TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #15

Rahasia Pak Sukar

Orang-orang mulai meninggalkan pemakaman sedikit demi sedikit. Tak ada sorak kemenangan. Tak ada pula wajah puas sebagaimana yang kubayangkan sebelumnya. Mereka pulang dengan membawa kebingungan masing-masing.

Sumpah pocong telah selesai dilaksanakan. Ayah dan Mahram sama-sama mengucapkan sumpah di hadapan kitab suci, para tokoh agama, dan hampir seluruh warga Kampung Kayu Jati. Namun langit tidak menyambar siapa pun. Tanah tidak terbelah. Tak ada seorang pun yang roboh seketika sebagaimana cerita-cerita yang sejak kecil kudengar. Yang tersisa hanya bisik-bisik yang semakin liar.

"Mungkin kutukannya belum bekerja."

"Biasanya memang tidak langsung."

"Tunggu saja beberapa hari."

Aku berjalan di samping Bapak tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Beliau juga demikian. Langkahnya tetap tenang, meski aku beberapa kali menangkap napasnya terdengar lebih berat daripada biasanya. Sesekali warga yang berpapasan menatap kami dengan sorot mata yang sulit kuartikan. Sebagian penuh kebencian. Sebagian lagi justru dipenuhi rasa takut.

Aku menundukkan kepala.

Malam semakin larut. Obor-obor yang dibawa warga perlahan menjauh bersama langkah mereka. Cahaya yang semula memenuhi jalan kampung kini berganti remang-remang lampu minyak dari rumah-rumah penduduk. Ketika hampir tiba di ujung jalan, tanpa sengaja aku menoleh ke belakang. Mahram masih berdiri di depan gerbang pemakaman. Beberapa orang mengerumuninya. Ia tampak berbicara dengan lantang, seolah ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa dirinya baik-baik saja. Namun sesaat kemudian kulihat tubuhnya sedikit membungkuk. Tangannya menutup mulut. Ia terbatuk. Hanya sebentar.

Ia segera mengeluarkan sapu tangan dari saku bajunya. Dalam cahaya obor yang mulai menjauh, aku melihatnya melirik sapu tangan itu sekilas sebelum buru-buru melipatnya kembali. Gerakannya begitu cepat hingga mungkin tak seorang pun memperhatikannya. Entah mengapa aku merasa ada sesuatu yang disembunyikannya.

"Jangan melihat ke belakang."

Suara Bapak membuatku tersentak. Aku segera memalingkan wajah.

"Kenapa, Pak?"

"Kalau ingin berjalan jauh, jangan terlalu sering menoleh."

Aku tak menjawab. Kalimat itu terdengar sederhana. Namun entah mengapa, malam itu terasa seperti memiliki makna lain.

 

Sesampainya di rumah, Bapak langsung masuk ke kamar. Beliau tak banyak bicara. Hanya mengucapkan salam, melepas peci hitamnya, lalu menutup pintu kamar perlahan. Aku tetap berdiri di ruang tengah dengan pandangan mengarah ke lemari kayu tua yang berada di sudut ruangan. Di sanalah foto Ibu masih kusimpan bersama rambut manusia, kuku, dan potongan kain kafan yang kuambil dari bawah pohon beringin semalam.

Dadaku kembali terasa sesak. Sejak menemukannya, benda-benda itu tak pernah benar-benar lepas dari pikiranku. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya hanya kebetulan. Bahwa pasti ada penjelasan yang masuk akal. Namun setiap kali mengingat bagaimana Bapak menggali tanah tengah malam, mengucapkan bahasa yang tak kupahami, lalu berbicara kepada ruang kosong di bawah pohon beringin, keyakinanku perlahan mulai runtuh.

Aku memejamkan mata. Tidak. Aku tak boleh gegabah menuduh. Beliau adalah satu-satunya keluarga yang masih kumiliki. Aku harus menemukan jawaban sebelum mempercayai pikiranku sendiri.

 

Pagi datang bersama kabut tipis yang menyelimuti sawah-sawah di sekitar kampung. Seperti dugaanku, kabar mengenai sumpah pocong telah menyebar ke mana-mana. Saat aku pergi menimba air di sumur umum, hampir semua orang membicarakannya.

"Aneh juga. Tidak ada yang mati."

"Mungkin memang bukan Arsyad pembunuhnya."

"Belum tentu. Kutukan sumpah pocong bisa datang kapan saja."

"Tunggu saja tujuh hari."

Aku pura-pura tidak mendengar. Ember yang telah penuh segera kuangkat kembali ke rumah. Namun sebelum tiba di halaman, langkahku mendadak terhenti. Aku tak sanggup lagi menyimpan semua pertanyaan ini seorang diri. Aku membutuhkan seseorang yang memahami semua kejadian aneh beberapa hari terakhir. Seseorang yang tidak langsung menghakimi. Seseorang yang mungkin dapat menjelaskan benda-benda yang kusimpan itu. Nama Pak Sukar langsung muncul di benakku. Beliau memang sering berbicara tentang tuselak, bebai, maupun ilmu para belian. Sebagian besar ucapannya dulu selalu kuanggap sebagai dongeng orang-orang tua. Tetapi sekarang, hampir semua yang pernah diceritakannya satu per satu jadi kenyataan di depan mataku.

Aku segera masuk ke kamar. Kubuka lemari perlahan. Kusentuh buntalan kain yang sejak semalam kusimpan di dasar tumpukan pakaian. Rambut manusia, potongan kuku, kain kafan, dan foto Ibu. Aku membungkus semuanya menggunakan selembar kain lurik agar tidak terlihat dari luar.

Sesaat aku terdiam. Kalau Bapak melihatku membawa benda-benda ini, apa yang akan beliau katakan? Aku mengembuskan napas panjang.

Maafkan Wati, Pak. Tapi kali ini Wati harus mencari jawaban sendiri.

 

Pagi belum benar-benar ramai ketika aku melangkahkan kaki menuju rumah Pak Sukar. Kabut masih menggantung rendah di atas pematang sawah. Embun menempel pada ujung-ujung ilalang, sementara matahari baru saja menampakkan semburat keemasannya dari balik perbukitan di timur. Di balik kain lurik yang kubawa, benda-benda itu terasa semakin berat, seolah mengetahui bahwa sebentar lagi rahasianya akan terbuka.

Aku beberapa kali menoleh ke belakang. Bukan karena merasa diikuti. Lebih karena takut Bapak melihat kepergianku. Semalaman beliau tidak keluar kamar. Bahkan ketika aku berangkat pagi itu, pintu kamarnya masih tertutup rapat. Aku tak tahu apakah beliau benar-benar tertidur atau hanya berpura-pura memejamkan mata.

Rumah Pak Sukar berada di pinggir kampung, tak jauh dari kandang kudanya. Rumah panggung sederhana itu tampak jauh lebih tua dibanding rumah-rumah di sekitarnya. Dindingnya mulai kusam dimakan usia, sementara beberapa tiang penyangganya tampak miring meski masih berdiri kokoh.

Dari kejauhan, suara sapu lidi terdengar menggesek halaman. Pak Sukar sedang menyapu daun-daun kering. Beliau mengangkat kepala ketika melihatku mendekat.

"Wati?"

Aku memaksakan senyum. "Maaf pagi-pagi begini saya sudah mengganggu."

Pak Sukar meletakkan sapunya. "Kalau kamu datang sepagi ini, berarti ada sesuatu yang tidak biasa."

Beliau tak lagi tersenyum. Sorot matanya berubah lebih serius, seakan mampu membaca kegelisahan yang sedari tadi kusimpan.

"Ayo, masuk."

Aku mengikutinya ke dalam rumah.

Ruangan itu sederhana. Sebuah meja kayu tua berada di tengah ruangan. Di sudut lain terdapat rak berisi kitab-kitab lusuh yang sebagian sampulnya telah mengelupas. Bau kayu tua bercampur aroma kopi hitam memenuhi ruangan.

Pak Sukar menuangkan air panas ke dalam dua cangkir.

"Minumlah dulu."

Aku menggeleng pelan. "Saya tidak haus."

Beliau mengangguk tanda mengerti. "Lalu... apa yang ingin kamu ceritakan?"

Aku tidak langsung menjawab. Tanganku justru bergerak membuka simpul kain lurik yang kubawa dari rumah. Satu per satu benda itu kuletakkan di atas meja. Ruangan mendadak sunyi. Pak Sukar yang sedari tadi tampak tenang, mendadak beku. Tangannya yang hendak meraih cangkir berhenti di udara. Sorot matanya berpindah dari satu benda ke benda lainnya, lalu berhenti cukup lama pada foto Ibu.

"Wati." Suara beliau terdengar jauh lebih pelan. "Dari mana kamu mendapatkan semua ini?"

Aku menarik napas panjang. "Semalam."

"Semalam?"

Lihat selengkapnya