Tuntun Aku menuju Ayat itu!

Rizky Ade Putra
Chapter #39

Tak salah jika bertanya kalau tak tahu kan?

Usai malam itu Deli yang bertamu pada-ku dengan akhiran riwayat perjamuan tersebut ialah sebuah pertengkaran, Deli benar – benar menjauhkan-ku. Deli yang benar – benar menjauhkan-ku pada saat itu, barulah Aku tahu bagaimana rasa-nya ditinggal oleh orang yang kita sukain atau kita cintai secara langsung tanpa ada kata berkala. Walaupun saat Aku meninggalkan Deli saat SMA dulu, Aku tidak tahu apakah Ia menyukai-ku, mencitai-ku, atau bahkan sebenarnya biasa – biasa saja.

Deli yang menjauh dari-ku, pun juga dengan lingkungan yang kurang bersahabat dengan-ku, membuat kepala sekaligus juga perasaan seolah hancur berkeping – keping, namun entah bagaimana cara membereskannya.

Sesekali juga Aku bertanya pada diri sendiri, “Mengapa Tuhan yang maha membolak – balikan hati manusia, justru menurut-ku saat itu tidaklah tepat waktunya.”

Yang hanya bisa Aku lakukan saat Deli yang benar – benar telah menjauhi-ku, pun hanya bisa berusaha untuk menyebunyikan arti senyuman terpaksa-ku yang sebenarnya sangat menyakitkan untuk di ungkapkan.

Hati yang sesekali datang lagi dengan kegundahan, pun bisa ku tepiskan dengan beberapa gerakan sholat yang sangat khusyuk untuk berhadapan dengan Allah SWT. Akan tetapi, disaat malam mulam datang, gelap yang seharusnya ada terang, benar – benar menyelimuti-ku secara keseluruhan seiring mengingat wajah tawa Deli yang dulu pernah terekam memori otak-ku.

Aku yang berfikir saat itu sudah tidak punya siapa – siapa lagi, pun ternyata salah. Salah kalau ternyata Aku masih memiliki satu orang yang mungkin saja bisa menjadi teman-ku untuk menjadi tempat curahan hati selain Allah SWT. Bukan maksud-ku untuk menduakan Tuhan, hanya saja saat itu Aku juga membutuhkan seorang teman yang juga memiliki wujud sama dengan-ku.

* * *

Dengan kegundahan hati yang entah Aku belum tahu bagaimana cara menghilangkan-nya, dikarena memang Aku belum pernah merasakan betapa sulitnya urusan perihal persaaan antara kedua insan. Aku pun langsung mencoba menemui seseorang yang sekiranya mungkin bisa menjadi teman-ku saat Deli yang ku-kenal lama pun juga sudah tak ingin berbicara dengan-ku. Jangankan untuk berbicara, disaat melihat wajah-ku dari kejauhan pun Ia seolah langsung mencari tempat untuk bersembunyi agar tak melihat-ku lagi.

Pembelajaran beberapa mata kuliah pada hari itu pun sudah usai. Hari dimana saat setelah kurang lebih 1 minggu lamanya Deli benar – benar menjauhi-ku.

“Tok.. tok.. tokk..” Tangan-ku yang mengepal mengetuk pintu ruangan orang yang ingin ku-temui.

“Yaa masuk.” Ujar orang yang ingin ku-temui dari dalam ruangan setelah mendengar ketukan pintu ruangan-nya dari arah luar.

Mendengar orang tersebut mengizinkan Aku untuk masuk, pun dengan sangat senang Aku langsung masuk ke dalam ruangan-nya itu. “Badrun?, ada apa kamu menemui saya?” Tanya Kak Brianna pada-ku.

Yabenar, hanya Kak Brianna lah yang mungkin bisa menjadi teman-ku satu – satunya, dan juga bisa menjadi teman-ku untuk mencurahkan isi hati-ku saat itu dikarenakan Deli yang menjauh.

“Kak Brianna.”

Lihat selengkapnya