TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #12

Bayangan di Rumah

Jalan setapak menuju rumah terasa lebih panjang daripada biasanya. Aku berjalan seorang diri di bawah langit yang nyaris sepenuhnya gelap. Angin malam berembus pelan, menggerakkan ilalang di kanan-kiri jalan hingga menimbulkan desir yang membuat tengkukku meremang. Bekas gigitan pada betisku masih terasa berdenyut, meskipun Sulaeman berkali-kali meyakinkanku bahwa kepala Bowo yang kulihat hanyalah beboro yang menyamar.

Aku ingin mempercayainya. Namun, bagaimana mungkin aku bisa melupakan darah yang muncrat ke wajahku? Bagaimana mungkin aku menganggap semua itu sekadar tipuan makhluk gaib?

Sesekali aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Yang terdengar hanya langkah kakiku sendiri dan suara jangkrik yang saling bersahutan dari pematang sawah. Ucapan Sulaeman kembali berputar di dalam kepalaku.

"Orang yang melepas sempoter itu mungkin sengaja mengincarmu."

Kalimat itu membuat dadaku semakin sesak. Selama ini aku merasa hidupku biasa-biasa saja. Aku hanya gadis kampung yang membantu Bapak bekerja dan mengurus rumah. Jika memang ada seseorang yang mengincarku, apa alasannya? Atau... semua ini memang berhubungan dengan keluargaku?

Aku segera menggeleng keras. Sejak kecil aku sudah terlalu sering mendengar orang-orang mencela keluargaku. Mereka menuduh Bapak bersekutu dengan iblis, menuduh ibuku mati karena kutukan, bahkan mengatakan kelahiranku sendiri berasal dari sebuah perjanjian gaib. Semua tuduhan itu selalu kutolak mentah-mentah.

Aku tak ingin kembali mempercayai omong kosong yang selama ini kubenci. Beberapa menit kemudian, akhirnya rumahku mulai terlihat di balik pepohonan. Entah mengapa, langkahku justru melambat. Biasanya, melihat rumah dari kejauhan selalu membuatku merasa lega. Namun malam itu ada perasaan asing yang perlahan merambat di dalam dada.

Rumah itu tampak gelap. Hanya cahaya lampu minyak yang remang-remang menyelinap melalui celah dinding bambu. Aku membuka pagar kayu dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara. Belum sempat tanganku menyentuh daun pintu, pintu itu telah lebih dahulu terbuka dari dalam. Aku tersentak.

"Bapak..."

Beliau berdiri tepat di hadapanku.

"Wati."

Suara beliau terdengar tenang seperti biasanya.

"Kamu dari mana?"

Aku menelan ludah. "Tadi... saya ke makam Ibu."

Bapak mengangguk pelan, seolah jawaban itu sudah diduganya sejak awal.

"Lama sekali."

"Iya."

Aku tak berani menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di pemakaman. Tentang sempoter. Tentang kepala Bowo. Tentang Sulaeman. Aku khawatir Bapak akan semakin cemas. Baru ketika beliau berbalik menuju ruang tengah, mataku menangkap sesuatu yang membuat langkahku terhenti.

Bagian belakang baju beliau dipenuhi bercak tanah. Tak hanya sedikit. Hampir separuh kainnya menghitam oleh tanah yang masih tampak lembap.

Pandanganku turun ke bawah. Celana panjang yang beliau kenakan pun tak jauh berbeda. Bahkan kedua telapak kakinya masih dipenuhi lumpur yang belum sempat mengering.

Aku mengerutkan dahi. "Bapak habis dari mana?"

Beliau berhenti melangkah. "Dari kebun."

"Kebun?"

"Iya." Beliau menjawab tanpa menoleh. "Tadi ada tanaman yang harus Bapak lihat."

Aku mengangguk pelan. Namun, ada sesuatu yang mengganjal. Bukankah sejak sore cuaca sangat cerah? Tidak turun hujan sama sekali. Lalu, dari mana datangnya lumpur sebanyak itu?

Lihat selengkapnya