TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #14

Malam Sumpah Pocong

Pulang dari bukit bukan berarti pikiranku ikut kembali. Tubuhku memang telah tiba di rumah menjelang azan Subuh berkumandang dari musala di ujung kampung. Namun, benakku masih tertinggal di bawah pohon beringin tua itu. Masih terpaku pada lubang tanah yang baru saja kugali. Masih membeku pada selembar foto usang yang kini kuselipkan rapat-rapat di balik lipatan kain dalam lemari pakaianku.

Aku belum sanggup membuangnya. Lebih-lebih memperlihatkannya kepada Bapak. Foto itu terus menghantuiku. Wajah Ibu yang tersenyum di dalam potret tampak begitu damai. Senyum yang sama seperti ketika beliau masih hidup. Senyum yang selama bertahun-tahun hanya dapat kuingat melalui bayangan yang semakin kabur dimakan waktu.

Mengapa foto itu dikubur bersama rambut manusia, kuku, dan sepotong kain kafan? Pertanyaan itu terus berputar-putar tanpa menemukan jawaban. Aku bahkan tak tahu harus bertanya kepada siapa. Kepada Bapak? Tidak.

Belum.

Setidaknya belum untuk sekarang.

 

Mentari belum terlalu tinggi ketika suasana Kampung Kayu Jati mulai berbeda. Biasanya pagi hanya diisi suara orang-orang menuju sawah atau menggiring ternak ke padang rumput. Akan tetapi, hari itu hampir setiap mulut membicarakan hal yang sama.

Sumpah pocong.

Aku mendengar pembicaraan mereka bahkan dari dalam rumah.

"Katanya malam ini selesai semua urusannya."

"Kalau memang Arsyad yang membunuh Bowo, sebelum tujuh hari pasti mampus."

"Kalau Mahram yang bohong, ya dia yang kena kutuk."

Suara-suara itu masuk melalui celah dinding bambu seperti angin yang tak dapat dicegah. Aku memilih tetap berada di dalam kamar. Namun, semakin lama, pembicaraan mereka justru semakin keras. Aku akhirnya keluar membawa ember berisi pakaian kotor menuju sumur. Beberapa perempuan yang sedang menimba air langsung menghentikan obrolan mereka ketika melihatku. Mereka saling berpandangan. Tak seorang pun menyapaku.

Seperti biasa.

Aku telah terbiasa diperlakukan demikian sejak kecil. Bedanya, kali ini tatapan mereka tidak hanya berisi cibiran. Ada rasa takut. Ada pula rasa penasaran. Seolah-olah mereka sedang melihat seseorang yang tinggal menunggu waktu menuju kematian.

Aku menundukkan kepala dan segera kembali ke rumah. Percuma menjelaskan apa pun kepada orang-orang yang sejak awal telah menjatuhkan hukuman sebelum mengetahui kebenarannya.

 

Di dalam rumah, suasana tak kalah sunyi. Bapak sedang duduk di ruang tengah. Di hadapannya terletak foto Ibu yang telah kusam dimakan usia. Beliau memandanginya tanpa berkedip. Di samping foto itu terdapat peci hitam dan baju koko putih yang jarang sekali beliau kenakan.

Aku berhenti di ambang pintu. Seumur hidup, aku hanya pernah melihat Bapak mengenakan pakaian itu pada hari-hari besar keagamaan.

Hari ini bukan hari raya. Bukan pula undangan tahlilan. Lalu mengapa beliau mengenakannya?

"Bapak."

Beliau perlahan mengangkat wajah.

"Kamu sudah makan?"

Aku menggeleng. "Belum lapar."

Beliau tersenyum tipis. "Sebaiknya tetap makan. Malam nanti mungkin kita pulang agak larut."

Kalimat itu justru membuat dadaku terasa semakin sesak. Aku mendekat, lalu duduk di samping beliau. Beberapa saat kami sama-sama diam. Tak ada satu pun yang memulai percakapan. Hanya suara jam dinding tua yang berdetak pelan memenuhi ruangan.

Tak lama, akhirnya aku memberanikan diri.

"Bapak."

"Iya?"

"Kalau... kalau memang Bapak tidak bersalah ...."

Kalimatku terputus. Entah mengapa lidahku terasa begitu berat. Beliau tetap menunggu.

"Kenapa Bapak tetap mau melakukan sumpah pocong?"

Beliau mengembuskan napas panjang. Tatapannya kembali jatuh pada foto Ibu.

"Bapak tidak sedang membuktikan sesuatu kepada mereka."

"Lalu kepada siapa?"

Beliau tersenyum. Namun senyum itu sama sekali tidak memperlihatkan kebahagiaan.

Lihat selengkapnya