Aku membeku di balik semak. Suara ranting yang baru saja kupatahkan seolah menggema ke seluruh bukit. Jantungku berdegup begitu keras hingga aku takut Bapak mendengarnya dari tempat beliau berdiri.
Beliau tidak bergerak dengan tubuh yang tetap menghadap ke arahku. Aku menundukkan kepala serendah mungkin. Kedua telapak tanganku menekan tanah yang masih dingin oleh embun malam. Aroma lumut, dedaunan basah, dan tanah pegunungan memenuhi penciuman.
Jangan sampai ketahuan. Jangan sampai ....
Beberapa detik berlalu, bagiku rasanya seperti berjam-jam. Tak lama, terdengar langkah kaki untuk kesekian kalinya. Pelan dan teratur. Aku memberanikan diri mengangkat wajah sedikit. Kulihat Bapak kembali membelakangiku. Mungkin beliau mengira suara tadi hanya berasal dari musang atau biawak yang berkeliaran di bukit. Aku mengembuskan napas perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Di hadapan beliau berdiri sebuah pohon beringin yang usianya mungkin telah puluhan, bahkan ratusan tahun. Batangnya begitu besar hingga tiga atau empat orang dewasa pun barangkali tak mampu memeluknya dengan kedua tangan. Akar-akar gantung menjuntai seperti rambut kusut yang menelan sebagian batangnya sendiri. Pohon itu berdiri sendirian di tengah tanah lapang yang dikelilingi semak liar. Entah mengapa suasana di sekitarnya terasa berbeda. Lebih sunyi dan berat. Seolah udara di sekitar pohon itu tidak mengizinkan siapa pun bernapas dengan lega.
Bapak tampak berjongkok dengan tangan meraih sebatang kayu yang sedari tadi tidak kusadari tergeletak di dekat akar beringin. Perlahan beliau mulai menggali tanah. Suara kayu yang membelah tanah terdengar lirih, tetapi cukup jelas dalam kesunyian malam.
Aku mengernyit. Untuk apa beliau menggali tanah selarut ini? Bukankah tadi beliau mengaku baru pulang dari kebun? Kalau memang masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan, mengapa harus dilakukan di tempat seperti ini?
Pertanyaan demi pertanyaan bermunculan tanpa jawaban. Aku hanya bisa memperhatikan. Semakin lama, galian itu semakin dalam. Tak banyak tanah yang disingkirkan. Seolah Bapak telah mengetahui dengan pasti apa yang sedang dicarinya.
Tak sampai beberapa menit kemudian, ujung kayu itu membentur sesuatu.
Tok.
Bapak segera meletakkan kayu tersebut. Beliau menggunakan kedua tangannya untuk menyingkirkan sisa tanah yang menutupi benda itu. Aku memicingkan mata. Sulit sekali melihat dengan jelas dari tempatku bersembunyi. Yang dapat kutangkap hanyalah warna hitam.
Sesaat kemudian, Bapak mengangkat sebuah buntalan kain yang telah lusuh. Bentuknya tidak terlalu besar. Kira-kira sebesar kendi kecil. Kain hitam itu diikat sangat rapat menggunakan tali dari serat yang aku tidak tahu berasal dari tumbuhan apa.
Tanganku refleks mencengkeram tanah. Apa isi buntalan itu? Mengapa harus dikubur? Dan mengapa baru diambil malam-malam begini?
Aku ingin mendekat. Namun kakiku sama sekali tidak berani bergerak. Ada sesuatu yang membuatku memilih tetap bersembunyi. Entah rasa takut. Entah firasat. Bapak membersihkan tanah yang menempel pada kain hitam itu dengan perlahan. Gerakannya sangat hati-hati. Nyaris seperti seseorang yang sedang memperlakukan benda berharga.
Setelah itu beliau berdiri. Buntalan tersebut diletakkan tepat di hadapannya. Aku menunggu. Tak lama kemudian kulihat bibir beliau mulai bergerak. Awalnya sangat pelan. Aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang sedang diucapkannya. Namun semakin lama, gerakan bibir itu jadi semakin cepat.
Aku mencoba memusatkan pendengaran. Masih tak terdengar jelas. Hanya potongan-potongan kalimat yang terdengar samar, seolah hanyut bersama angin malam. Terlebih aku tak mengenali bahasa yang sedang diucapkan Bapak. Itu bukan bahasa Indonesia. Bukan pula bahasa Sasak yang biasa kami gunakan sehari-hari. Bahasa itu terdengar jauh lebih tua. Lebih asing seperti berasal dari masa yang telah lama dilupakan manusia.
Bulu kudukku perlahan berdiri. Aku baru saja hendak mendekat sedikit lagi, tapi sesuatu yang ganjil terjadi.
Angin… berhenti. Benar-benar berhenti.