Turned Back : The Crusader

Nour araa
Chapter #8

Bab 7 Nama yang Tidak Diucapkan

Pagi datang dengan langit yang terasa lebih keras. Awan tipis bergerak lambat di cakrawala, menyerupai kain yang ditarik tanpa suara oleh tangan-tangan tak kasatmata. Perkemahan itu bangun dalam ritme yang sama seperti biasanya, namun Alaric merasakan sesuatu yang berbeda merayap di udara. Perbedaan itu bukan pada suhu atau arah angin, melainkan pada cara orang-orang di sekitarnya memandang.

Ia tidak melihat adanya tuduhan yang dilontarkan secara terang-terangan. Sebaliknya, ia melihat jeda kecil sebelum setiap jawaban diberikan kepadanya. Ia melihat tatapan mata yang berhenti terlalu lama pada wajahnya sebelum buru-buru beralih ke arah lain. Bahkan Etienne, yang biasanya selalu berada di dekatnya, kini tampak lebih berhati-hati dalam memilih posisi duduk. Tidak ada seorang pun yang membicarakan Yusuf secara langsung, tetapi Alaric cukup paham: di tempat seperti ini, hal-hal yang paling penting justru jarang dibicarakan secara terbuka.


​Guillaume memberikan perintah pagi tanpa sedikit pun mengubah nada suaranya. Mereka akan bergerak ke wilayah pinggiran yang belum sepenuhnya terkendali. Laporan intelijen menyebutkan adanya gudang-gudang kecil yang disembunyikan penduduk, serta jalur-jalur sempit yang digunakan untuk membawa makanan menuju desa-desa yang belum menyerah.


​Ini bukan pertempuran besar yang menjanjikan kemuliaan. Ini adalah pekerjaan kotor-tugas yang tidak memerlukan kehormatan, melainkan memerlukan satu hal: Contoh.


​Alaric mendengar kata itu lagi di dalam kepalanya, meski tidak ada yang mengucapkannya. Ia merasakannya dalam setiap perintah singkat Guillaume, dalam setiap detail yang terlalu rapi untuk sekadar pengawasan rutin. Ini bukan sekadar memastikan suplai; ini adalah misi untuk memastikan tidak ada orang yang merasa aman untuk hidup di luar struktur yang telah diciptakan oleh pasukan mereka.


​Mereka mulai bergerak sebelum matahari tinggi. Kuda-kuda berjalan di atas tanah yang mulai mengering, mengangkat debu halus yang menempel pada sepatu dan kain jubah yang kusam. Alaric memimpin di depan dengan wajah datar dan langkah stabil, namun pikirannya sedang mengunyah kembali kalimat Guillaume yang mengganggu:

"Tidak semua perlawanan memakai senjata. Kadang perlawanan adalah tidak takut."


​Dulu, Alaric mengira ia telah memahami perang sepenuhnya. Ia mengira perang hanyalah tentang: Menaklukkan tubuh musuh, mengambil wilayah secara geografis, mengurangi jumlah lawan menjadi sekadar angka dalam laporan.

Kini ia menyadari bahwa perang juga tentang menaklukkan cara orang memandang. Perang adalah upaya menanamkan keyakinan bahwa pasukan adalah pusat dunia, dan pedang adalah satu-satunya penentu. Jika keyakinan itu runtuh, maka semua yang telah mereka bangun dengan darah akan menjadi sangat rapuh.


Mereka tiba di desa pertama menjelang siang, saat matahari mulai menyengat tepat di atas kepala. Desa itu tampak kecil dan rapuh; rumah-rumahnya dibangun rendah dengan tembok dari susunan batu dan tanah, serta pintu-pintu kayu yang sempit. Tidak ada tanda perlawanan terbuka di sana. Tidak ada panji perang yang berkibar, tidak ada barikade yang menghalangi jalan. Namun, keheningan itu justru membuat para prajurit semakin waspada. Alaric tahu bahwa desa yang diam sering kali menyimpan sesuatu yang lebih berbahaya daripada teriakan perang.

Guillaume mengangkat tangannya tinggi, memberi isyarat agar unit berhenti. Mereka turun dari kuda dan mulai masuk ke pemukiman dengan formasi yang telah disepakati: dua orang ke kiri, dua ke kanan, sementara sisanya mengikuti di belakang.


Tidak ada teriakan peringatan. Taktik mereka pagi ini adalah keheningan yang menekan, sebuah cara untuk membiarkan rasa takut tumbuh sendiri dalam dada penduduk yang mengintip dari balik celah jendela.

​Alaric melangkah menuju salah satu rumah yang pintunya tertutup rapat. Ia tidak langsung menendangnya hingga hancur. Ia mengetuk pintu itu dengan gagang pedangnya yang berat-satu kali, cukup keras untuk menunjukkan otoritas siapa yang datang.


Tidak ada jawaban dari dalam. Alaric mengetuk lagi, kali ini lebih menuntut. Di dalam keheningan itu, ia mendengar gerakan kecil; suara napas yang tertahan dan bunyi sesuatu yang jatuh pelan di lantai tanah. Guillaume memberikan isyarat kecil dengan dagunya: Buka.

Alaric mendorong pintu itu. Kayunya berderit saat terbuka, menyingkapkan sebuah ruangan sempit yang berbau roti kering, kain tua, dan asap tungku yang sudah dingin. Di sudut ruangan, dua orang perempuan berdiri membeku. Satu berusia tua, dan satu lagi jauh lebih muda. Perempuan yang muda segera menundukkan kepalanya dalam-dalam, sementara yang tua sempat menatap Alaric dengan cepat sebelum akhirnya ikut menahan diri. Di belakang mereka, terdapat sebuah karung kecil yang ditutup kain kasar.

​Guillaume masuk tanpa ekspresi, matanya langsung tertuju pada benda itu. Ia menunjuk karung tersebut dengan ujung jarinya.

Perempuan tua itu berkata pelan dalam bahasa lokal yang patah, namun cukup untuk dimengerti oleh telinga Alaric yang sudah terbiasa:

"Itu untuk anak-anak... "

​Guillaume tidak menjawab. Ia hanya memberi isyarat kepada prajurit di sampingnya. Karung itu diangkat kasar, kain penutupnya dibuka paksa. Isinya adalah gandum dan sedikit garam. Alaric melihat tangan perempuan muda itu gemetar hebat. Ia sadar gemetar itu bukan karena ia takut akan nyawanya sendiri, melainkan karena ia takut kehilangan satu-satunya hal yang bisa menjaga penghuni rumahnya tetap hidup.

Guillaume menatap mereka tanpa sedikit pun emosi di wajahnya. "Kalian menyimpan suplai," ujarnya dingin.


​"Kami hanya menyimpan," perempuan tua itu mencoba membela diri dengan suara yang hampir hilang. "Kami tidak menyerang."

Guillaume mendekat satu langkah, membuat bayangannya jatuh menutupi kedua perempuan itu. "Kalian tidak perlu menyerang untuk menjadi masalah."

Alaric merasakan kalimat itu menempel di belakang tengkuknya. Ia tahu betul polanya sekarang. Di mata Guillaume, menyimpan suplai berarti memberi kesempatan bagi desa-desa lain untuk terus bertahan. Bertahan berarti menunda penyerahan diri secara total. Dan menunda penyerahan diri berarti memberikan contoh perlawanan.

​Maka, contoh itu harus dihancurkan di tempat.


Namun di dalam ruang pengap itu, saat menatap dua perempuan yang tak berdaya, Alaric tidak bisa mematikan nalar bahwa kebijakan perang dan nyawa manusia jarang bersinggungan tanpa meninggalkan bangkai.


Guillaume memerintahkan agar seluruh suplai dirampas. Ia tidak memerintahkan pembantaian, namun ia juga tidak menunjukkan sisa-sisa kemanusiaan. Ia hanya memutus urat nadi kehidupan mereka, membiarkan mereka membusuk dalam kelaparan, lalu melangkah pergi.

Mereka bergerak dari satu rumah ke rumah lain. Polanya sama dan menjijikkan. Di balik retakan tembok batu, terkubur di dalam tanah yang lembap, atau disembunyikan di bawah karpet kusam, mereka menemukan sisa-sisa makanan. Tidak banyak, hanya segenggam gandum atau bongkahan garam, namun itu adalah pertaruhan terakhir sebuah keluarga agar tidak mati pada hari berikutnya. Setiap penemuan dijarah tanpa sisa.


​Penduduk desa tidak melawan dengan senjata. Mereka hanya berdiri mematung di ambang pintu atau di sudut jalan yang berdebu. Mereka hanya menatap.

​Alaric mulai memahami kenyataan yang gelap. Ketika orang-orang tidak melawan, pasukan justru merasa memiliki hak tak terbatas untuk menginjak lebih dalam. Tidak ada batas moral, karena batas biasanya hanya muncul ketika ada perlawanan yang setimpal. Tanpa perlawanan, operasi ini berubah menjadi pemerkasaan hak hidup yang sistematis.


***


​Menjelang sore, unit itu bergeser menuju pinggiran desa ke arah lahan terbuka yang gersang. Muncul laporan tentang jalur tikus menuju perbukitan, sebuah jalur tersembunyi yang digunakan untuk menyelundupkan makanan ke wilayah yang belum sepenuhnya bertekuk lutut. Guillaume menginginkan jalur itu mati. Bukan dengan membangun tembok, tetapi dengan menanamkan teror.

​Mereka merayap dalam keheningan yang memuakkan. Angin sore meniupkan debu yang perih di mata. Di kejauhan, Alaric menangkap pergerakan beberapa orang yang mendaki lereng dengan terburu-buru. Mereka memeluk bungkusan kain seolah itu adalah bayi mereka sendiri. Begitu melihat kilatan zirah pasukan, orang-orang itu lari ketakutan. Guillaume memberi kode tajam.


​"Tangkap mereka. Pastikan mereka tidak sampai ke puncak," perintah Guillaume dengan nada rendah yang menusuk.

Dua prajurit langsung menghunus pedang dan mengejar. Alaric melihat punggung para pelarian itu. Tubuh mereka ringkih dan gerakannya kikuk. Mereka bukan tentara. Mereka hanya pengantar makanan.

Alaric sempat membuka mulut, ingin meneriakkan sesuatu, namun lidahnya mendadak kelu. Ia belum berani memancing amarah Guillaume dengan belas kasihan yang belum matang. Ia memilih bergerak. Namun, ia bergerak lebih gesit daripada prajurit lainnya.

"Aku yang akan menutup jalur mereka!" teriak Alaric pada dua prajurit di belakangnya.

Ia tidak sekadar berlari. Langkahnya efisien dan mematikan. Ia memotong kompas, melompati bebatuan tajam, dan menutup jalur pelarian mereka. Orang-orang itu terhenti seketika saat Alaric muncul dari balik gundukan tanah seperti malaikat maut.


Mereka membeku, terjepit di antara ujung tebing dan ujung pedang. Di antara mereka ada seorang pemuda, dua perempuan, dan satu sosok yang berdiri terpisah.

"Berhenti di sana jika kalian masih ingin bernapas," ancam Alaric sambil menghunus pedangnya tepat ke arah dada si pemuda.

​Si pemuda gemetar hebat, menjatuhkan bungkusan kainnya hingga isinya berhamburan. Namun sosok gadis di belakangnya tetap berdiri tegak.


Wajahnya tertutup kain, bukan sebagai penyamaran, tetapi sebagai kebiasaan yang jelas tertanam pada cara ia membawa dirinya. Pakaian yang ia kenakan sederhana, longgar, bersih meski debu menempel di ujung kain. Ia berdiri dengan posisi yang tenang, tidak menantang, tidak pula runtuh. Ia memegang wadah kain di tangannya, mungkin berisi roti atau gandum. Alaric memperhatikan satu hal yang segera terasa asing. Gadis itu tidak menunduk.


Dua prajurit yang mengejar tiba dengan napas memburu dan wajah merah padam karena amarah. Mereka segera mengangkat senjata, siap menerjang siapa saja yang berani bergerak sedikit saja. Guillaume belum sampai di titik itu, namun Alaric tahu komandannya akan segera tiba untuk menagih sebuah hukuman.


Pemuda di depan Alaric mulai meracau cepat dalam bahasa lokal dengan suara yang pecah karena panik. Ia mencoba menjelaskan bahwa mereka hanya membawa sisa makanan untuk keluarga mereka yang kelaparan di atas bukit, namun kata-katanya berantakan dan sulit ditangkap.

Alaric sama sekali tidak menatap pemuda itu. Fokusnya tertuju sepenuhnya pada si gadis. Gadis itu tidak berkata apa-apa. Ia tetap berdiri di tempatnya, menjaga jarak, dan memastikan tubuhnya tetap tegak seperti tiang yang dipancang di tanah keras. Ia tidak mencoba menyembunyikan getaran tubuhnya dengan gerakan dramatis; jika ia gemetar, ia menekannya dengan disiplin yang luar biasa.

"Apa yang kau bawa dalam kain itu?" tanya Alaric dengan nada dingin sambil melirik bungkusan yang masih didekap gadis tersebut.

Gadis itu tidak menjawab dengan kata-kata, ia hanya membuka perlahan ikatan kainnya, menunjukkan roti kering dan segenggam gandum yang bercampur debu. Alaric merasakan gangguan yang sama seperti saat ia berhadapan dengan Yusuf di tepi sungai, namun kali ini intensitasnya berbeda. Yusuf berdiri di tepi air dengan ketenangan seorang pria yang sudah selesai dengan dunia, sementara gadis ini berdiri di jalur sempit seolah pedang baja Alaric tidak punya kuasa untuk memaksa hatinya runtuh.

Guillaume akhirnya sampai dengan langkah yang tenang namun berat, matanya langsung menilai situasi dalam satu kedipan. Ia melihat sisa roti yang berhamburan, ia melihat jalur pendakian yang curam, dan ia melihat orang-orang yang kini berlutut kecuali satu orang.

"Ini jalurnya?" tanya Guillaume pendek.

​"Benar, Komandan," jawab Alaric tanpa melepaskan pandangannya dari si gadis.

Guillaume menatap si pemuda dengan jijik lalu beralih kepada gadis yang masih berdiri tegak. Ia memperhatikan postur gadis itu selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

"Kau," panggil Guillaume dengan suara datar namun penuh otoritas. "Kenapa kau tidak menunduk di hadapan pasukan pemenang?"

Lihat selengkapnya