Tubuh yang lagi – lagi terpaksa untuk bergerak pada saat itu, pun tak bisa terelakkan lagi kalau memang sebenarnya itu adalah kemauan-ku. Tak bisa ku-munafikan diri ini kalau memang sebenarnya Aku sangat rindu pada Deli. Tapi karena ada beberapa hal masalah hati, Aku pun memutuskan untuk pergi menjauh.
Berjalan ku dengan Deli di antara bangunan – bangunan baru, pun masih dengan rindu dan perasaan pada orang yang sama. Akan tetapi saat itu, Aku masihlah belum bisa mengatakan dan memang menurut-ku bukanlah waktu yang tepat untuk Aku mengatakan semuanya. Hati ini merasa dan lalu juga mengatakan dengan keras, “Jangan, jangan sekarang!” Tegas hati-ku pada saat itu.
Tidak ada yang bisa Aku percaya di dunia ini selain hati atau perasaan-ku sendiri. Jangan salah kaprah dengan mengatakan Aku tak percaya dengan Allah SWT. Allah SWT tidaklah dapat terlihat, akan tetapi dapat dengan jelas untuk dirasakan barang siapa yang mempercayai dan meng-imani-Nya. Dan Allah SWT yang tak terlihat, pun dapat Aku rasakan lewat hati dan perasaan-ku untuk dalam segala keputusan dalam hidup-ku.
Terlihat jelas oleh-ku, kalau Deli sangatlah canggung, tapi justru hal tersebut sangatlah membuat-ku heran. Karena sejatinya diri-ku lah yang harusnya menjadi canggung saat itu, jelas karena memang Aku-lah yang menjauhi-nya.
Deli yang terlihat canggung saat itu, pun benar – benar membuat diri-ku merasa tak enak hati pada-nya. Terlebih lagi, sampai Ia sendiri yang mencari dan mentangi-ku secara langsung. Jadi pada saat itu, sepertinya sangatlah adil jikalau Aku yang harus membuka ruang obrolan antara kami. “Jadi, gimana kabar-mu Del? “Tanya-ku dengan gugup pada Deli.
“Kabar-ku?, kabar-ku baik.” Jawab Deli dengan cepat. “Kalau kamu gimana?” Tanya Ia kembali pada-ku dengan pertanyaan yang sama.
“Alhamdulillah Aku baik.” Jawab-ku dengan singkat namun memikirkan lebih lanjut akan pertanyaan apa yang dapat membuat obrolan-ku dengan-nya saat itu menjadi lebih luas.
Dengan tubuh-ku yang merasa lelah karena memang harusnya saat itu Aku sudah tertidur lelap dan jatuh ke dalam dunia mimpi untuk sementara, pun Aku mengajak Deli untuk berbicara dengan keadaan duduk saja. “Del, kita duduk aja yuk, cape soalnya Aku, hehehehe.” Ujar pinta-ku pada-nya.
“Ohhyaudah gapapa dong.” Jawab Deli. “Hemm... Nah kita duduk disana ajatuh.” Tunjuk Deli pada salah satu bangku taman yang panjang.
Aku dan Deli pun langsung menuju bangku taman yang Deli tunjuk, dan kami pun terduduk disana, hanya berdua saja, dengan beberapa manusia yang lalu lalang. “Aku mau tanya sama kamu boleh?” Tanya Deli pada-ku yang padahal baru saja kami berdua terduduk di bangku taman tersebut.