Unit itu bergerak sebelum matahari benar-benar naik dari balik garis tanah yang masih basah oleh embun malam. Tidak ada bunyi terompet yang biasanya menandai keberangkatan pasukan. Tidak ada barisan doa bersama, tidak ada pidato singkat yang menjanjikan kemenangan atau pahala. Tidak ada satu pun ritual yang biasanya digunakan untuk memberi makna pada kekerasan yang akan dilakukan. Mereka berangkat seperti orang-orang yang hendak menyelesaikan pekerjaan yang tidak bisa ditunda, pekerjaan yang harus dilakukan sebelum udara menjadi terlalu panas dan sebelum bau darah menjadi terlalu kuat untuk dihirup.
Kuda-kuda berjalan pelan dengan langkah yang teratur. Roda gerobak berderit ringan di atas tanah yang masih lunak. Senjata digenggam tanpa upacara, tanpa pemeriksaan berlebihan, tanpa sorot mata yang menyala oleh antusiasme. Tidak ada semangat. Tidak ada kebencian yang dipamerkan. Yang ada hanya kebiasaan.
Alaric berada di barisan depan. Bukan karena ia memiliki pangkat yang lebih tinggi dari yang lain, tetapi karena kebiasaan yang telah terbentuk selama bertahun-tahun. Ia sering ditempatkan di titik paling depan, di posisi yang paling cepat bersentuhan dengan bahaya. Bukan karena keberanian yang heroik, melainkan karena ia jarang ragu dan jarang bertanya. Ia bergerak cepat, menjalankan perintah tanpa perlu banyak penyesuaian.
Unit ini kecil. Tidak lebih dari selusin orang. Sebagian adalah veteran yang wajahnya telah lama kehilangan ekspresi, sebagian lagi adalah prajurit baru yang kilau matanya telah padam lebih cepat dari yang seharusnya. Mereka tidak membawa panji besar. Tidak ada lambang kehormatan yang dikibarkan. Mereka tidak diutus untuk merebut kota atau mempertahankan wilayah. Mereka diutus untuk membersihkan sisa.
Dan sisa selalu lebih rumit daripada pertempuran terbuka.
Komandan unit itu bernama Guillaume. Seorang pria yang jarang berbicara lebih dari yang diperlukan. Sepanjang perjalanan, ia memberi perintah dengan gerakan tangan singkat, menunjuk arah, menandai peta dengan ujung jarinya. Ia tidak menatap wajah para prajuritnya satu per satu. Ia tidak mencari ikatan emosional. Ia hanya menatap tujuan.
Guillaume bukan tipe pemimpin yang membentuk loyalitas dengan kata-kata atau janji. Ia membentuknya dengan ketakutan yang tenang dan konsistensi hukuman. Tidak ada ledakan amarah darinya, tetapi tidak ada pula pengampunan yang longgar. Segala sesuatu dilakukan sesuai perintah, atau ada konsekuensi yang jelas dan cepat.
Tujuan pertama mereka adalah sebuah desa kecil yang terletak di luar jalur utama. Desa itu tidak tercatat sebagai titik strategis. Tidak ada benteng, tidak ada gudang senjata, tidak ada alasan militer besar untuk memperhatikannya. Namun laporan menyebutkan bahwa beberapa prajurit Crusader yang terluka tidak kembali ke perkemahan setelah kota terdekat jatuh.
Ada saksi yang melihat mereka melepas tanda pasukan. Ada yang melihat mereka mengganti pakaian, menyembunyikan baju zirah, dan berusaha berbaur dengan penduduk lokal. Ada pula laporan tentang mereka yang bersembunyi di reruntuhan bangunan, menunggu waktu yang tidak jelas, menunggu sesuatu yang bahkan mereka sendiri mungkin tidak bisa jelaskan.
Dalam bahasa resmi, mereka disebut pembelot.
Dalam bahasa perang, mereka disebut masalah.
Ketika unit itu tiba di pinggir desa, Guillaume mengangkat tangannya. Gerakan itu kecil, tetapi cukup untuk menghentikan seluruh barisan. Tidak ada serbuan. Tidak ada teriakan peringatan. Mereka turun dari kuda dan berjalan masuk dengan langkah terukur, seolah desa itu sendiri adalah makhluk hidup yang bisa terkejut jika mereka terlalu kasar.
Alaric mengamati sekitar. Desa itu tampak sepi, tetapi tidak kosong. Pintu-pintu tertutup rapat, tetapi tidak terkunci dengan panik. Tirai bergerak sedikit di balik jendela, cukup untuk menunjukkan bahwa ada mata yang mengintip. Jejak kaki terlihat jelas di tanah yang masih lembap oleh embun pagi. Jejak yang terlalu baru untuk diabaikan.
Alaric mengenali tanda-tanda itu dengan insting yang telah lama terasah. Ini bukan desa mati. Ini desa yang menunggu. Mereka menyebar sesuai formasi yang telah disepakati tanpa perlu instruksi tambahan. Dua orang bergerak ke kiri, dua ke kanan. Guillaume memberi isyarat agar Alaric ikut dengannya. Mereka mendekati bangunan rendah di ujung desa, sebuah gudang tua yang setengah runtuh, dengan dinding yang telah retak dan atap yang sebagian ambruk.
Bau lembap dan kotoran hewan bercampur dengan bau lain yang lebih tajam. Bau darah lama yang telah meresap ke tanah dan kayu. Guillaume memberi isyarat untuk berhenti. Ia menatap Alaric dengan tatapan yang tidak mengandung emosi apa pun.
"Kau yang masuk pertama."
Itu bukan permintaan. Itu penugasan.
Alaric mengangguk tanpa berkata apa-apa. Ia melangkah maju, perisai terangkat, pedang di tangan kanan. Ia mendorong pintu kayu yang sudah setengah lepas dari engselnya. Pintu itu berderit pelan sebelum akhirnya terbuka. Di dalam, cahaya tipis masuk dari celah atap yang berlubang. Debu melayang pelan di udara. Alaric melangkah masuk dengan hati-hati, memastikan sudut-sudut ruangan satu per satu. Di sudut belakang, ia melihat seorang pria duduk bersandar pada dinding. Kaki pria itu diperban secara kasar. Wajahnya pucat, matanya cekung.
Seragamnya masih Crusader, meskipun tanda-tandanya telah dicabut dengan tergesa-gesa. Pria itu menatap Alaric dengan mata yang tidak lagi dipenuhi amarah atau keyakinan. Yang tersisa hanya kelelahan dan kewaspadaan.
"Bangun," kata Alaric dengan suara datar.
Pria itu tidak bergerak. "Aku tidak bisa."
Alaric mendekat. Ia menendang ringan kaki pria itu untuk memastikan bahwa ia masih sadar dan tidak berpura-pura. Pria itu meringis, tetapi tidak berteriak. "Kau tahu perintahnya," kata Alaric. "Kau harus kembali."
Pria itu tertawa pelan. Suaranya serak, seperti gesekan batu di tanah kering. "Kembali ke apa."
Alaric tidak menjawab. Ia mengulurkan tangan, bukan untuk menolong, tetapi untuk menarik. Pria itu meraih pergelangan tangan Alaric dengan cengkeraman yang mengejutkan kuat untuk ukuran orang terluka.
"Aku sudah cukup," kata pria itu. "Aku tidak mau lagi."
Kalimat itu sederhana. Tidak ada pembenaran ideologis. Tidak ada kutipan kitab. Tidak ada alasan besar. Hanya kelelahan yang telanjang.
Guillaume masuk ke dalam tanpa suara berlebihan. Ia menatap adegan itu sejenak.
"Nama."
Pria itu menggeleng. "Tidak penting."
Guillaume memberi isyarat singkat kepada prajurit lain. "Cari yang lain."
Mereka menemukan dua orang lagi di bangunan lain. Yang satu mencoba melarikan diri dan ditembak dengan panah sebelum sempat mencapai tepi desa. Yang satu lagi menyerah tanpa perlawanan. Ketiganya dibawa ke tengah desa dan dipaksa berlutut. Penduduk lokal mengamati dari balik pintu dan celah jendela. Tidak ada yang bersuara. Mereka telah belajar bahwa suara sering kali mengundang perhatian yang tidak diinginkan. Guillaume berdiri di depan para pembelot itu. "Kalian melanggar sumpah."
Salah satu dari mereka tertawa pahit. "Sumpah itu dibuat sebelum kami melihat apa yang kami lakukan."
Guillaume menoleh ke Alaric. "Pendapatmu."
Alaric menatap ketiga pria itu. Ia melihat dirinya sendiri di masa lalu. Bukan karena mereka sama, tetapi karena mereka berada di titik yang pernah ia hindari dengan cara mematikan pertanyaan di dalam kepalanya.
"Mereka masih hidup," kata Alaric. "Mereka masih bisa digunakan."
Guillaume mengangkat alisnya sedikit. "Digunakan untuk apa."
"Kerja kasar. Angkut. Bersih-bersih. Informasi."
Guillaume mempertimbangkan sejenak, lalu mengangguk. "Yang ini." Ia menunjuk satu orang. "Bawa. Yang dua lainnya, tidak."
Keputusan itu dijalankan tanpa diskusi tambahan. Dua pria itu dihabisi dengan cepat. Tidak ada drama. Tidak ada pidato. Darah mengalir ke tanah, dan desa kembali sunyi.