Turned Back : The Crusader

Nour araa
Chapter #3

Bab 2 Alaric di Medan Perang

Angin dari timur membawa pasir halus yang menempel pada kulit dan besi. Ia masuk ke celah-celah armor, menyusup ke lipatan kain, lalu tinggal di sana seperti kutukan kecil yang tidak pernah benar-benar hilang. Pagi itu langit tidak biru, hanya pucat, seolah matahari pun ragu untuk menyaksikan apa yang akan terjadi di bawahnya.

Alaric de Montrevaux berdiri di barisan depan, sedikit lebih maju dibanding prajurit lain yang seumur dengannya. Ia belum dua puluh tahun, tetapi tubuhnya sudah dipahat oleh latihan dan perang. Bahunya lebar, lengannya keras, dan geraknya tidak banyak. Ia tidak membuang tenaga untuk hal yang tidak diperlukan. Dalam pasukan, ia dikenal karena satu hal yang membuat orang-orang sekaligus mengandalkannya dan menjauhinya: Ia patuh tanpa mempertanyakan, dan ia mengeksekusi perintah tanpa ragu.

Di tanah asing ini, ketaatan dianggap suci.

Komandan mereka, seorang pria yang suaranya serak karena terlalu sering berteriak, berjalan di sepanjang barisan. Ia menyebut nama-nama kota yang akan direbut seperti menyebut daftar kewajiban. Ada doa singkat yang diucapkan, ada simbol-simbol yang diangkat, ada janji pahala dan kemuliaan. Alaric mendengarnya seperti orang mendengar bunyi lonceng. Ia tidak menolak. Ia juga tidak merasakan apa-apa yang disebut orang-orang sebagai api iman. Yang ia rasakan adalah sesuatu yang lebih sederhana dan lebih gelap: Aturan.

Lakukan ini. Jangan lakukan itu. Tekan maju. Jangan mundur. Bunuh. Jangan bertanya.

Di rumah, jauh di Eropa, aturan itu berbeda. Ada bangsawan, ada petani, ada gereja, ada hukum, ada nama keluarga yang harus dijaga. Di sini, aturan menyusut menjadi satu garis lurus yaitu bertahan hidup dengan cara yang diperintahkan. Semua hal lain hanyalah hiasan yang dipasang agar prajurit tidak merasa seperti alat. Alaric tidak butuh hiasan. Ia sudah menjadi alat itu.

Di pinggangnya tergantung pedang yang lebih panjang dari lengan kebanyakan orang. Gagangnya aus, kulit pembungkusnya retak, dan bagian besi dekat pelindung tangan penuh goresan. Pedang itu bukan benda suci baginya. Pedang itu adalah jawaban cepat. Dalam dunia yang terlalu bising oleh teriakan dan terlalu penuh oleh bau darah, jawaban cepat lebih berharga daripada doa panjang.

Ia menoleh sekilas ke kanan. Ada prajurit muda lain, bernama Etienne, wajahnya pucat, matanya bergerak ke mana-mana. Tangan Etienne gemetar meski ia berusaha menyembunyikannya. Alaric memandangi tremor itu tanpa ekspresi. Ia pernah berada di posisi Etienne beberapa tahun lalu, sebelum ia belajar bahwa tubuh akan berhenti gemetar jika kau memaksa ia bergerak cukup lama.

​"Hentikan getaran itu, Etienne," suara Alaric terdengar datar, hampir tanpa emosi. "Kau hanya akan membuat musuh tahu di mana letak ketakutanmu."

​Etienne menoleh, napasnya tersengal seolah-olah udara pagi ini terlalu berat untuk paru-parunya. "Bagaimana kau bisa begitu tenang, Alaric? Kau lihat tembok itu? Mereka punya minyak panas, mereka punya panah. Kita akan mati sebelum sempat menyentuh gerbangnya."

​"Maka matilah dengan posisi tegak," jawab Alaric singkat. Ia kembali menatap lurus ke depan. "Tubuhmu akan berhenti gemetar jika kau memaksanya bergerak cukup lama. Sekarang, diamlah."

Di kiri, seorang veteran bernama Renaud mengunyah sesuatu, mungkin roti keras atau mungkin hanya kebiasaan rahangnya yang tidak bisa diam. Renaud pernah berkata pada Alaric, setengah tertawa, setengah serius, bahwa perang adalah cara tercepat mengubah anak menjadi anjing. Alaric tidak tertawa saat itu. Ia hanya mengingat kalimatnya. Tidak semua kalimat pantas ditanggapi. Ada kalimat yang cukup disimpan karena ia benar.

​"Jangan terlalu keras padanya, Alaric," ujar Renaud sambil meludah ke tanah yang berdebu. "Perang adalah cara tercepat untuk mengubah anak laki-laki menjadi anjing. Beberapa anjing menggonggong ketakutan seperti dia, dan beberapa lagi menjadi anjing pemburu yang bisu seperti kau."

​Alaric tidak menoleh. Ia tidak merasa perlu menanggapi sindiran itu. "Apa kau juga anjing, Renaud?"

​Renaud menyeringai, menunjukkan giginya yang sudah tidak lengkap. "Aku? Aku adalah anjing tua yang sudah terlalu banyak mencicipi darah sampai aku lupa rasa air tawar. Tapi setidaknya aku masih ingat bagaimana cara tertawa. Kau? Kau bahkan lupa cara berkedip."

Tiba-tiba, teriakan perintah yang melengking datang dari arah belakang. Klakson perang ditiup, mengirimkan getaran rendah yang merambat dari telapak kaki hingga ke dada.

​"Barisan depan, maju!"

Mereka turun dari bukit kecil menuju lembah yang terbuka, lalu naik lagi menuju garis tembok di kejauhan. Kota itu tidak besar seperti yang dibicarakan para pemimpin dalam pidato mereka, tetapi cukup padat, cukup tua, dan cukup defensif untuk memakan banyak nyawa. Dari jauh, bendera-bendera mereka terlihat kecil, tetapi Alaric tidak menatap bendera. Ia menatap jalur masuk. Ia menatap titik-titik yang bisa menjadi celah. Ia menatap tempat orang bisa jatuh.

Di dalam dirinya tidak ada puisi. Tidak ada kemuliaan. Yang ada hanya peta kasar yang dibangun oleh naluri.

Ketika panah pertama melesat dari atas tembok dan menghantam prajurit di belakangnya, Alaric tidak menoleh. Ia sudah tahu itu akan terjadi. Suara tubuh jatuh terdengar seperti karung basah menghantam tanah. Jerit singkat, lalu lenyap dalam riuh. Barisan tidak berhenti. Mereka berjalan di atas tanah yang sama dengan langkah yang sama, karena berhenti berarti menjadi target berikutnya.

"Demi Kristus! Mereka menghujani kita!" teriak Etienne dengan suara melengking, wajahnya hampir membiru karena lupa bernapas. "Alaric! Perisaimu! Angkat lebih tinggi atau kau akan mati!"

"Jangan berteriak, Etienne. Simpan napasmu untuk mendaki," sahut Alaric dingin. Suaranya terdengar sangat stabil di tengah hujan kematian yang turun dari langit.

Alaric merasakan satu panah melintas dekat telinganya. Ia mendengar desisnya, lalu bunyi kecil ketika panah itu menancap pada kayu perisai orang lain. Ia tidak memuji Tuhan. Ia tidak menyumpah. Ia hanya memperbaiki posisi perisainya, memiringkan sedikit, mengurangi sudut. Semua gerakannya ekonomis, seolah perang ini adalah pekerjaan yang ia kuasai dengan jam terbang. Di depan, tangga-tangga kayu mulai didorong.​

"Lari!" teriak Komandan.

​Langkah kaki mereka berubah menjadi suara guntur yang memukul tanah kering. Suara-suara bercampur menjadi satu: doa dalam bahasa Latin, sumpah serapah, nama-nama santo yang dipanggil, hingga ancaman yang diteriakkan ke langit. Alaric mencapai kaki tembok lebih cepat dari kebanyakan orang. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya selalu condong ke depan setiap kali perintah maju datang. Ketakutan adalah kemewahan bagi orang yang masih punya pilihan, dan di medan ini, pilihan itu sudah dikikis habis sejak langkah pertama.

Brak!

​Tangga kayu menempel pada tembok dengan bunyi berat. Beberapa tangga bergeser karena batu-batu besar dilempar dari atas. Alaric melihat seorang prajurit terjatuh dengan kepala pecah, darahnya memercik ke jubah Alaric, hangat namun segera mendingin terkena angin.

​"Naik! Jangan biarkan tangga kosong!" Renaud berteriak dari bawah sambil menahan posisi tangga. "Alaric, sekarang!"

​Alaric mulai mendaki. Ia tidak naik seperti orang yang berharap selamat. Ia naik seperti orang yang sudah menerima bahwa tubuh ini bisa hancur kapan saja. Dalam penerimaan itu, muncul ketenangan yang membuat gerakannya sangat stabil. Ketika satu kepala penjaga muncul di bibir tembok untuk mendorong tangga, Alaric menyodokkan ujung pedangnya ke atas dengan presisi yang mengerikan.

​Itu bukan duel kehormatan. Itu hanya reaksi mekanis.

​Pedangnya masuk ke tenggorokan lawan, lalu ia tarik kembali. Tubuh penjaga itu jatuh ke belakang, menghilang dari pandangan. Begitu kaki Alaric menapak di bibir tembok, ia tidak berhenti untuk takjub pada pemandangan kota. Ia langsung menyapu pedangnya ke arah kanan, memaksa seorang penjaga mundur, lalu menendang lutut pria itu hingga terdengar bunyi patah yang renyah.

​"Satu di kanan!" teriak Etienne yang baru saja berhasil mencapai puncak dengan wajah belepotan debu dan keringat. "Alaric, di belakangmu!"

​Tanpa menoleh, Alaric menghantamkan bagian tumpul pedangnya ke arah belakang, mengenai wajah lawan yang mencoba menyergapnya. Ia tidak menunggu. Ia tidak menatap mata korbannya untuk mencari makna kehidupan. Ia hanya memastikan bahwa setiap ancaman di sekitarnya berhenti bergerak.

Ia tidak naik seperti orang yang berharap selamat. Ia naik seperti orang yang sudah menerima bahwa tubuh ini bisa hilang kapan saja. Dalam penerimaan itu, ada ketenangan yang membuat geraknya lebih stabil. Ia menyodokkan ujung pedang ke atas ketika kepala pertama muncul. Itu bukan duel. Itu hanya reaksi. Pedangnya masuk, lalu ia tarik. Orang itu jatuh ke belakang, menghilang dari pandangan.

Begitu ia mencapai bibir tembok, ia tidak berhenti untuk melihat kota. Ia tidak memberi ruang untuk takjub. Ia langsung menyapu pedangnya ke kanan, memaksa satu penjaga mundur, lalu menendang lututnya. Penjaga itu terjatuh, dan Alaric menghantamkannya dengan bagian tumpul pedang di kepala sampai tubuh itu diam.

Etienne muncul beberapa detik kemudian, napasnya tersengal. Ia menatap Alaric seolah meminta arahan. Alaric tidak berkata apa pun. Ia hanya maju. Etienne mengikuti, karena mengikuti lebih mudah daripada berpikir.

Mereka melewati menara kecil, lalu memasuki lorong sempit yang mengarah ke pintu dalam. Dari sana, perang berubah menjadi sesuatu yang lebih dekat dan lebih kotor. Di luar tembok, jarak masih memberi ilusi aturan. Di dalam kota, jarak hilang. Di dalam kota, manusia menjadi objek.

Alaric tidak berlari tanpa tujuan. Ia mencari titik strategis: gerbang, gudang, sumber air, ruang yang bisa menjadi pusat perlawanan. Ia bergerak seperti pemburu yang tahu bahwa ia bukan satu-satunya pemburu. Di gang, seorang pria lokal melompat membawa tombak. Alaric menangkis dengan perisai, lalu memotong tangan yang memegang tombak. Tombak jatuh, tangan jatuh, pria itu berteriak. Alaric menendang dada pria itu agar menjauh. Ia tidak menunggu. Ia tidak menatap mata korban untuk mencari makna. Ia hanya memastikan ancaman berhenti.

"Alaric! Tunggu!" Etienne berteriak di belakangnya. Pemuda itu tersandung tubuh seseorang dan hampir tersungkur di atas genangan darah.

Alaric meraih bahunya sekali, menegakkan Etienne tanpa kata, lalu terus maju. Bagi Alaric, menyelamatkan prajurit yang berguna lebih masuk akal daripada memberi simpati pada orang asing.

​"Dobrak," perintah Alaric singkat kepada dua prajurit yang baru bergabung di belakangnya.

Brak!

Kayu berderit, engsel menjerit, dan pintu terbuka dengan sekali hantaman bahu. Di dalam, bau lilin yang terbakar bercampur dengan debu tebal. Ruangan itu tenang selama satu detik, seolah waktu menahan napas di hadapan para penyerbu. Lalu, kepanikan pecah. Beberapa orang berlari ke arah belakang, beberapa bersembunyi di balik pilar, dan beberapa lagi hanya berdiri mematung seperti patung es karena ketakutan.

Lihat selengkapnya