreng. Ia mengangkat tudung saji yang ukurannya hampir sebesar dirinya, meletakkannya di samping meja kayu yang kokoh, lalu mulai makan dengan lahap.
Setelah sebelumnya hanya gerimis, hujan kini turun semakin deras dan terdengar jelas menghantam atap seng rumah mereka. Suaranya begitu ribut hingga orang-orang harus berbicara lebih keras dari biasanya. Tara mengambil buku gambar dan beberapa krayon di tangannya lalu berlari menuju ruang jahit ibunya. Ia tidak terlalu suka suara hujan yang keras, apalagi jika disertai gemuruh petir. Karena itu, setiap hujan turun, Tara selalu mencari seseorang di rumah untuk menemaninya.