Aku yang sudah bersahabat lama dengan Fadli sejak kecil, lain halnya dengan persahabatan-ku dengan Refan yang baru dimulai sejak kelas 1 SMP. Persahabatan yang dimulai oleh keramah tamahan dari diri-ku, pun membuat Refan menanamkan rasa respect pada-ku.
Saat itu pagi hari, ketika beru ingin memulai pelajaran pertama dalam kegiatan belajar mengajar, pun wali kelas-ku masuk ke dalam kelas. Pada saat itu, Aku sebenarnya sangat heran, begitupun juga dengan teman – teman yang lainnya. Karena, para siswa di kelas-ku mengetahui kalau jam pertama di hari tersebut, bukanlah mata pelajaran Matematika dari Ibu Sri yang langsung mengucapkan sallam kepada seluruh siswa. “Assalamualaikum anak – anak semua, selamat pagi.” Ucap sallam Bu Sri pada pagi itu dengan wajah riang.
“Walaikumsallam Bu, Pagi.” Jawab seluruh siswa pada Bu Sri.
“Hari ini, Ibu ingin mengantarkan seorang murid baru yang akan bergabung dan belajar bersama dengan kalian.” Lanjut Bu Sri yang kemudian memalingkan pandangan-nya ke arah pintu kelas, “Ayoo Nak Refan, masuk.” Pinta Bu Sri pada siswa baru yang Ia maksudkan.
Seorang anak laki – laki dengan tubuh yang lebih besar dari-ku, berkulit putih, dan juga dengan gaya rambut yang hampir seperti pelontos, pun masuk ke dalam kelas dan berdiri tepat di samping Bu Sri.
“Nahh, ini dia teman baru kalian. Perkenalkan diri kamu terlebih dulu Nak Refan pada teman baru kamu dikelas ini.” Pinta Bu Sri kembali pada murid baru itu.
“Hai temen – temen, perkenalkan nama Aku Gema Refan Tero, kalian bisa panggil Aku Refan aja. Aku murid pindahan dari Padang, Sumatera barat.” Refan yang memperkenalkan diri-nya di depan kelas dengan gaya yang masih canggung dan malu – malu.
“Gimana? kalian sudah kenal semua kan?” Tanya Bu Sri dengan senyum pada seluruh murid di kelas-ku.
“Sudah Buu..” Jawab serentak kami sebagai murid yang sudah sedari awal masuk ke dalam sekolah tersebut.
“Baik kalau gitu Nak Refan, Ibu juga disini sebagai walikelas di kelas ini. Ibu mengajar mata pelajaran Matematika.” Lanjut Bu Sri, “Kalau gitu, kamu boleh langsung duduk di bangku yang masih kosong.” Ujar Bu Sri.
“Baik Bu.” Terdengan murid baru yang bernama Refan itu yang berbciara pada Bu Sri.
“Yasudah kalau gitu, anak – anak semua. Ibu harap kalian semua bisa berteman baik dengan Nak Refan yaa.” Pungkas Bu Sri yang langsung pergi keluar kelas tanpa lupa mengucapkan sallam kembali.
Bu Sri yang sudah keluar usai menuntun seorang murid baru yang bernama Refan, telah keluar dari kelas. Dan saat Refan yang ku-lihat saat itu kebingungan untuk mencari tempat duduk-nya, langsung dengan sigap Aku memeberitahu-nya, kalau Ia dapat duduk sebangku atua bersebelahan meja dengan-ku. Karena memang, kebetulan saat itu Aku duduk sendiri dan juga tempat duduk-ku cukup strategis.
“Hei, duduk sini aja.” Ujar-ku seketika yang bersikap sok akrab dengan Refan.