Sepulang sekolah, tara mendapati pamannya sedang bersantai di kursi panjang dengan korang ditangannya. Tara segera mengganti seragamnya dan mengeluarkan buku bersampul merah bertuliskan "Matematika" dari dalam tasnya.
"Paman...," katanya berlari kecil menghampiri pamannya.
"Aku dapat A," katanya sumringah menunjukkan huruf yang ditulis oleh gurunya dikertas pojok kanan bawah.
"Wahh... Pintar," ucap paman sambil tersenyum bangga.
Itu bukan sekali dua kali, Tara selalu mendapatkan nilai bagus di sekolah.
Tara yang selalu ingin tahu segalanya, yang bertanya tanpa henti, yang bosan menunggu jawaban dari ayah dan ibu yang selalu sibuk. Ayah di ladang, tangan lecet oleh tanah dan kayu, Ibu di rumah, menjahit dengan jari-jari yang tak pernah berhenti menari di atas kain.
Dan selalu ada Paman.
Paman yang sabar menjelaskan kenapa langit biru, kenapa sungai mengalir, kenapa angka-angka kadang seperti teman. Ia selalu punya waktu untuk Tara, bahkan ketika Tara terlalu banyak bertanya paman selalu ada untuk menjawab.