Angin dari timur membawa pasir halus yang menempel pada kulit dan besi. Ia masuk ke celah-celah armor, menyusup ke lipatan kain, lalu tinggal di sana seperti kutukan kecil yang tidak pernah benar-benar hilang. Pagi itu langit tidak biru, hanya pucat, seolah matahari pun ragu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi di bawahnya.
Alaric de Montrevaux berdiri di barisan depan, sedikit lebih maju dibanding prajurit lain yang seumur dengannya. Ia belum dua puluh tahun, tetapi tubuhnya sudah dipahat oleh latihan dan perang. Bahunya lebar, lengannya keras, dan geraknya tidak banyak. Ia tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak diperlukan. Dalam pasukan, ia dikenal karena satu hal yang membuat orang-orang sekaligus mengandalkannya dan menjauhinya: Ia patuh tanpa mempertanyakan, dan ia mengeksekusi perintah tanpa ragu.
Di tanah asing ini, ketaatan dianggap suci.
Komandan mereka, seorang pria yang suaranya serak karena terlalu sering berteriak, berjalan di sepanjang barisan. Ia menyebut nama-nama kota yang akan direbut seperti menyebut daftar kewajiban. Ada doa singkat yang diucapkan, ada simbol-simbol yang diangkat, ada janji pahala dan kemuliaan. Alaric mendengarnya seperti orang mendengar bunyi lonceng. Ia tidak menolak. Ia juga tidak merasakan apa-apa yang disebut orang-orang sebagai api iman. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih gelap: Aturan.
Lakukan ini. Jangan lakukan itu. Tekan maju. Jangan mundur. Bunuh. Jangan bertanya.
Di rumah, jauh di Eropa, aturan itu berbeda. Ada bangsawan, ada petani, ada gereja, ada hukum, ada nama keluarga yang harus dijaga. Di sini, aturan menyusut menjadi satu garis lurus: Bertahan hidup dengan cara yang diperintahkan. Semua hal lain hanyalah hiasan yang dipasang agar prajurit tidak merasa seperti alat. Alaric tidak butuh hiasan. Ia sudah menjadi alat itu.
Di pinggangnya tergantung pedang yang lebih panjang dari lengan kebanyakan orang. Gagangnya aus, kulit pembungkusnya retak, dan bagian besi dekat pelindung tangan penuh goresan. Pedang itu bukan benda suci baginya. Pedang itu adalah jawaban cepat. Dalam dunia yang terlalu bising oleh teriakan dan terlalu penuh oleh bau darah, jawaban cepat lebih berharga daripada doa panjang.
Ia menoleh sekilas ke kanan. Ada prajurit muda lain, bernama Etienne, wajahnya pucat, matanya bergerak ke mana-mana. Tangan Etienne gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya. Alaric memandangi tremor itu tanpa ekspresi. Ia pernah berada di posisi Etienne beberapa tahun lalu, sebelum ia belajar bahwa tubuh akan berhenti gemetar jika kau memaksa ia bergerak cukup lama.
Di kiri, seorang veteran bernama Renaud mengunyah sesuatu, mungkin roti keras atau mungkin hanya kebiasaan rahangnya yang tidak bisa diam. Renaud pernah berkata pada Alaric, setengah tertawa, setengah serius, bahwa perang adalah cara tercepat mengubah anak menjadi anjing. Alaric tidak tertawa saat itu. Ia hanya mengingat kalimatnya. Tidak semua kalimat pantas ditanggapi. Ada kalimat yang cukup disimpan karena ia benar.
Teriakan perintah datang.
Barisan bergerak.
Mereka turun dari bukit kecil menuju lembah yang terbuka, lalu naik lagi menuju garis tembok di kejauhan. Kota itu tidak besar seperti yang dibicarakan para pemimpin dalam pidato mereka, tetapi cukup padat, cukup tua, dan cukup defensif untuk memakan banyak nyawa. Dari jauh, bendera-bendera mereka terlihat kecil, tetapi Alaric tidak menatap bendera. Ia menatap jalur masuk. Ia menatap titik-titik yang bisa menjadi celah. Ia menatap tempat orang bisa jatuh.
Di dalam dirinya tidak ada puisi. Tidak ada kemuliaan. Yang ada hanya peta kasar yang dibangun oleh naluri.
Ketika panah pertama melesat dari atas tembok dan menghantam prajurit di belakangnya, Alaric tidak menoleh. Ia sudah tahu itu akan terjadi. Suara tubuh jatuh terdengar seperti karung basah menghantam tanah. Jerit singkat, lalu lenyap dalam riuh. Barisan tidak berhenti. Mereka berjalan di atas tanah yang sama dengan langkah yang sama, karena berhenti berarti menjadi target berikutnya.
Alaric merasakan satu panah melintas dekat telinganya. Ia mendengar desisnya, lalu bunyi kecil ketika panah itu menancap pada kayu perisai orang lain. Ia tidak memuji Tuhan. Ia tidak menyumpah. Ia hanya memperbaiki posisi perisainya, memiringkan sedikit, mengurangi sudut. Semua gerakannya ekonomis, seolah perang ini adalah pekerjaan yang ia kuasai dengan jam terbang.
Di depan, tangga-tangga kayu mulai didorong. Mereka berlari. Suara langkah kaki seperti guntur kecil di tanah kering. Teriakan bercampur bahasa yang berbeda, ada doa, ada sumpah, ada nama yang dipanggil, ada ancaman yang diteriakkan ke langit. Alaric sampai di tembok lebih cepat dari kebanyakan orang. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya selalu condong ke depan saat perintah maju datang. Ada bagian dari dirinya yang lebih mudah hidup ketika mendekati bahaya. Ia tidak merasa takut ketika jarak semakin dekat. Ketakutan adalah kemewahan bagi orang yang masih punya pilihan. Di medan ini, pilihan dikikis habis.
Tangga kayu menempel pada tembok dengan bunyi berat. Beberapa tangga bergeser karena batu dilempar dari atas. Orang-orang jatuh. Ada tangan yang mencoba berpegangan. Ada kepala yang pecah. Ada darah yang turun seperti air hangat pada batu dingin.
Alaric naik.
Ia tidak naik seperti orang yang berharap selamat. Ia naik seperti orang yang sudah menerima bahwa tubuh ini bisa hilang kapan saja. Dalam penerimaan itu, ada ketenangan yang membuat geraknya lebih stabil. Ia menyodokkan ujung pedang ke atas ketika kepala pertama muncul. Itu bukan duel. Itu hanya reaksi. Pedangnya masuk, lalu ia tarik. Orang itu jatuh ke belakang, menghilang dari pandangan.
Begitu ia mencapai bibir tembok, ia tidak berhenti untuk melihat kota. Ia tidak memberi ruang untuk takjub. Ia langsung menyapu pedangnya ke kanan, memaksa satu penjaga mundur, lalu menendang lututnya. Penjaga itu terjatuh, dan Alaric menghantamkannya dengan bagian tumpul pedang di kepala sampai tubuh itu diam.
Etienne muncul beberapa detik kemudian, napasnya tersengal. Ia menatap Alaric seolah meminta arahan. Alaric tidak berkata apa pun. Ia hanya maju. Etienne mengikuti, karena mengikuti lebih mudah daripada berpikir.
Mereka melewati menara kecil, lalu memasuki lorong sempit yang mengarah ke pintu dalam. Dari sana, perang berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat dan lebih kotor. Di luar tembok, jarak masih memberi ilusi aturan. Di dalam kota, jarak hilang. Di dalam kota, manusia menjadi objek.
Alaric tidak berlari tanpa tujuan. Ia mencari titik strategis: gerbang, gudang, sumber air, ruang yang bisa menjadi pusat perlawanan. Ia bergerak seperti pemburu yang tahu bahwa ia bukan satu-satunya pemburu. Di gang, seorang pria lokal melompat membawa tombak. Alaric menangkis dengan perisai, lalu memotong tangan yang memegang tombak. Tombak jatuh, tangan jatuh, pria itu berteriak. Alaric menendang dada pria itu agar menjauh. Ia tidak menunggu. Ia tidak menatap mata korban untuk mencari makna. Ia hanya memastikan ancaman berhenti.
Di belakangnya, Etienne tersandung tubuh seseorang dan hampir jatuh. Alaric meraih bahunya sekali, menegakkan Etienne tanpa kata, lalu terus maju. Bagi Alaric, menyelamatkan prajurit yang berguna lebih masuk akal daripada memberi simpati pada orang asing.
Suara pintu dibanting dari dalam rumah-rumah. Ada orang berteriak dalam bahasa yang tidak ia pahami. Ada anak kecil menangis, lalu tangis itu tertelan oleh teriakan lain yang lebih besar. Alaric tidak memikirkan anak kecil. Ia tidak memikirkan perempuan. Ia tidak memikirkan apa pun yang bisa membuat tangannya ragu. Ia sudah lama belajar bahwa ragu adalah cara tercepat membuatmu mati.
Di satu sudut, ia melihat beberapa prajuritnya berkerumun. Mereka tertawa, bersorak, seolah menemukan hiburan di tengah darah. Salah satu dari mereka menarik sesuatu dari dalam rumah, mungkin kain, mungkin perhiasan. Ada suara pecahan, ada suara permintaan. Alaric lewat tanpa ikut.
Bukan karena ia lebih baik. Ia hanya tidak tertarik. Kekejamannya tidak mencari kesenangan. Kekejamannya fungsional. Ia membunuh karena itu perintah, bukan karena itu nikmat. Ia menolak rasa nikmat itu bukan karena moral, tetapi karena rasa nikmat membuat orang ceroboh.
Ia berhenti di depan sebuah bangunan yang lebih tinggi, pintunya berat dan berukir. Ada kemungkinan itu tempat ibadah atau tempat berkumpul. Alaric memberi isyarat pada dua prajurit lain. Mereka mendobrak pintu bersama. Kayu berderit, engsel menjerit, lalu pintu terbuka.
Di dalam, bau lilin bercampur debu. Ruangan itu tenang selama satu detik, seolah waktu menahan napas. Lalu orang-orang di dalam bergerak panik. Beberapa berlari. Beberapa bersembunyi. Beberapa berdiri seperti patung karena ketakutan membekukan mereka.
Alaric melangkah masuk.
Di depan, ada lelaki tua berdiri, tangannya terangkat seperti ingin menahan. Ia bicara cepat, mungkin memohon, mungkin mengutuk. Alaric tidak mengerti kata-katanya. Ia mengerti posisi tubuhnya. Itu cukup.
Perintah dari luar sebelumnya jelas: Bersihkan pusat-pusat perlawanan. Pastikan tidak ada yang mengorganisir serangan balasan.
Alaric maju dan menumbangkan lelaki itu dengan satu hantaman perisai. Lelaki itu jatuh, kepalanya membentur lantai batu. Alaric menunduk dan menekan pedang ke dada lelaki itu tanpa mengangkat tinggi. Ia menekan, merasakan tahanan tulang dan daging, lalu dorong lebih dalam sampai gerakan lelaki itu berhenti.
Etienne menatap adegan itu dengan wajah yang berubah. Ada mual, ada shock, ada sesuatu yang berusaha mempertahankan kemanusiaan. Alaric menoleh sekali. Tatapannya dingin.
"Kau ingin hidup?" suara Alaric akhirnya keluar, pendek, datar.
Etienne menelan ludah dan mengangguk.
"Maka jangan berdiri seperti itu."
Etienne bergerak. Ia mengangkat pedang, terlalu cepat, terlalu tinggi, seperti orang yang meniru. Alaric tidak mengoreksi. Ia membiarkan Etienne belajar dengan cara perang mengajar: Dengan konsekuensi. Di pojok ruangan, seorang pemuda lokal berusaha menyerang Etienne. Etienne panik, menangkis tidak tepat, pedangnya beradu, lalu ia mundur. Pemuda itu hampir mengenai lehernya. Alaric melangkah cepat, memotong pemuda itu dari samping. Tubuh itu jatuh. Etienne berdiri membeku, napasnya tercekat.
"Kau tidak bisa menunggu belas kasihan di sini," kata Alaric. "Tidak ada."