Nama-ku Badrun Nuruzaman Alawy, kelahiran Jakarta 22 September 1995. Aku adalah anak ke 2 dari 5 bersaudara. Aku terlahir di keluarga yang sangat amat dekat dengan tindak dan perilaku Agama. Ayah dan Ibu-ku sangat mengajari Aku dan para saudara-ku akan ilmu ke-Agamaan.
Sedari kecil, Aku benar – benar di asupi pendidikan Agama oleh kedua orang tua-ku. Dengan Aku yang mengikuti TPA, membuat-ku bisa dikatakan lebih dulu mengetahui ilmu – ilmu Agama jika dibandingkan teman – teman se-usiaku saat Aku kecil.
Saat ini umur-ku telah menginjak 25 tahun, dan dalam beberapa bulan lagi Aku akan menginjak umur selanjutnya, yaitu umur 26 tahun. Umur yang memang sepertinya sangat membingungkan untuk di posisikan dalam kelas apa. Karena jika dikatakan remaja, Aku sudah melewati masa dewasa yang di tandai dengan Aku telah memiliki Kartu Tanda Penduduk, atau biasa di singkat dengan KTP. Namun, jikalau disebut dewasa, Aku merasa bahwa pemikiran-ku masihlah jauh dari kata dewasa seperti orang dewasa pada umum-nya.
Selama 25 tahun Aku hidup sampai saat ini, telah banyak hal yang Aku lewati. Dari bermacam – macam hal baik, maupun hal buruk. Tapi jikalau ada seseorag yang bertanya pada-ku dan meminta-ku untuk jujur akan pertanyaan, “Lebih banyak manakah yang Aku lakukan?, Baik atau buruk?” Maka sudah jelas Aku akan menjawab dengan jujur, Aku tidaklah tau mana yang lebih sering Aku lakukan.
Aku percaya akan peribahasa yang mengatakan, “Apa yang kau tanam, itulah yang akan kau tuai suatu saat nanti.”
Kepercayaan-ku akan peribahasa tersebut tidaklah semata – mata hanya sebatas kepercayaan tanpa alasan yang jelas. Melainkan, Aku percaya karena memang Aku telah menuai kebaikan dari hasil kebaikan yang Aku tanam sebelumnya pula.
Akan tetapi Aku percaya, walaupun banyak kebaikan yang telah ku-perbuat, pasti akan menjadi suatu pelajaran untuk orang lain melakukan hal yang jauh lebih baik, begitupun juga orang yang melalukan kesalahan.
“Karena seorang pembunuh yang membuat kerabat dari orang yang terbunuh merasa sedih. Disaat itulah orang lain belajar kalau disaat Ia membunuh satu orang, maka Ia juga telah membunuh ratusan hati manusia yang berujung pada kesedihan.”
Aku yang menceritakan tentang pengalaman hidup-ku, bukanlah semata – mata Aku bangga akan perbuatan yang telah Aku lakukan. Melainkan, Aku berusaha untuk melakukan hal baik dibalik hal buruk yang pastinya pernah Aku perbuat.
Aku yang juga telah melakukan hal buruk, walaupun Aku sendiri tidak tahu, apakah kesalahan-ku tak bisa termaafkan, tetap berusaha melakukan hal baik di sisa umur-ku. Segala hal baik yang pernah juga Aku lakukan, dengan landasan ilmu ke-Agamaan menjadi penuntun-ku.
Karena banyak juga orang yang merasa diri-nya sudah merasa sangat putus asa, yang padahal itu adalah buah hasil dari kesalahan-nya sendiri, dan merasa tak sanggup lagi untuk menjalani hidup. Padahal, Allah SWT selalu bersama orang – orang yang ingin berubah menjadi lebih baik walau hanya satu langkah saja.
* * *
Saat dulu Aku yang masih menginjak bangku sekolah dasar, pun Aku memiliki telinga yang dimana telinga ini telah mendengar banyak pelajaran Agama. Pelajaran Agama yang tidak hanya mengajarkan perihal akhlak yang baik, tetapi juga tentang larangan dalam Agama. Lebih tepatnya dalam Agama yang Aku percayai, yaitu Agama Islam.