Aku yang diminta oleh Ms.Brianna untuk datang ke ruangan dan menghadap-nya, yaitu degan Ia yang berdalih ada yang ingin Ia bicarakan dengan-ku, pun tak bisa mengelak dan tak bisa lari Aku akan hal itu.
Dengan rasa yang takut yang sebisa mungkin Aku lawan, pun Aku telah benar – benar sampai di depan ruangan-nya yang bertuliskan jelas depan pintu, Dr.Brianna Haviva. “Tok.. tok..tok..” Suara kepalan tangan gemetar-ku yang mengetuk pintu ruangan-nya.
Baru saja Aku mengetuk pintu ruangan Ms. Brianna, langsung terdengar jawaban yang sudah pasti tidak lain dan tidak bukan itu adalah Ms.Brianna, “Come in!” Cukup keras suara itu terdengar.
Suara jawaban dari Ms. Brianna yang cukup keras sekaligus tegas, tak bisa kupungkiri membuat nyali-ku semakin menciut saat itu. Aku yang merasa cukup takut, pun sampai – sampai berkata, “Ya Allah, semoga tidak ada masalah yang akan membuat-ku sulit nantinya.” Pinta-ku yang berdo’a dengan singkat pada Allah SWT.
“Klakk..” Suara pintu yang terbuka. “Good morning Ms. Brianna.” Ucap sallam-ku pada-nya.
Aku yang mengucap sallam pada Ms. Brianna, pun tak menyangka saat itu. Karena disaat Aku mengucap sallam pada-nya, betapa dibuat terkagetnya diri-ku ini pada jawaban yang Ms. Brianna berikan.
“Pagi?, kamu ngigo ya?, ini itu sudah siang, hemm.” Ujar Ms. Brianna dengan bahasa Indonesia yang fasih pada-ku.
Aku pun semakin dibuat heran dengan Ms. Brianna yang berucap dengan bahasa Indonesia yang sangat amat baik. Bahkan, cara mengucapan-nya itu tidaklah berbeda dengan-ku yang memang sudah sejak kecil dari Indonesia.
Saat itu Aku terdiam sembari berfikir, “Ia bisa bahasa Indonesia?” Tanya-ku sendri dalam hati tanpa terucap oleh lisan-ku.
Aku yang terdiam dan sedang bingung, seperti tak bisa membohongi Ms. Brianna yang dengan cepat dan mudah membaca apa yang sedang ku-fikirkan. “Kenapa? Kamu heran saya bisa berbahasa Indonesia?, dengan fasih seperti orang Indonesia yang sejak lahir tinggal disana?, seperti-mu?” Ujar Ms. Brianna yang menerka apa yang ku-fikirkan.
“Oo, oohh.. tidak Ms. Brianna.” Jawab-ku.
“Sit down my brother, please.” Ujar Ms. Brianna dengan sangat amat ramah, sangat berbanding terbalik dengan sikapnya saat sebelumnya membuat-ku merasa tertekan di kelas.
Aku pun langsung terduduk tepat di hadapan-nya saat berada di dalam ruangan kerja-nya saat itu. Saat Aku terduduk, Ms. Brianna pun kembali bertanya dengan heran mengapa Aku merasa tegang, canggung, dan sangat takut pada-nya.
Maka dengan jujur Aku menjawab apa yang sebenarnya Aku rasakan yang padahal baru beberapa hari saja di negara tersebut. Aku menceritakan betapa Aku benar – benar sangat merasakan diskriminasi ketika orang dari asli negara Israel mengetahui kalau Aku berasal dari Negara Indonesia, atau Aku yang ber-Agama Islam.
Ms. Brianna yang mendengar sedikit cerita-ku, pun seketika berubah wajah tegas, galak dan nada kencang yang menjadi kebiasaan-nya dalam berbicara, menjadi seperti seseorang melihat pengemis. Sangat Iba, lemah lembut, dan juga penuh perhatian dengan beberapa cerita dari-nya.
“Kamu mau tahu kenapa alasan-ku bersikap seolah mengucilkan-mu saat di kelas tadi?” Tanya Ms. Brianna pada-ku.