Pagi itu datang dengan udara yang lebih bersih dari biasanya. Angin bergerak pelan di antara tenda-tenda perkemahan, membawa bau tanah basah, rumput yang terinjak, dan sisa api yang padam sebelum fajar. Langit tampak pucat, seperti baru dibasuh hujan yang tidak pernah turun. Matahari belum tinggi ketika Guillaume keluar dari tenda komando dan memberi perintah singkat, tanpa pengantar dan tanpa penjelasan tambahan.
Unit kecil ditugaskan memeriksa jalur air yang menghubungkan beberapa desa kecil dengan sumber di perbukitan. Jalur itu bukan jalur utama. Tidak ada benteng. Tidak ada menara jaga. Namun semua orang tahu bahwa air lebih menentukan daripada senjata. Tanpa air, tidak ada desa yang bisa bertahan. Tanpa air, orang-orang akan bergerak, dan setiap pergerakan berarti potensi masalah.
Alaric memimpin barisan seperti biasa. Tidak ada keberatan. Tidak ada pertanyaan. Ia berjalan di depan dengan langkah yang stabil, pedang di pinggang, perisai tergantung di punggung. Tubuhnya bergerak otomatis, mengikuti ritme yang telah lama tertanam. Ia tahu jalur ini tidak berbahaya secara militer. Tidak ada laporan tentang penyergapan. Tidak ada tanda pergerakan pasukan musuh. Tugas ini lebih bersifat pengawasan daripada pertempuran.
Justru karena itu, pikirannya tidak sibuk.
Ketika tidak ada ancaman langsung, tidak ada teriakan, dan tidak ada darah yang harus diantisipasi, pikirannya mulai bergerak ke tempat yang tidak biasa. Ia menyadari bahwa keheningan memiliki cara sendiri untuk membuka ruang yang selama ini tertutup oleh kebisingan perang. Setiap langkah kuda, setiap bunyi logam yang saling bersentuhan, terasa lebih jelas dari biasanya. Ia bisa mendengar napas prajurit di belakangnya, bisa mendengar dengus hewan, bahkan bisa mendengar bunyi kecil batu yang terinjak.
Mereka bergerak menyusuri jalur tanah yang mengarah ke perbukitan. Tanah di sisi jalan masih lembap. Rumput tumbuh tidak rata, sebagian terinjak, sebagian dibiarkan liar. Di beberapa titik, terlihat jejak kaki manusia dan hewan yang saling tumpang tindih. Jalur ini jelas digunakan setiap hari, bukan oleh pasukan, tetapi oleh orang-orang yang hidup dari hari ke hari. Ada bekas roda kecil, mungkin kereta dorong. Ada serpihan daun dan ranting yang patah, tanda bahwa beban sering lewat.
Alaric memperhatikan semua itu, bukan karena ia sedang mencari musuh, tetapi karena ia tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan dengan kesadarannya sendiri. Ia merasa seperti orang yang baru belajar melihat sesuatu yang dulu dianggap tidak penting. Ia tidak menyukai perasaan itu. Ia lebih nyaman ketika dunia sederhana, ketika semua hal bisa dipecah menjadi perintah dan pelaksanaan.
Namun dunia tidak lagi sesederhana itu. Di kejauhan, bukit-bukit rendah tampak seperti gundukan tanah yang lelah, tidak seindah tanah asalnya, tetapi memiliki keteguhan yang sama. Angin yang datang dari sana membawa aroma air dan tanah basah. Itu adalah pertanda bahwa mereka mendekati sumber.
Menjelang siang, mereka tiba di titik air. Tempat itu berupa cekungan batu alami dengan aliran kecil yang terus bergerak, airnya jernih dan dingin. Batu besar di satu sisi memberi naungan dari matahari. Beberapa penduduk lokal sudah ada di sana, berdiri berjauhan, membawa wadah air dari tanah liat, kain, dan kayu. Mereka tidak berkumpul rapat. Mereka menjaga jarak satu sama lain, seolah telah belajar bahwa kebersamaan menarik perhatian.
Ketika pasukan mendekat, sebagian dari mereka menjauh beberapa langkah. Sebagian menunduk. Tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan. Tidak ada gerakan mendadak. Reaksi itu sudah menjadi kebiasaan, respons yang dipelajari dari pengalaman panjang. Mereka tidak perlu berbicara untuk mengerti apa yang harus dilakukan. Tubuh mereka sudah paham.
Kebiasaan.
Alaric mengamati mereka dengan cara yang berbeda dari sebelumnya. Ia tidak langsung menghitung ancaman. Ia tidak menilai kemungkinan serangan. Ia memperhatikan hal-hal yang lebih kecil. Cara bahu mereka menegang lalu perlahan mengendur. Cara tatapan mata menghindar, tetapi tetap mengawasi dari sudut pandang. Cara tangan memegang wadah air dengan kuat, seolah air itu lebih penting daripada keselamatan diri.
Ia mencari ketakutan, karena ketakutan biasanya mudah dikenali.
Lalu ia melihat seseorang yang tidak cocok dengan pola itu.
Seorang pria berdiri di tepi aliran air, tidak jauh dari batu besar yang menaungi sebagian cekungan. Usianya sulit ditebak. Tidak muda, tetapi belum tua. Wajahnya tenang, tidak menunjukkan ketegangan yang berlebihan. Pakaian yang ia kenakan sederhana dan bersih, meskipun jelas telah sering dipakai. Tidak ada senjata di tubuhnya. Tidak ada tanda pasukan. Tidak ada simbol yang mencolok. Yang membuat Alaric berhenti sejenak bukan penampilannya.
Yang membuatnya berhenti adalah sikapnya. Pria itu tidak menjauh ketika pasukan datang. Ia juga tidak mendekat dengan sikap mencari perhatian. Ia berdiri seperti orang yang sedang menunggu giliran, bukan seperti orang yang sedang menghadapi pasukan bersenjata.
Posturnya tegak, tetapi tidak kaku. Ketika tatapan mereka bertemu, pria itu tidak menunduk. Ia juga tidak menatap menantang. Tatapannya tenang, terbuka, dan tidak tergesa, seolah waktu tidak sedang mendesaknya untuk memilih antara hidup dan mati.
Itu mengganggu.
Alaric melangkah maju. Beberapa prajurit di belakangnya memperhatikan gerakannya, tetapi tidak berkata apa-apa. Mereka sudah terbiasa dengan insting Alaric yang tajam. Guillaume tidak ikut turun dari jalur. Ia tetap berdiri di tempat yang lebih tinggi, memilih mengawasi dari jarak aman. Ia membiarkan Alaric menilai situasi, seperti biasa.
"Kau," kata Alaric, suaranya datar, tidak meninggi, tidak pula melembut. "Apa yang kau lakukan di sini."
Pria itu mengangguk singkat, seperti mengakui keberadaan Alaric tanpa perlu menunjukkan rasa tunduk. "Mengambil air."
Nada suaranya tidak defensif. Tidak pula merendahkan diri. Ia tidak berbicara cepat. Ia tidak berbicara lambat. Ia berbicara seolah pertanyaan itu wajar, dan jawabannya cukup.
"Untuk siapa," tanya Alaric.
"Untuk siapa saja yang membutuhkannya," jawab pria itu.
Jawaban itu tidak provokatif. Tidak ada nada menantang. Tidak ada pesan tersembunyi. Justru itu masalahnya. Jawaban itu tidak memberi celah bagi Alaric untuk menekan, mengancam, atau memotong percakapan dengan kekuasaan.
Alaric menunggu penjelasan lanjutan. Tidak ada. Pria itu tetap berdiri di tempatnya, memegang wadah air dengan kedua tangan, seolah percakapan itu tidak memerlukan pembenaran panjang.
"Kau tidak takut," kata Alaric akhirnya.
Pria itu menatap Alaric beberapa detik lebih lama, bukan untuk menilai, tetapi seolah memastikan bahwa kalimat itu benar-benar dimaksudkan sebagai pernyataan, bukan jebakan. "Takut adalah urusan hati," katanya pelan. "Aku menjaga apa yang bisa kujaga."
Alaric merasakan sesuatu bergerak di dadanya. Ia tidak menyukai cara kalimat itu diucapkan. Bukan karena maknanya sulit dipahami, tetapi karena maknanya terlalu sederhana. Kalimat itu tidak membutuhkan argumen lanjutan.
"Kau tahu siapa kami," lanjut Alaric.
"Aku tahu," jawab pria itu.
"Kau tahu apa yang bisa terjadi jika kau berada di tempat yang salah pada waktu yang salah."
Pria itu mengangguk. "Aku tahu."
"Lalu kenapa kau tetap di sini."
Pria itu menoleh sebentar ke aliran air, memperhatikan air yang terus bergerak tanpa peduli siapa yang datang dan pergi. Lalu ia kembali menatap Alaric. "Karena air tetap mengalir, meski orang-orang bersenjata datang dan pergi."
Kalimat itu tidak diucapkan sebagai sindiran. Tidak ada nada filosofis yang dibuat-buat. Ia terdengar seperti seseorang yang sedang menyatakan sesuatu yang ia anggap sebagai fakta sederhana tentang dunia.
Alaric tidak segera menjawab. Di belakangnya, salah satu prajurit menggeser posisi, kakinya sedikit bergeser di tanah, seolah bersiap jika situasi berubah. Alaric mengangkat tangan sedikit, memberi isyarat agar mereka tetap di tempat. Ia tidak ingin gerakan kecil berubah menjadi kebisingan yang merusak sesuatu yang belum ia pahami.
"Kau Muslim," kata Alaric, bukan sebagai pertanyaan.
"Iya," jawab pria itu.
"Kau tahu kami memerangi orang-orang sepertimu."
Pria itu tidak membantah. "Aku tahu."
"Dan kau tetap berdiri di depanku."
"Iya."
Jawaban itu terlalu singkat. Terlalu tenang. Alaric mencoba menemukan celah. Biasanya, orang akan mulai menjelaskan. Membela diri. Memohon. Menawarkan sesuatu. Pria ini tidak melakukan satu pun dari itu. Ia tidak memperlihatkan kebanggaan. Ia juga tidak memperlihatkan ketakutan. Ia hanya ada, dan keberadaannya tidak bisa ditundukkan dengan kata-kata.
"Kenapa," tanya Alaric.
Pria itu berpikir sejenak, bukan karena ragu, tetapi karena memilih kata. "Karena aku tidak bertanggung jawab atas apa yang orang lain lakukan atas nama keyakinan mereka. Dan aku tidak bisa meninggalkan air hanya karena ada pedang di dekatnya."
Alaric menatap wajah pria itu lebih lama. Ia mencari kebohongan. Ia mencari kesombongan. Ia mencari sesuatu yang bisa ia pahami sebagai ancaman. Ia tidak menemukan apa pun. Wajah pria itu tetap tenang, tidak seperti orang yang sedang bernegosiasi, dan tidak seperti orang yang sedang menyelamatkan diri.
"Kau tidak membenci kami," kata Alaric.
Pria itu tersenyum tipis, bukan senyum ramah, tetapi senyum yang netral, seperti seseorang yang telah menerima bahwa tidak semua hal perlu disikapi dengan emosi. "Aku tidak punya waktu untuk membenci semua orang yang lewat membawa pedang."
Beberapa prajurit di belakang Alaric mendengus pelan. Salah satu dari mereka berbisik kata yang tidak sopan. Pria itu mendengarnya, tetapi tidak bereaksi. Ia tidak menoleh. Ia tidak menegang. Ia seperti batu di tepi aliran air, tidak menolak arus, tidak pula mengikuti arus, hanya tetap di tempat. Alaric merasakan sesuatu yang lebih mengganggu daripada perlawanan. Ia merasa kehilangan kendali atas percakapan. Bukan karena pria itu berkuasa, tetapi karena pria itu tidak bermain dalam logika kuasa yang ia kenal.
Tidak ada ancaman yang bisa ditukar. Tidak ada ketakutan yang bisa ditekan. Tidak ada permohonan yang bisa dipakai sebagai bukti kemenangan.
"Kau tidak takut mati," kata Alaric.
Pria itu menggeleng pelan. "Aku takut mati dengan sia-sia."
Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti batu kecil ke air tenang. Tidak besar, tetapi riaknya menyebar, menyentuh sesuatu yang tidak ingin disentuh Alaric. Ia teringat pembelot yang berkata ia tidak mau lagi. Ia teringat Guillaume yang menyebut contoh. Ia teringat rohaniwan yang menyebut ketegasan sebagai kasih. Semua itu menyatu di kepalanya seperti garis yang tidak rapi.
"Apa yang kau anggap sia-sia," tanya Alaric.
"Meninggalkan kewajiban karena ancaman," jawab pria itu. "Dan membunuh orang lain untuk menenangkan rasa takut sendiri."
Beberapa prajurit bergerak gelisah. Alaric mengangkat tangan lagi. Ia tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Ia hanya tahu bahwa percakapan ini tidak boleh dipotong dengan kasar, seolah ada sesuatu yang sedang diuji, bukan hanya pada pria itu, tetapi pada dirinya sendiri.
"Kewajiban pada siapa," tanya Alaric.