Tuntun Aku menuju Ayat itu!

Rizky Ade Putra
Chapter #4

Ikatan yang tak terlihat.

Dan apabila di dalam hidup ini Aku yang membicarakan seorang penolong yang tak terlihat, namun sangat jelas adanya di dalam hati-ku yaitu Allah SWT, pun sepertinya tak boleh Aku melupakan penolong yang tak nampak, tapi sangat jelas terasa di hati-ku keberadaan-Nya.

Sang penolong yang ku-maksud bukanlah keluarga, karena keluarga sudah tak mungkin Aku sandingkan dengan dunia luar. Karena rasanya keluarga terlalu sangat berharga jika harus Aku banding – bandingkan. Akan tetapi penolong yang ku-maksudkan selain keluarga adalah seorang sahabat yang selalu ada sisi-ku dalam keadaan apapun. Entah itu dalam keadaan sedih atau senang.

Aku mempunyai dua orang sahabat yang bernama Fadli dan Refan. Tapi jikalau orang lain melihat kami saat sedang berjalan atau berdiri dalam satu garis yang sama, maka tidaklah seperti sahabat, melainkan seperti dua orang kakak dan satu orang adik. Hal itu tidak aneh jikalau banyak yang menilai demikian, karena memang jika dibandingkan, tubuh-ku dengan Fadli dan Refan sangatlah tidak sebanding.

Refan dan Fadli memiliki peranakan tinggi, besar, gemuk, dan hal itulah sepertinya yang membuat orang – orang menganggap kalau Fadli dan Refan adalah sebagai kedua kakak-ku. Aku pun setuju dengan anggapan orang – orang yang demikian. Karena memang Aku juga menganggap kalau Fadli dan Refan sudah seperti saudara-ku sendiri.

Waktu Aku bertemu dengan Fadli memang lebih dulu jika dibandingkan Aku bertemu dengan Refan. Aku yang pertama kali bertemu Fadli ialah disaat Ibu-ku memasukkan-ku ke dalam suatu pengajian untuk mengaji di masjid dekat rumah-ku. Aku yang sudah mulai belajar mengaji sejak saat umur-ku 6 tahun, pun sejak saat itu juga Aku telah berkenalan dengan Fadli.

Berarti jikalau Aku hitung umur-ku yang saat ini sudah menginjak 25 tahun, itu berarti waktu persahabatan-ku dengan Fadli sudah 19 tahun lebih. Tentu saja dengan waktu yang sudah sangat amat lama Aku dan Fadli bersahabat, Aku seperti sebagian diri dari Fadli, dan Fadli pun sudah menjadi sebagian dari diri Fadli.

Aku tidak tahu apa yang orang – orang rasakan dari perasaan mereka terhadap sahabat yang mereka miliki masing – masing pula. Akan tetapi, tak berlebihan jikalau ku-katakan, keadaan yang paling Aku benci, adalah disaat hubungan persahabatan-ku dengan Fadli sedang tidak baik – baik saja. Atau dalam bahasa singkatnya, Aku dan Fadli sedang bertengkar dengan berbagai macam hal yang bisa datang tiba – tiba entah darimana.

Akan tetapi, yang selalu Aku syukuri adalah, pertengkaran-ku dengan Fadli tidaklah pernah bertahan lama, atau lebih jelasnya melebihi batas waktu 3 hari, seperti apa yang di ajarkan dalam agama islam. Karena dalam Agama Islam, sangatlah menentang keras kita sebagai manusia, bukan hanya yang saling bersahabat dekat saja untuk tak saling berdiam – diaman lebih dari 3 hari. Dan itu sama saja memutuskan tali silaturahim, dan Allah SWT sangatlah tidak suka akan hal tersebut.

Bahkan Rasulullah SAW mengatakan, Dari Abî Ayûb al-Anshâriy, sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda, "Tidak halal seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga malam di mana keduanya bertemu lalu yang ini berpaling dan yang itu berpaling. Yang terbaik di antara keduanya ialah orang yang memulai mengucapkan salam".(HR. Muslim. 2560).

Maka dengan begitu, sesuai hadist sang manusia utusan yang paling mulia untuk mengajaran nilai – nilai kebaikan dalam hidup, pun sudah sepantas dan seharusnya Aku sebagai umat muslim untuk menerapkannya.

Pertengkaran-ku dan Fadli yang sering terjadi biasanya hanya karena masalah sepele saja. Sebenarnya hal tersebut sangatlah lucu disaat Aku yang sudah mengingat hal tersebut. Karena biasanya, Fadli marah pada-ku hanya karena Aku bermain dengan teman – teman lain.

Dulu saat Aku sedang bermain kelereng dengan teman – temanku di lapangan umum dekat rumah, pun tiba – tiba Fadli menghampiri-ku.

Lihat selengkapnya