Pagi datang tanpa tanda khusus, seperti hari-hari lain yang telah berlalu di tanah asing ini. Matahari naik perlahan, menyingkap perkemahan yang dibangun dari kebutuhan, bukan kenyamanan. Tanah masih dingin oleh sisa embun, dan bau abu dari api semalam belum sepenuhnya hilang. Para prajurit bangun satu per satu, bergerak dalam ritme yang telah lama tertanam di tubuh mereka. Tidak ada yang membicarakan hari sebelumnya, seolah diam adalah cara paling aman untuk menjaga sesuatu tetap terkunci.
Mereka mencuci muka dengan air seadanya, mengenakan baju zirah yang dingin di kulit, lalu memeriksa senjata dengan gerakan yang sudah diulang terlalu banyak kali. Rutinitas itu berjalan tanpa perlu dikomando. Tubuh-tubuh mereka tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika pikiran mereka tidak sepenuhnya hadir. Di dalam rutinitas, ada rasa tenang yang kejam. Segala sesuatu tampak teratur, seolah dunia bisa ditata kembali hanya dengan mengencangkan sabuk dan mengasah pedang.
Alaric berdiri agak terpisah dari yang lain. Ia menuang air ke tangannya, membasuh wajah dengan gerakan singkat dan efisien. Air itu dingin, cukup untuk membuatnya terjaga sepenuhnya. Tidak ada mimpi buruk yang mengganggunya malam itu. Tidak ada teriakan atau bayangan darah yang mengejar dalam tidur. Namun ada sesuatu yang tertinggal di dadanya, sesuatu yang tidak ikut larut bersama malam. Ia tidak bisa menyebutnya rasa bersalah. Ia juga tidak bisa menyebutnya penyesalan. Ia hanya tahu bahwa sesuatu bergerak di dalam dirinya tanpa izin.
Ia memperhatikan tangannya sendiri. Tangan yang sama yang telah menarik pria terluka dari sudut gudang. Tangan yang sama yang telah menunjuk siapa yang hidup dan siapa yang mati. Tidak ada yang berubah secara fisik. Kulitnya masih sama. Ototnya masih kuat. Tidak ada gemetar. Tidak ada tanda yang bisa dilihat orang lain. Tetapi ketika ia menatap urat-urat di punggung tangannya, ia merasa seolah sedang menatap sesuatu yang bukan sepenuhnya miliknya.
Namun ia tahu, tanpa bisa menjelaskan bagaimana, bahwa sesuatu telah bergeser.
Guillaume memberi perintah pagi dengan suara datar, seperti biasa. Rute baru telah ditentukan. Ada wilayah yang harus dipastikan aman. Ada laporan pergerakan kecil yang perlu diverifikasi. Tidak ada penjelasan tambahan. Tidak ada alasan moral yang disampaikan. Hanya tugas. Guillaume berbicara seolah semua yang dilakukan adalah bagian dari mekanisme, seolah manusia adalah alat, seolah hidup dan mati adalah angka yang bisa dipindahkan di atas peta.
Alaric mendengarkan dengan sikap yang sama seperti sebelumnya. Ia mencatat jarak, arah, dan kemungkinan hambatan. Ia menghitung waktu tempuh dan titik rawan. Semua itu masih bekerja di dalam dirinya dengan efisiensi yang sama. Ia tidak pernah kesulitan memahami perintah. Ia tidak pernah kesulitan menyusun langkah. Ia tahu bagaimana membuat sesuatu selesai.
Tetapi kini ada lapisan lain yang ikut bergerak. Lapisan yang tidak menghitung hasil, melainkan makna. Lapisan yang tidak menilai keberhasilan, tetapi mempertanyakan alasan. Dan lapisan itu mengganggunya lebih dari yang ingin ia akui. Ia tidak tahu dari mana lapisan itu muncul. Ia hanya tahu lapisan itu tidak pergi.
Mereka bergerak setelah matahari cukup tinggi untuk menghangatkan tanah. Barisan kecil itu keluar dari perkemahan, melewati tanah yang telah dilalui berkali-kali. Tidak ada sorak. Tidak ada tawa. Hanya derap kuda, bunyi logam yang bergesek, dan napas yang teratur. Di jalan, mereka melewati sisa-sisa kota yang jatuh. Bau hangus masih tinggal, meskipun api telah lama padam. Batu-batu hitam seperti ingatan yang tidak bisa dibersihkan.
Kali ini tidak ada perlawanan. Tidak ada pembelot. Tidak ada desa yang menunggu dengan pintu tertutup. Yang mereka temukan hanyalah reruntuhan dan sisa-sisa kehidupan yang telah ditinggalkan. Dinding runtuh. Perabotan patah. Jejak-jejak manusia yang pergi terburu-buru. Ketiadaan itu seharusnya menenangkan. Tidak ada ancaman. Tidak ada keputusan besar. Tidak ada darah baru.
Justru ketiadaan itu membuat pikiran Alaric lebih gaduh.
Ia mulai memperhatikan hal-hal kecil yang sebelumnya tidak ia catat. Cara Guillaume memberi perintah tanpa menyebut manusia, hanya posisi dan hasil. Cara para prajurit berbicara tentang kematian seperti membicarakan cuaca yang tidak bisa dikendalikan. Cara kata sumpah diulang dalam percakapan tanpa pernah disentuh maknanya. Di sela perjalanan, beberapa prajurit menyebut sumpah mereka kepada salib dan raja, menyebut dosa yang akan dihapus, menyebut pahala yang akan menunggu. Mereka mengucapkannya seperti kata-kata yang sudah menjadi kebiasaan.
Sumpah.
Kata itu kembali muncul di kepalanya, bukan sebagai pegangan, tetapi sebagai pertanyaan.
Ia mengingat wajah-wajah yang mereka temukan sehari sebelumnya. Mereka yang tidak kembali. Tidak satu pun dari mereka berbicara tentang melanggar sumpah. Mereka tidak menyebut dosa atau pengkhianatan. Mereka berbicara tentang kelelahan. Tentang tidak sanggup. Tentang berhenti. Tidak ada kemegahan dalam kata-kata itu. Tidak ada pembelaan. Hanya kenyataan telanjang yang tidak bisa diromantisasi.
Berhenti, bukan melawan.
Perbedaan itu kini terasa penting bagi Alaric. Ia belum pernah memikirkan perbedaan itu sebelumnya, atau mungkin ia sengaja tidak memikirkannya. Kini, perbedaan itu tidak mau pergi. Ia menempel seperti debu halus yang tidak bisa hilang hanya dengan mengibaskan baju.
Ia bertanya pada dirinya sendiri, tanpa suara, tanpa saksi, dan tanpa harapan jawaban segera. Apakah sumpah dibuat untuk menghapus batas manusia, atau justru untuk mengaturnya. Dan jika sumpah menuntut sesuatu yang tidak lagi bisa diberikan, apakah pelanggaran itu dosa, ataukah konsekuensi yang tidak terhindarkan. Ia tidak menyukai arah pikirannya sendiri. Ia tahu bahwa pertanyaan seperti itu berbahaya. Bukan karena jawabannya, tetapi karena keberadaannya.
Pertanyaan adalah awal dari sesuatu yang tidak bisa dikendalikan.
Siang hari, unit berhenti sejenak di dekat sumber air kecil. Bukan mata air besar yang dijaga atau diperebutkan, hanya aliran sempit yang cukup untuk mengisi kantong air dan membasahi wajah. Tempat itu sunyi. Tidak ada bangunan. Tidak ada penanda. Hanya batu, tanah, dan air yang mengalir tanpa memperhatikan siapa yang datang. Angin bergerak pelan, membawa bau tanah basah dan rumput kering.
Seorang anak lokal berdiri agak jauh dari mereka. Tubuhnya kurus. Bajunya kebesaran dan terlihat pernah ditambal lebih dari sekali. Ia tidak mendekat, tetapi juga tidak lari. Matanya mengawasi setiap gerakan mereka dengan kewaspadaan yang terlalu dewasa untuk usianya. Cara ia berdiri menunjukkan bahwa ia sedang menahan diri agar tidak bergerak salah. Ia seperti bayangan kecil yang dipaksa belajar bertahan.
Alaric memperhatikannya tanpa sadar. Anak itu menggenggam sesuatu di tangannya. Mungkin batu. Mungkin potongan kayu. Alaric tidak tahu apakah itu senjata. Ia hanya tahu bahwa anak itu bersiap. Ada ketegangan di bahu dan tangan kecil itu, ketegangan yang seharusnya tidak dimiliki anak seusianya.
Untuk apa, Alaric tidak tahu.
Ketika Guillaume menyadari keberadaan anak itu, ia memberi isyarat singkat. Salah satu prajurit melangkah maju dan berteriak agar anak itu pergi. Anak itu tidak ragu. Ia langsung berlari, menghilang di balik bebatuan dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa ia telah melakukan hal yang sama berkali-kali sebelumnya. Tidak ada darah. Tidak ada teriakan. Tidak ada kejadian besar.
Namun Alaric mencatat sesuatu yang tidak dicatat orang lain. Anak itu lari bukan karena takut pada suara. Ia lari karena sudah terbiasa. Ia tidak lari karena panik. Ia lari karena tubuhnya sudah tahu bahwa bertahan berarti menjauh sebelum terlambat.
Mereka melanjutkan perjalanan. Di ujung sore, Guillaume memerintahkan mereka memeriksa sebuah jalur sempit yang mengarah ke bukit rendah. Jalur itu dilaporkan sering dipakai oleh penduduk lokal untuk membawa makanan, air, atau barang dagang. Guillaume tidak menyebutnya jalur penduduk. Ia menyebutnya jalur suplai. Baginya, semua hal adalah fungsi. Jika sesuatu bergerak, maka sesuatu bisa disabotase.
Di jalur itu, mereka menemukan bekas tapak kaki. Tidak banyak, tetapi cukup jelas. Ada juga bekas roda kecil, mungkin kereta dorong. Etienne menyebutkan bahwa jalur ini bisa dipakai untuk menyelundupkan sisa pasukan yang kabur. Guillaume mengangguk, lalu memerintahkan dua orang mengawasi dari jarak jauh sementara yang lain memeriksa semak-semak.
Tidak ada yang ditemukan. Tidak ada tubuh. Tidak ada orang bersembunyi. Tidak ada penyergapan.
Tetapi ketika mereka hendak kembali, Alaric melihat sesuatu di tanah, dekat batu besar yang sebagian tertutup lumut. Sehelai kain, tipis, warnanya kusam. Bukan kain hitam yang ia simpan. Ini kain lain, lebih terang. Ada noda kecil di ujungnya, noda yang bisa jadi darah, bisa juga tanah merah.
Ia membungkuk dan menyentuh kain itu. Kainnya kasar, seperti kain yang dipakai orang yang hidup sederhana. Ia tidak tahu kenapa ia menyentuhnya. Ia tidak tahu apa yang ia cari.
Etienne melihat dan mendekat. "Apa itu."
"Tidak ada," jawab Alaric.
Etienne menatap kain itu sekilas, lalu menatap wajah Alaric. "Kau belakangan sering melihat hal-hal kecil."
Alaric berdiri. Ia memasukkan kain itu kembali ke tanah, membiarkannya. "Hal kecil sering menjadi masalah besar," katanya.
Etienne tidak membalas. Ia hanya mengangguk, seolah menerima jawaban itu, meskipun ia tidak benar-benar mengerti.
Malam turun ketika mereka kembali ke perkemahan. Api dinyalakan. Makanan dibagi. Percakapan pendek dan lelah mengisi udara, lalu menghilang satu per satu. Beberapa prajurit tertawa pelan tentang hal-hal kecil, tentang roti yang keras, tentang kuda yang bandel. Tawa itu tidak bertahan lama. Tawa itu seperti percikan yang cepat padam.
Alaric duduk sendirian lebih lama dari biasanya. Ia tidak membersihkan pedangnya malam itu. Ia hanya memandangnya, memperhatikan pantulan api di bilah logam yang telah terlalu sering digunakan. Bilah itu memantulkan wajahnya dalam bentuk yang terdistorsi. Ia melihat garis rahang, hidung, dan mata yang tampak lebih tua daripada umurnya.
Ia bertanya pada dirinya sendiri, tanpa suara, tanpa saksi, tanpa harapan jawaban segera. Untuk apa semua ini dilakukan. Bukan tentang siapa yang memerintahkan. Bukan tentang siapa yang ditaati. Tetapi tentang makna dari semua yang telah ia jalani. Ia tidak menemukan jawaban.
Dan untuk pertama kalinya, ia tidak segera memaksa dirinya berhenti mencari. Di kejauhan, suara adzan terdengar lagi. Tidak lebih dekat dari sebelumnya. Tidak lebih jelas. Tetapi kali ini, Alaric tidak hanya mendengarnya sebagai suara. Ia mendengarnya sebagai penanda bahwa ada sistem lain di luar yang ia kenal. Sistem yang juga mengenal ketaatan, disiplin, dan aturan. Tetapi entah mengapa, tidak terasa sama.
Ia tidak tahu apa bedanya. Ia hanya tahu bahwa perbandingan itu kini ada di kepalanya. Dan perbandingan adalah awal dari perubahan. Hari-hari berikutnya berlalu tanpa kejadian besar, setidaknya tidak dalam bentuk yang biasa dicatat oleh sejarah. Tidak ada pertempuran terbuka. Tidak ada desa yang dibakar. Tidak ada eksekusi massal yang perlu dilaporkan. Tetapi justru dalam ketiadaan itulah perubahan di dalam diri Alaric bergerak lebih pelan dan lebih dalam. Ia tidak menyadari perubahan itu sebagai sesuatu yang tiba-tiba. Ia merasakannya seperti rasa sakit kecil yang tidak hilang, lalu suatu hari ia sadar ia sudah berjalan sambil menahan.
Ia tetap menjalankan tugas. Tetap berdiri di barisan. Tetap menjawab perintah dengan singkat. Tidak ada satu pun tindakan lahiriahnya yang berubah cukup jauh untuk menarik perhatian. Ia masih orang yang sama bagi mata orang lain. Ia masih prajurit yang efektif, tenang, dan tidak banyak bicara.
Namun di dalam dirinya, sesuatu tetap tinggal.
Bukan kemarahan. Bukan kebencian. Bukan keinginan untuk membelot. Yang tinggal adalah kesadaran bahwa dunia tidak sesederhana yang ia terima selama ini. Bahwa perintah bisa dijalankan tanpa dipahami, tetapi makna tidak bisa dipaksa hadir dengan cara yang sama. Perintah bisa membuat tubuh bergerak, tetapi makna menentukan apakah jiwa ikut bergerak atau tidak.
Pada hari keempat setelah operasi pembersihan pembelot itu, sebuah rombongan kecil datang ke perkemahan. Mereka bukan prajurit. Mereka adalah bagian dari struktur yang lebih rapi, bagian yang membuat perang tampak suci. Di antara mereka ada seorang rohaniwan, seorang pria dengan jubah yang bersih dibandingkan baju-baju kotor para prajurit. Ia membawa simbol salib di lehernya dan sebuah buku kecil yang dibungkus kain. Nama rohaniwan itu disebut oleh beberapa prajurit dengan hormat. Mereka memanggilnya Father Matthieu.
Guillaume menyambut rombongan itu dengan formalitas singkat. Ia menundukkan kepala sedikit, cukup untuk menunjukkan penghormatan pada institusi, bukan pada pribadi. Mereka berbicara di dekat tenda komando. Alaric melihat dari kejauhan. Ia tidak mendekat, tetapi ia mencatat suara dan gestur. Pada malam hari, Father Matthieu memimpin doa singkat di dekat api. Ia berbicara tentang pengorbanan, tentang jalan suci, tentang musuh yang harus ditundukkan. Ia berbicara dengan keyakinan yang halus dan terlatih, seolah kata-katanya adalah obat untuk kebingungan.
Beberapa prajurit menunduk, beberapa mengangguk, beberapa bahkan tampak lebih tenang setelahnya. Etienne ikut menunduk, mulutnya bergerak mengikuti doa. Banyak orang di perkemahan membutuhkan sesuatu untuk dipegang, dan kata-kata rohaniwan memberi pegangan yang sederhana.