Turned Back : The Crusader

Nour araa
Chapter #2

Bab 1 Arsip yang Tidak Seharusnya Ada

Hujan bukan lagi hujan.


Sejak sore, yang jatuh di luar jendela apartemen adalah butiran salju yang rapat, seperti pasir putih yang dilempar angin. Toronto tertutup badai musim dingin. Lampu-lampu jalan tampak redup dan memantul di permukaan trotoar yang membeku, sementara langit menggantung rendah, abu-abu pekat, seolah kota sedang ditahan dalam satu napas panjang. Suhu di layar ponsel menunjukkan minus dua puluh.


Di kaca jendela, embun menebal dari dalam, membentuk lapisan tipis yang membuat pemandangan di luar seperti lukisan buram. Hanya sesekali tampak siluet orang berlari cepat menuju pintu gedung, kepala menunduk melawan angin. Suara badai tidak keras, tapi konstan. Ia menggesek kaca dan dinding, membentuk desis panjang yang membuat waktu terasa lebih sunyi daripada biasanya.


Di dalam, ruang kerja Alexander Montreux hangat, tapi tidak benar-benar tenang. Satu dinding penuh rak buku dari bawah hingga hampir menyentuh langit-langit. Di sana ada sejarah Eropa, sejarah Timur Tengah, kajian perang, manuskrip terjemahan, catatan penelitian, jurnal-jurnal akademik, dan beberapa buku tipis cetakan terbatas yang bahkan perpustakaan universitas pun tidak selalu punya. Ada sesuatu yang teratur dalam susunan itu, tetapi ada juga sesuatu yang liar: tumpukan kertas lepas, sticky notes, fotokopi arsip, dan lembar-lembar dengan garis-garis stabilo yang berlapis.


Alexander duduk di depan meja kayu yang permukaannya dipenuhi bekas coretan pensil, tanda ia sering menggeser kertas dan menulis anotasi tanpa sadar. Laptop terbuka, tapi layar tidak menampilkan email kerja atau dokumen kantor. Yang ia buka adalah katalog digital museum kecil di Eropa Selatan dan halaman arsip yang biasanya hanya bisa diakses peneliti tertentu.


Ia sudah mengajukan permintaan akses beberapa minggu lalu. Mengisi formulir. Menunggu verifikasi. Menunggu lagi. Proses formal yang panjang, bahkan membosankan. Namun malam ini, entah bagaimana, akses itu terbuka begitu saja. Alexander tidak suka kebetulan yang terlalu rapi.


Lampu meja memancarkan cahaya kuning lembut. Di samping laptop, ada secangkir teh yang sudah dingin. Ada pena hitam, stabilo, dan satu map tipis berisi fotokopi dokumen dari berbagai sumber. Seolah ia sedang membangun jembatan dari potongan-potongan kecil, berharap bisa menyeberangi jurang besar yang selama ini ditutupi narasi resmi.


Di ambang pintu, Hanna Azzahra berdiri dengan mukena kecil yang tadi ia lipat di kursi ruang tamu. Ia baru selesai salat Isya. Khimar rumahnya berwarna krem muda, kainnya jatuh panjang menutupi dada, lembut mengikuti gerak tubuh. Ia tidak bersuara, tapi Alexander selalu tahu ia ada di sana. Bukan karena insting berlebihan, melainkan karena sejak menikah, ada ritme baru dalam hidupnya. Ritme yang membuatnya tidak lagi bekerja seperti orang yang sedang dikejar sesuatu sendirian.


Hanna melangkah masuk pelan. Di tangannya ada piring kecil berisi roti panggang dan sedikit madu, lalu satu gelas air hangat yang uapnya tipis. Ia meletakkannya di sudut meja, tepat di tempat yang tidak mengganggu tumpukan kertas.


"Kau belum makan," kata Hanna.

Alexander menoleh, tersenyum singkat. "Aku lupa."

"Bukan lupa. Kau mengabaikan." Suara Hanna tetap halus, tapi tegas. Ia tidak menghakimi, hanya mengingatkan.


Alexander tidak membantah. Ia meraih piring itu, namun tidak langsung makan. Matanya masih tertahan pada layar, seolah baris-baris katalog itu bisa berubah jadi jawaban jika ia menatap cukup lama.


Hanna duduk di kursi sebelahnya dan mencondongkan badan sedikit, membaca judul dan angka-angka inventaris di monitor. Ia tidak perlu bertanya terlalu banyak. Ia sudah mengerti pola suaminya. Ia tahu kapan Alexander hanya butuh ditemani tanpa interupsi, dan kapan ia perlu ditarik kembali ke bumi.


"Ini arsip baru?" tanya Hanna.

Alexander mengangguk. "Harusnya belum bisa diakses. Tapi sekarang terbuka. Aku tidak tahu kenapa."


Hanna menatapnya, lalu kembali menatap layar. Ada daftar item dengan nomor inventaris, tahun perkiraan, lokasi penemuan, dan catatan kurator. Di salah satu item, ada label pendek yang membuat dahi Hanna mengerut.


"Fragmentum," ia membaca pelan. "Surat?"

"Bisa surat. Bisa catatan perjalanan. Bisa laporan pribadi," jawab Alexander. "Yang menarik bukan cuma itu. Lihat catatan sampingnya."


Hanna mengikuti arah kursor. Di kolom kecil ada kalimat Latin yang diterjemahkan kasar: catatan mengenai seorang prajurit yang tidak kembali, serta rujukan pada peristiwa yang tidak dijelaskan lengkap.


Hanna menghela napas pelan. "Kau yakin ini yang kita cari?"


Alexander menyandarkan punggung ke kursi, menimbang. "Aku tidak yakin apa pun. Tapi aku yakin ada sesuatu yang sengaja ditutup. Kita sudah lihat pola itu berkali-kali. Banyak narasi yang terlalu bersih. Terlalu hitam putih."


Hanna diam sejenak. Ia menatap wajah suaminya. Wajah itu tetap wajah pria yang ia kenal, tapi ada garis lain di sana yang hanya muncul ketika Alexander bicara tentang masa lalu. Garis yang mirip luka lama, atau pertanyaan yang tidak pernah selesai dijawab.


Alexander masuk Islam jauh sebelum bertemu Hanna. Ia tidak masuk karena menikah. Tidak juga karena dorongan romantis. Ia masuk dalam kesunyian, melalui proses panjang yang ia jalani sendiri. Hanna sering membayangkan masa itu seperti ruangan kosong, hanya diisi suara hati, dan Alexander berjalan di dalamnya tanpa pegangan, hanya membawa kejujuran yang kadang menyakitkan.


Ketika mereka bertemu, Hanna tidak menemukan seseorang yang baru belajar menjadi Muslim. Ia menemukan seseorang yang sudah lama menjadi Muslim, tetapi masih memikul beban sejarah dan identitas. Alexander tidak memamerkan masa lalunya, tapi ia juga tidak pernah benar-benar lepas dari pertanyaan tentang akar keluarganya, tentang nama Montreux, tentang kisah-kisah yang hanya dibisikkan setengah, dan tentang artefak yang muncul seperti bayangan di dalam arsip.


Malam ini, Hanna merasa pertanyaan itu mendekat lagi.

"Kau mau aku baca juga?" tanya Hanna.

Alexander menggeser laptop sedikit agar Hanna bisa melihat lebih jelas. "Kalau kau siap."


Hanna mengangguk. Ia merapikan ujung lengan khimarnya agar tidak tersangkut kursi, lalu mendekat. Alexander membuka file hasil scan. Layar menampilkan tulisan tangan tua. Tinta memudar. Beberapa bagian robek. Tapi pola hurufnya khas abad pertengahan. Ada tanggal yang tidak pasti. Ada nama tempat. Ada nama penulis yang disamarkan. Lalu ada satu kata yang membuat Alexander menahan napas.


Crux.

Salib.


Hanna memandangi kata itu, lalu menatap Alexander. "Ini tentang perang."

"Ya," jawab Alexander. "Tapi bukan perang yang ada di buku pelajaran. Ini lebih personal."


Hanna menelan ludah. Ia tidak takut pada sejarah. Ia hanya sadar bahwa sejarah bukan sekadar data. Sejarah adalah manusia. Sejarah adalah darah, keputusan, ketakutan, dan kebohongan yang diwariskan.


Alexander menggulir halaman perlahan. Ada terjemahan parsial dari kurator, tapi kalimatnya terasa dipotong. Banyak istilah dibiarkan menggantung. Hanna menyentuh layar dengan ujung jarinya tanpa benar-benar menempel, seperti takut merusak sesuatu. "Kenapa mereka tidak selesaikan terjemahannya?"


"Karena ada bagian yang tidak cocok dengan narasi," jawab Alexander.

Hanna menatapnya. "Narasi siapa?"

Alexander diam sejenak. "Narasi yang nyaman."


Hanna memejamkan mata sebentar. Ia mengingat bagaimana mereka memulai ini. Awalnya hanya karena ingin memahami akar istilah dan akar konflik. Mengapa dunia modern masih membawa jejak perang yang sudah ratusan tahun berlalu. Mereka tidak memulai dari obsesi. Mereka memulai dari rasa ingin tahu. Namun rasa ingin tahu, jika diarahkan pada tempat yang salah, bisa berubah menjadi pintu. Dan pintu itu kadang tidak bisa ditutup lagi.


Hanna membuka mata. "Baca pelan-pelan. Kita catat bagian yang ganjil."


Alexander mengangguk. Ia mulai membaca terjemahan yang ia buat sendiri karena ia tidak percaya versi kurator sepenuhnya. Suaranya rendah, tenang, tapi ada tegang yang tidak ia sembunyikan. Teks itu berbicara tentang pasukan bergerak dalam dingin dan debu. Tentang kota yang dibakar. Tentang perintah untuk tidak ragu. Tentang anak muda yang ditarik masuk ke barisan perang suci. Ada kalimat yang menyebut prajurit bukan lagi manusia, melainkan alat. Ada bagian yang menggambarkan tangan yang kotor oleh darah dan keheningan setelah teriakan.


Hanna menahan napas. Ia tidak ingin membayangkan detailnya, tetapi justru karena itulah ia harus membaca. Ia harus tahu. Ia harus mengerti. Lalu muncul satu bagian yang berbeda.


Seperti catatan pribadi.

Ada nama.

Alaric.

Hanna spontan menegakkan punggung. "Alaric?"

Alexander berhenti, memastikan. "Tertulis Alaricus, tapi bentuknya bisa Alaric."


Nama itu tidak asing bagi Hanna karena beberapa minggu terakhir Alexander beberapa kali menyebutnya, sebagai kemungkinan tokoh fiktif untuk mewakili prajurit non-elit, prajurit muda yang tidak masuk daftar pahlawan. Tapi sekarang nama itu ada di arsip.


Hanna menatap Alexander. "Ini bukan cuma konsep kita."

Alexander menggeleng pelan. "Ini ada di sini."


Alexander melanjutkan membaca. Nama itu muncul dalam konteks laporan kecil. Tentang seorang prajurit muda yang dikenal brutal, patuh tanpa bertanya, cepat mengeksekusi perintah, dan tidak menunjukkan belas kasihan. Ada frasa yang menyiratkan bahwa ia dijadikan contoh bagi yang lain, simbol ketaatan yang sempurna.


Hanna merasakan perutnya mengeras. Ia tidak suka istilah itu. Simbol ketaatan yang sempurna di medan perang berarti sesuatu yang mengerikan. Lalu teks itu berhenti pada satu kalimat yang terpotong. Seolah halaman berikutnya hilang.


Lihat selengkapnya