Turned Back : The Crusader

Nour araa
Chapter #4

Bab 3 Setelah Api Padam

Api tidak pernah benar-benar padam setelah kota jatuh. Ia hanya mengecil, berpindah, lalu tinggal sebagai bara yang bersembunyi di balik dinding hangus dan tumpukan kayu retak. Bau kayu terbakar bercampur dengan bau besi, kulit yang berkeringat, dan sesuatu yang lebih berat, lebih asam, lebih sulit dijelaskan. Bau yang tidak bisa sepenuhnya diusir oleh angin malam, karena ia menempel pada batu, pada kain, pada rambut, juga pada ingatan.


Alaric de Montrevaux terbangun sebelum fajar, seperti selalu. Ia tidak terbangun karena mimpi buruk, sebab ia jarang mengakui mimpi sebagai sesuatu yang penting. Ia terbangun karena tubuhnya telah dilatih untuk bangun pada jam ketika perintah biasanya turun. Perang mengajari tubuh lebih cepat daripada pikiran. Bahkan ketika tidak ada terompet, tidak ada teriakan, tidak ada derap pasukan, napasnya tetap pendek dan siaga, seolah dunia bisa runtuh jika ia lengah satu detik saja. Ia duduk, meraih pedang secara refleks, lalu berhenti. Jemarinya sudah menutup gagang sebelum matanya benar-benar terbuka. Itu kebiasaan yang melekat. Kebiasaan yang membuatnya hidup, dan di saat yang sama menghilangkan sesuatu dari dirinya, pelan-pelan, tanpa ia sadari.


Tidak ada serangan. Tidak ada panah. Tidak ada suara lari tergesa-gesa. Hanya api unggun yang menyala pelan, hanya dengusan napas para prajurit yang tidur di sekitar, hanya suara kain yang bergesek saat seseorang mengubah posisi tidur karena dingin. Langit masih gelap, namun di timur ada garis warna yang tipis, pucat, seperti kain basah yang mulai diterangi.

Alaric menarik napas dan mengendurkan bahunya perlahan. Ia berdiri, melangkah menjauh dari kerumunan, melewati tubuh-tubuh yang rebah dengan cara yang serampangan.


Ada yang tidur telentang dengan mulut terbuka, ada yang memeluk kantong perbekalan seolah itu anak kecil, ada yang menggenggam senjata seperti takut kehilangannya dalam tidur. Mereka tampak seperti anak-anak yang kelelahan jika bukan karena darah kering di lengan dan noda hitam di baju mereka.


Di dekat tembok kota yang retak, Alaric berhenti. Batu-batu besar terbelah dan sebagian roboh, meninggalkan celah tempat angin masuk seperti pisau tipis. Dari sela itu ia melihat kota yang masih berasap. Asapnya tidak tebal seperti kemarin, tetapi cukup untuk membuat udara terasa berat. Pagi akan datang, dan pagi selalu membuat segala sesuatu terlihat lebih jelas. Itulah mengapa ia tidak menyukai pagi. Malam menyembunyikan banyak hal. Pagi memaksa semuanya tampak.


Di kejauhan, suara ayam berkokok samar terdengar. Suara itu kecil, hampir lucu, hampir tidak masuk akal di tempat yang baru saja ditaklukkan. Kehidupan selalu mencoba kembali, bahkan di tanah yang barusan diinjak oleh pasukan, bahkan di antara reruntuhan yang masih panas.


Alaric menatap tangannya sendiri. Kulitnya kotor. Di bawah kuku masih ada sisa gelap yang tidak hilang meski ia sudah mencuci dengan air dingin semalam. Ia menggosoknya lagi dengan kain, lebih keras, sampai kulitnya memerah dan rasa perih muncul seperti api kecil. Tetap saja, rasa kotor itu tidak pergi. Bukan kotor yang bisa dilihat. Kotor yang tinggal di dada, seperti lapisan tipis yang membungkus napas.


Ia berhenti menggosok karena ia menyadari sesuatu yang sederhana, menyebalkan, dan tidak bisa dibantah. Tidak ada air di dunia ini yang bisa mencuci sesuatu yang sudah masuk ke dalam.


"Kau akan menguliti tanganmu sendiri kalau terus begitu."


Suara itu datang dari belakang, datar, tidak mengejek, tetapi juga tidak lembut. Renaud berdiri beberapa langkah dari sana, veteran yang selalu bergerak seolah ia sudah selesai takut bertahun-tahun lalu. Ia membawa cangkir logam berisi minuman hangat. Uapnya naik pelan.


"Minum," kata Renaud, menyodorkannya tanpa upacara. "Kau butuh itu."


Alaric menerima cangkir itu dan menyesap sedikit. Cairan pahit hangat mengalir ke tenggorokannya. Tidak enak, tetapi menenangkan. Ia merasakan panasnya turun ke dada, lalu menyebar ke perut. Minuman hangat adalah salah satu dari sedikit hal yang membuat tubuh ingat bahwa ia masih manusia, bukan besi.


"Komandan mencari kau nanti," lanjut Renaud. "Ada evaluasi."


Alaric mengangguk. Evaluasi berarti laporan, berarti pembagian tugas baru, berarti nama-nama akan dicatat. Ia tidak menyukai bagian itu, sebab ia mengerti bagaimana catatan bekerja. Catatan tidak merekam manusia. Catatan merekam fungsi. Catatan menulis siapa yang berguna dan siapa yang tidak.


Renaud bersandar pada tembok retak dan menatap kota yang terluka. "Kau dengar suara tadi malam?" tanyanya.


Alaric tahu suara apa yang dimaksud, meski ia tidak ingin mengakui terlalu cepat. "Suara apa," jawabnya singkat.


Renaud tersenyum tipis. "Jangan pura-pura tuli. Yang dari menara jauh itu."


Alaric menatap lurus ke depan. "Aku dengar suara."


Renaud mengangguk. "Aku juga. Sudah beberapa kali di kota-kota seperti ini. Mereka selalu memanggil, bahkan ketika tembok runtuh."


Alaric tidak bertanya apa maknanya, karena ia tidak ingin percakapan itu bergerak ke tempat yang ia tidak kuasai. Ia juga tidak ingin tahu bahwa ada hal yang tetap berdiri, bahkan ketika pedang menebas dan api membakar. Ia tidak suka gagasan bahwa sesuatu bisa bertahan tanpa perintah dan tanpa kemenangan.


Renaud melanjutkan, seolah berbicara pada dirinya sendiri. "Aneh ya. Kita datang dengan teriakan, besi, dan api. Tapi yang tinggal di ingatan kadang justru suara itu. Suara yang tidak perlu mengancam untuk terdengar."


Alaric memalingkan wajah. "Kau terlalu banyak berpikir pagi-pagi."


Renaud tertawa pendek, lalu menahan tawa itu seolah ia menyadari sendiri bahwa lucu tidak ada tempat di sini. "Itu karena aku sudah cukup tua untuk tahu kapan berhenti berpikir tidak lagi cukup."


Mereka diam. Angin membawa abu tipis yang beterbangan seperti salju hitam. Alaric teringat rumah di Eropa, musim dingin yang dingin dan bersih, salju yang menutupi tanah tanpa bau darah. Kenangan itu datang tanpa diundang, dan ia membencinya karena kenangan membuat sesuatu mengendur di dadanya. Ia tidak tahu harus menaruh kelembutan di mana. Ia tidak punya ruang untuk itu.


"Renaud," kata Alaric akhirnya, suaranya rendah. "Kalau seorang prajurit berhenti percaya, apa yang terjadi padanya?"


Renaud menoleh pelan. Tatapannya tajam, tetapi tidak mengejek. Ia seperti orang yang mengenali pertanyaan itu karena ia pernah menahannya sendiri. "Berhenti percaya pada apa?" tanyanya.


"Pada cerita," jawab Alaric. "Pada alasan."


Renaud menghela napas, panjang, seolah udara pun berat untuk dibawa keluar. "Kalau dia berhenti percaya tapi tetap patuh, dia jadi mesin yang cepat rusak. Kalau dia berhenti percaya dan berhenti patuh, sejarah akan memanggilnya pembelot. Atau sejarah tidak akan memanggilnya sama sekali."


Jawaban itu tidak menenangkan. Ia seperti batu kecil yang dilempar ke air tenang, menciptakan riak yang tidak bisa diabaikan. Kata pembelot menempel di kepala Alaric seperti debu halus yang masuk celah armor. Sulit diusir. Sulit dilupakan.


Sebelum Alaric bisa menanggapi, suara teriakan perintah terdengar dari pusat perkemahan. Pagi resmi dimulai. Para prajurit bangun, menggerutu, mengambil senjata, menyalakan api baru, dan bersiap berdiri. Evaluasi akan segera berlangsung.


Evaluasi dilakukan di halaman kecil dekat gerbang timur. Meja kayu didirikan. Peta dibentangkan. Beberapa perwira berdiri di sisi komandan. Wajah-wajah mereka keras, tidak karena mereka kuat, tetapi karena mereka sudah belajar bahwa kelembutan bisa berakhir dengan kepala terpisah dari badan.


Nama-nama dipanggil satu per satu. Laporan disampaikan singkat. Tidak ada ruang untuk emosi. Mereka menyebut jumlah korban seolah menyebut jumlah karung gandum. Mereka menyebut garis tembok seolah menyebut batas ladang. Mereka menyebut rumah terbakar seolah itu konsekuensi wajar dari kerja.

Ketika nama Alaric disebut, ia melangkah maju. Ia berdiri tegak. Ia tidak menunduk, tidak membusungkan dada. Ia hanya hadir, seperti alat yang siap digunakan lagi.


Komandan menatapnya lama, seperti biasa. "Kau efektif," katanya. "Kau menekan titik penting. Kau tidak membuang waktu."


Alaric tidak menjawab. Pujian tidak menghangatkannya. Pujian hanya tanda bahwa ia akan dipakai lebih keras.


"Kami akan memindahkanmu," lanjut komandan. "Ada unit yang membutuhkan orang sepertimu. Unit yang berurusan dengan pembelot dan pemberontak."


Kata itu terdengar jelas di telinga Alaric. Pembelot. Komandan melanjutkan seolah menjelaskan hal teknis. "Orang-orang yang menolak kembali ke barisan. Yang bersembunyi. Yang mencoba bersekutu dengan musuh. Yang mencemari disiplin."


Alaric merasakan rahangnya menegang. Ia tidak suka bagaimana kata mencemari terdengar seperti penyakit. Seolah satu orang yang retak bisa menular ke yang lain.


"Kau temukan mereka," kata komandan. "Kau putuskan apakah mereka masih bisa digunakan. Atau dihilangkan."


Digunakan. Dihilangkan. Dua kata itu lebih dingin daripada pedang. Kata-kata yang membuat manusia menjadi benda.


"Dimengerti," jawab Alaric.


Lihat selengkapnya