TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #16

Bisikan di Rumah

Sepulang dari rumah Pak Sukar, aku tidak langsung masuk ke rumah. Kedua kakiku berhenti di halaman yang mulai menguning diterpa matahari sore. Angin bertiup pelan, menggoyangkan daun mangga yang menaungi sebagian atap rumah. Segalanya tampak sama seperti hari-hari sebelumnya. Namun, perasaanku tidak lagi sama. Entah sejak kapan rumah yang selama ini jadi tempat paling aman berubah jadi tempat yang paling enggan kumasuki.

Aku menggenggam erat buntalan kain yang kini hanya berisi rambut, kuku, kain kafan, dan foto Ibu. Pak Sukar memintaku tetap menyimpannya. Katanya, benda-benda itu kelak mungkin bisa jadi petunjuk yang lebih berharga daripada yang kubayangkan. Aku tak begitu memahami maksudnya. Yang kupahami hanya satu. Sejak beberapa hari terakhir, hidupku perlahan berubah jadi sesuatu yang tak lagi mampu kuterima dengan akal sehat.

Aku menarik napas panjang, lalu melangkah masuk.

 

Rumah terasa sangat sunyi. Biasanya, menjelang sore Bapak telah duduk di beranda sambil membersihkan cangkul atau sekadar menggulung tembakau untuk rokok lintingnya. Hari itu beliau tidak ada.

"Bapak?"

Tak ada jawaban. Kupikir beliau sedang berada di dapur. Aku berjalan ke sana. Kosong.

Aku kembali memanggil. "Bapak?"

Masih tak ada sahutan. Padahal sandal beliau masih tergeletak di depan pintu. Aku mulai mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Perasaan asing perlahan kembali merayapi dada. Rumah ini terasa berbeda. Suasananya seperti tak pernah kukenal. Aku tak bisa menjelaskan bagaimana rasanya. Yang jelas, seolah-olah rumah ini sedang dihuni seseorang yang tak bisa kulihat.

Aku buru-buru menggeleng. "Sudahlah, Wati."

Aku mencoba menertawakan diriku sendiri. Mungkin semua ini hanya akibat terlalu banyak memikirkan ucapan Pak Sukar.

Aku pun masuk ke kamar. Belum sempat duduk di dipan bambu, hidungku menangkap aroma yang sangat kukenal. Harum. Lembut. Menusuk.

Aku mengernyit. Bunga tujuh rupa. Aku mengenali aroma itu.

Dulu, ketika Ibu meninggal, beberapa perempuan kampung datang membawa bunga tujuh rupa untuk ditaburkan di makamnya. Bau itu sangat khas. Campuran melati, mawar, kenanga, kantil, dan bunga-bunga lain yang hingga kini aku tak pernah hafal namanya.

Kenapa aroma itu ada di kamarku?

Aku mendekati jendela. Tidak ada siapa-siapa. Kubuka lemari. Kosong. Kuangkat tikar pandan. Tak ada apa pun. Aroma itu justru semakin kuat. Seolah berasal dari udara itu sendiri. Aku menelan ludah. Perlahan aroma itu memenuhi seluruh kamar. Dadaku mendadak terasa sesak.

Aku buru-buru keluar. Begitu kakiku melewati ambang pintu kamar, harumnya menghilang. Aku membeku.

Kubalikkan badan. Pelan-pelan aku masuk lagi ke dalam kamar. Aroma bunga itu kembali memenuhi hidungku. Aku keluar. Lenyap. Masuk. Muncul lagi.

Aku menggeleng keras. Tidak. Ini pasti hanya perasaanku. Mungkin ada bunga liar yang mekar di belakang rumah. Aku berusaha mencari penjelasan lain. Namun semakin kupikirkan, semakin sulit pula aku memercayainya.

 

Malam datang lebih cepat daripada biasanya. Langit dipenuhi awan kelabu yang menutupi cahaya bulan. Sesudah makan malam, Bapak hanya duduk diam di ruang tengah. Beliau tidak banyak bicara. Aku pun demikian. Suasana di antara kami berubah begitu canggung sejak beberapa hari terakhir.

Aku berkali-kali ingin bertanya tentang pohon beringin. Tentang benda-benda yang kutemukan. Tentang semua rahasia yang mulai terbuka sedikit demi sedikit. Namun setiap kali melihat wajah beliau, keberanianku langsung menghilang. Beliau tampak jauh lebih tua. Lebih lelah. Seolah sedang memikul beban yang tak sanggup lagi ditanggung seorang diri.

"Ada apa, Pak?"

Beliau perlahan mengangkat kepala. "Hm?"

"Bapak kelihatan capai."

Beliau tersenyum tipis. "Hanya kurang tidur."

Jawaban itu terdengar biasa. Namun tatapan beliau tidak. Untuk beberapa saat, mata kami saling bertemu. Beliau terus menatapku tanpa berkedip. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku mulai merasa tidak nyaman.

Lihat selengkapnya