Unit itu bergerak sebelum matahari benar-benar naik dari balik garis tanah yang masih basah oleh embun malam. Tidak ada bunyi terompet yang biasanya menandai keberangkatan pasukan. Tidak ada barisan doa bersama, tidak ada pidato singkat yang menjanjikan kemenangan atau pahala. Tidak ada satu pun ritual yang biasanya digunakan untuk memberi makna pada kekerasan yang akan dilakukan. Mereka berangkat seperti orang-orang yang hendak menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, pekerjaan yang harus dilakukan sebelum udara menjadi terlalu panas dan sebelum bau darah menjadi terlalu kuat untuk dihirup.
Kuda-kuda berjalan pelan dengan langkah yang teratur. Roda gerobak berderit ringan di atas tanah yang masih lunak, menciptakan suara ritmis yang membosankan sekaligus menghantui. Senjata digenggam tanpa upacara, tanpa pemeriksaan berlebihan, tanpa sorot mata yang menyala oleh antusiasme. Tidak ada semangat. Tidak ada kebencian yang dipamerkan. Yang ada hanya kebiasaan. Kebiasaan untuk patuh, kebiasaan untuk membunuh, dan kebiasaan untuk tidak merasakan apa-apa.
Alaric berada di barisan depan. Bukan karena ia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari yang lain, tetapi karena kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Ia sering ditempatkan di titik paling depan, di posisi yang paling cepat bersentuhan dengan bahaya. Bukan karena keberanian yang heroik, melainkan karena ia jarang ragu dan jarang bertanya. Ia bergerak cepat, menjalankan perintah tanpa perlu banyak penyesuaian. Di atas pelananya, Alaric tampak seperti bagian dari besi zirahnya sendiri—dingin dan tidak memiliki keinginan.
"Dingin sekali pagi ini, Tuan Alaric," bisik Robert, prajurit muda yang berada di belakangnya. "Rasanya seperti embun ini mencoba masuk ke balik kulit."
Alaric tidak menoleh. Matanya tetap tertuju pada jalan setapak yang samar tertutup kabut. "Fokus pada kudamu, Robert. Dingin akan hilang saat kau mulai bergerak."
"Aku hanya berpikir," lanjut Robert dengan suara yang lebih rendah, "biasanya Pendeta akan memercikkan air suci sebelum kita pergi mencari pengkhianat. Tapi hari ini, sepi sekali."
"Pekerjaan hari ini tidak butuh saksi suci," sahut Alaric datar.
Unit ini kecil. Tidak lebih dari selusin orang. Sebagian adalah veteran yang wajahnya telah lama kehilangan ekspresi, sebagian lagi adalah prajurit baru yang kilau matanya telah padam lebih cepat dari yang seharusnya. Mereka tidak membawa panji besar. Tidak ada lambang kehormatan yang dikibarkan di ujung tombak. Mereka tidak diutus untuk merebut kota atau mempertahankan wilayah yang megah. Mereka diutus untuk membersihkan sisa.
Dan sisa selalu lebih rumit daripada pertempuran terbuka. Sisa adalah tentang wajah-wajah yang kau kenal, tentang teman makanmu yang tiba-tiba menghilang, dan tentang mereka yang memutuskan bahwa sumpah tidak lagi cukup untuk menahan rasa lelah.
Komandan unit itu bernama Guillaume. Ia memacu kudanya di barisan paling depan, memunggungi anak buahnya seolah-olah mereka hanya alat yang mengekor di belakangnya. Seorang pria yang jarang berbicara lebih dari yang diperlukan. Sepanjang perjalanan, ia memberi perintah dengan gerakan tangan singkat—menunjuk arah, menandai peta dengan ujung jarinya. Ia tidak menatap wajah para prajuritnya satu per satu. Ia tidak mencari ikatan emosional. Ia hanya menatap tujuan.
Guillaume bukan tipe pemimpin yang membentuk loyalitas dengan kata-kata atau janji surga. Ia membentuknya dengan ketakutan yang tenang dan konsistensi hukuman. Tidak ada ledakan amarah darinya, tetapi tidak ada pula pengampunan yang longgar. Segala sesuatu dilakukan sesuai perintah, atau ada konsekuensi yang jelas dan cepat. Baginya, prajurit adalah angka yang harus tetap berada di barisannya masing-masing.
"Tuan," panggil Etienne, menyalip pelan di sisi Alaric. "Kau tahu arah yang kita tuju? Ini bukan jalur menuju kota."
Alaric melirik ke arah Etienne, lalu kembali ke depan. "Kita ke desa-desa luar. Ke tempat orang-orang bersembunyi."
"Maksudmu... mereka yang tidak kembali ke barisan?" Etienne menelan ludah. "Kudengar beberapa dari mereka adalah orang-orang dari unit lama kita."
"Di mata Guillaume, mereka tidak punya nama lagi, Etienne," jawab Alaric. "Hanya ada dua jenis orang di dunia ini bagi Komandan: mereka yang patuh, dan mereka yang menjadi masalah. Dan kita di sini untuk menyelesaikan masalah."
Kabut mulai menipis saat cahaya fajar yang pucat merayap di kaki langit, menampakkan bayangan desa pertama di kejauhan. Sebuah pemukiman kecil yang tampak rapuh, terlelap dalam ketidaktahuan bahwa maut sedang berjalan perlahan menuju mereka dengan langkah kaki kuda yang teratur. Alaric merasakan genggamannya pada tali kekang mengencang. Bukan karena takut, tapi karena ia tahu, setelah matahari naik nanti, dunia tidak akan pernah terlihat sama lagi bagi siapa pun yang ada di barisan ini.
Matahari mulai merangkak naik namun cahayanya terasa berkarat. Udara yang semula dingin, berubah menjadi pengap oleh aroma besi tua yang dipanaskan. Guillaume memimpin barisan dengan punggung yang kaku dan mata yang tidak pernah berkedip. Baginya setiap jengkal tanah yang mereka injak adalah bukti kegagalan disiplin. Ia tidak melihat pohon atau bukit sebagai keindahan alam melainkan sebagai tempat persembunyian yang harus dibakar atau lubang yang harus ditutup.
Guillaume menghentikan kudanya tepat di depan sebuah gubuk yang tampak membusuk. Ia tidak menoleh saat berbicara kepada Alaric di sampingnya. "Masuk ke sana dan seret keluar apa pun yang masih memiliki detak jantung. Aku ingin mereka melihat matahari terakhir mereka dalam keadaan terhina." Alaric hanya mengangguk tanpa suara. Ia turun dari kuda dan merasakan kakinya tenggelam dalam lumpur yang berbau amis.
Alaric menghantam pintu kayu itu dengan bahunya hingga hancur menjadi serpihan. Di dalam ruangan yang gelap dan berbau apek Alaric menemukan tiga pria yang meringkuk di pojok ruangan seperti tikus yang terpojok. Seragam Crusader mereka sudah robek dan kotor oleh nanah dari luka yang tidak terawat. Salah satu dari mereka mencoba meraih belati berkarat di atas lantai namun Alaric lebih cepat menghantamkan perisainya ke wajah pria itu. Bunyi tulang hidung yang remuk terdengar renyah di tengah kesunyian ruangan yang sempit itu.
"Jangan bergerak atau aku akan memastikan kau tidak punya lidah untuk memohon," suara Alaric terdengar kering seperti gesekan logam di atas batu nisan. Pria yang hidungnya hancur itu tersedak darahnya sendiri sambil menatap Alaric dengan mata yang dipenuhi kebencian dan ketakutan.
"Tolong jangan bunuh kami Alaric, kita pernah makan di satu meja yang sama di Acre," suara pria itu parau dan gemetar namun Alaric tidak menunjukkan tanda-tanda mengenalnya.
"Di meja itu kau adalah prajurit, namun di sini, kau hanyalah bangkai yang belum dikubur."
Alaric mencengkeram kerah baju mereka dan menyeret mereka keluar ke tengah jalan desa yang becek. Guillaume menunggu di atas kudanya sambil memainkan tali kekang dengan ekspresi yang sangat bosan.
"Lihatlah orang-orang ini Alaric, mereka pikir mereka bisa menukar sumpah dengan segenggam nyawa yang murah." Guillaume turun dari kudanya dan mendekati salah satu pembelot yang gemetar hebat. "Apakah kau merindukan istrimu atau kau hanya takut pada ujung pedangku?"
Pembelot itu hanya bisa menangis tanpa sanggup mengeluarkan satu kata pun.
Ketiadaan jawaban itu membuat Guillaume tersenyum dengan cara yang mengerikan. "Karena kau sudah tidak punya kata-kata, maka kau tidak butuh lagi tenggorokan untuk bernapas." Guillaume memberi isyarat kepada dua prajurit veteran di belakangnya.
Tanpa peringatan, mereka menebas leher dua pria yang sedang berlutut itu. Suara robekan daging dan semburan darah yang menghantam tanah yang haus menciptakan bunyi tumpul yang menjijikkan. Cairan merah itu menyemprot hingga mengenai pelindung kaki Alaric namun ia tetap berdiri mematung.
"Alaric, bersihkan kotoran itu dari zirahmu karena darah pengkhianat akan merusak kualitas besinya." Guillaume kembali naik ke pelananya tanpa mempedulikan dua mayat yang kini mulai dikerubuti lalat di tengah jalan. "Ikat pria yang tersisa itu di belakang gerobak logistik. Biarkan dia melihat bagaimana rekan-rekannya membusuk sepanjang jalan."