Laki – laki yang bukan dengan maksud Aku merendahkan-nya itu, pun memang dari penampilannya seperti gelandangan di kota tersebut. Namun walau dengan begitu, Aku tak terus terang mengatakan pada-nya perihal anggapan-ku pada-nya.
Ia pun telah selesai dalam menghabiskan rezeki-nya pada saat itu. Akan tetapi, hal yang Aku heran adalah, disaat setelah Ia menghabiskan makanan, yang dimana makanan itu Aku yang membelikan-nya, justru Ia justru murung.
Tentu saja hal tersebut membuat-ku bertanya – tanya, “Mengapa setelah Ia berhasil mendapat makanan saat sedang kelaparan, tapi justru Ia sangat bersedih?” Tanya-ku dalam diri sembari melihat-nya yang terduduk tepat di hadapan-ku.
“Hei Sir, are you oke?” Tanya-ku pada-nya yang berusaha menggunakan bahasa inggris.
Dan tanpa ada bicara apapun, entah itu ucapan terimakasih atau semacamnya, Ia pun justru langsung pergi keluar dan entah kemana. Aku pun kaget dan merasa sedikit kesal dengan berucap sendiri, “Sama – sama.” Ujar-ku yang menyindir diri-ku sendiri.
Sebenarnya saat itu Aku bisa saja mengajar orang tua yang tak ku-ketahui siapa nama-nya itu, karena saat itu Aku pun juga sudah selesai menghabiskan makanan-ku. Aku bisa mengejar-nya bukan untuk marah, akan tetapi Aku hanya ingin bertanya. “Mengapa kau lari begitu saja? Apakah ada yang salah dari diri-ku?” Rasa yang ingin ku-lakukan. Akan tetapi biarlah, Aku juga baru saja tiba di negara dan kota tersebut, jadi banyak hal yang belum Aku ketahui akan lingkungan sekitar. “Fikir-ku saat itu.
Aku pun memutuskan untuk terduduk sejenak di kedai tersebut, ya hitung – hitung istirahat sejenak sebelum Aku lanjut untuk mencari tempat tinggal.
Dan saat Aku sedang terduduk sejenak usai makan dan sembari meng-istirahat-kan kaki-ku, Aku pun di datangi oleh salah satu pekerja di tempat makan tersebut. Aku mengira kalau itu adalah hal yang biasa, dan mungkin saja untuk membereskan makanan dan meja makan yang saat itu ku-tempati.
Akan tetapi, ternyata seorang pegawai yang sekiraan umur-nya sama seperti-ku, dan seorang laki – laki pula, pun justru Ia terduduk di hadapan-ku, tepat di tempat duduk seorang bapak – bapak gelandangan yang baru saja ku-belikan makanan.
Aku yang tidak mengenal siapa diri-nya, dan Aku yakin Ia juga tak mengenal siapa diri-ku. Saat itu, pun hanya ku lemparkan senyuman saja sebagai tanda keramah tamahan-ku pada-nya. Aku yang tak mengenal siapa diri-nya itu, dengan segera Aku ingin segera pergi dan melanjutkan untuk mencari tempat tinggal sementar untuk-ku.