Satu hari pada saat itu, hari dimana Aku dan teman – teman kelas-ku di SMA dengan bercengkrama saat waktu istirahat, tepat di depan kelas. Saat itu Aku masih berada di tingkat awal SMA, yaitu kelas 10. Dan saat itu pula, Aku yang sedang berada di depan kelas bersama teman – teman kelas-ku yang lainnya, lewatlah seorang perempuan yang sangat amat cantik.
Dan saat itu, Aku tidak tahu apa yang Aku rasakan saat melihatnya. Tapi diri-ku sendiri menebak, kalau Aku telah jatuh cinta pandangan pertama kepada seorang perempuan. Perempuan tersebut mempunyai rambut yang tak begitu panjang, hitam tebal dengan sedikit warna kecoklatan, sekaligus wajah yang asri.
Bola mata-nya yang indah membuat-ku tak berfikir panjang untuk membuat waktu jikalau harus menatap dalam mata-nya itu secara dalam – dalam. Namun sayangnya, tak bisa dalam waktu lama Aku dapat menatap dalam bola mata perempuan yang indah itu. Karena memang Ia hanya lewat begitu saja tanpa permisi, sekaligus juga menabur benih cinta yang berhasil tumbuh kuat dalam hati-ku.
Saat perempuan itu sudah melewati-ku, pun Aku langsung bertanya pada seorang teman-ku yang mungkin saja mengenal perempuan tersebut. “Do.. Aku mau tanya Do.” Tanya-ku pada Edo.
“Tanya? Tanya apa Drun?” Balas Edo.
“Tuh.. Kamu liat kan jari telunjuk-ku mengarah ke mana?” Tanya-nya ku yang merangkul Edo, sembari mengarahkan jari telunjuk-ku pada perempuan yang ku-maksudkan.
“Iyaa Drun kenapa?” Tanya Edo yang jelas atas pertanyaan-ku.
“Kamu kenal sama perempuan itu?” Tanya-ku dengan rasa pernasaran yang sangat tinggi.
“Kenal sih tidak Drun.” Terus Edo, “Tapi, kalau Aku gasalah ya ini. Dia itu sama kaya kita juga kelas 10 IPA, dan kalau gasalah juga, Dia itu anak kelas 10 IPA 3.” Jelas Edo atas tanya yang memang tidak lengkap juga.
“Oalah anak kelas dari 10 IPA 3.” Ujar-ku yang hanya mengangguk – anggukan kepala.
“Emangnya kenapa Drun?” Tanya Edo yang pernasaran pada gelagat-ku.
“Ohh gapapa – gapapa, cuman tanya aja.” Terus-ku, “Yasoalnya Aku kaya baru liat perempua itu aja.” Jawab-ku dengan alasan lain atas pertanyaan Edo.
Edo pun lanjut berbincangan pada teman – teman yang lain, begitupun juga dengan-ku. Yang membedakan hanyalah, fikiran-ku saat itu sudah mulai tercampur aduk oleh perempuan yang baru saja lewat, walaupun belum ku-ketahui siapa nama-nya.
Saat itu, Aku juga sudah mulai mencari cara bagaimana cara-nya agar Aku dapat mengenal perempuan tersebut lebih dekat, atau setidaknya, Aku mengetahui terlebih dulu siapa nama perempuan tersebut.