Seiring berjalannya waktu, hubungan pertemanan-ku dengan Refan semakin dekat. Akan tetapi, Fadli yang juga belum mengenal Refan, begitupun Aku yang belajar dari masa lalu atas pertengkaran yang pernah terjadi antara-ku dan Fadli, juga tak ingin Aku ulangi.
Pertengkaran-ku dulu dengan Fadli yang pernah terjadi, dikarenakan Aku yang bermain kelereng dengan teman – temanku yang lain, yang dimana hal tersebut membuat Fadli marah. Maka dari itu, saat hubungan pertemanan-ku dengan Refan semakin dekat, pun Aku juga berencana untuk mengenalkan Refan dengan sahabat-ku sedari kecil, yaitu Fadli.
Selain karena Aku yang pernah bertengkar dengan Fadli yang karena hanya tak ku-ajak main kelereng, pun Fadli pernah mengatakan pada-ku saat Aku dan Fadli masih dalam satu sekolah yang sama pada saat kami duduk di bangku Sekolah Dasar. Dan lebih tepatnya, Fadli mengatakan hal yang tentu sangat menyentuh hati-ku pada saat beberapa bulan Aku dan Fadli lulus dari bangku SD.
Saat itu, Aku dan Fadli yang sudah di tingkat kelas 6 SD, pun tidak lama lagi akan melaksanakan Ujian Nasional atau dapat dikatakan menjadi sebuah Ujian penentuan untuk kedepannya. Aku yang sedang terduduk sembari membaca buku di bangku taman sekolah, Fadli pun menghampiri-ku dengan membawakan minuman segar.
“Serius banget belajarnya Drun.” Ujar Fadli. “Nih, haus kan.” Ia yang memberikan minuman segar pada-ku.
“Ehh Fad makasih ya.” Sambung-ku, “Iyanih lagi belajar, kan sebentar lagi kita bakal menghadapi Ujian Nasional, dan Kamu juga harus belajar Fad, biar bisa dapat sekolah Negeri, gratis!” Jelas-ku pada Fadli yang berisikan sedikit nasihat pengingat untuk-nya.
“Iyaa nanti saja Aku belajarnya dirumah.” Balas Fadli.
“Jangan sampai engga belajar, inget!” Tegas-ku sekali lagi pada perihal yang sama pada Fadli dan melanjutkan mata-ku untuk sedikit membaca saat jam istirahat sekolah.