TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #17

Darah Bebai

Demam itu tak juga turun. Sudah tiga hari berlalu sejak malam ketika rumah mulai dipenuhi suara-suara yang tak bisa kujelaskan. Tubuhku justru semakin lemah. Setiap menjelang petang, kepalaku terasa berat, persendianku nyeri, sementara panas di dahiku datang silih berganti tanpa mengenal waktu. Aneh. Begitu matahari terbit, tubuhku terasa sedikit lebih ringan. Namun ketika cahaya senja mulai menguning di balik perbukitan, panas itu kembali menyerang seolah ada seseorang yang sengaja meniupkan bara ke dalam tubuhku. Aku bahkan mulai kehilangan selera makan. Nasi yang biasanya mampu kuhabiskan sepiring penuh kini hanya sanggup kumakan beberapa suap. Selebihnya membuatku mual.

"Wati." Suara Bapak terdengar dari depan kamar.

"Iya, Pak."

"Kamu makan dulu."

"Nanti saja."

Sudah hampir sepuluh kali beliau mengulang ajakan yang sama sejak pagi. Jawabanku pun tak pernah berubah. Bukan karena aku membangkang, tapi memang tak sanggup menelan apa pun.

Aku mendengar helaan napas panjang dari balik pintu.

"Kamu belum sembuh juga."

"Sebentar lagi juga sembuh."

"Kamu yakin?"

Aku memaksakan senyum, meskipun beliau tak mungkin melihatnya dari luar.

"Iya."

Suasana kembali sunyi. Beberapa saat kemudian terdengar langkah kaki beliau menjauh. Aku memejamkan mata. Dadaku kembali dipenuhi rasa bersalah. Belakangan ini aku terlalu sering menyembunyikan sesuatu dari Bapak. Tentang benda-benda yang kutemukan di bawah pohon beringin. Tentang pertemuanku dengan Pak Sukar. Tentang suara perempuan yang terus memanggil namaku setiap malam. Semua itu kupendam seorang diri. Semakin lama, beban di dalam dada terasa semakin berat.

 

Menjelang Magrib, panas tubuhku kembali naik. Aku menggigil meskipun udara di dalam kamar sama sekali tidak dingin. Keringat membasahi pelipis dan leherku. Aroma bunga tujuh rupa yang beberapa hari terakhir terus muncul kini kembali memenuhi kamar. Aku tak lagi mencoba mencarinya. Aku tahu itu percuma. Harum itu selalu datang tanpa asal, lalu menghilang begitu saja.

Kutarik selimut hingga menutupi dada. Mataku mulai terasa berat. Di antara sadar dan tidak, kudengar suara seseorang memanggil dari luar rumah.

"Assalamu'alaikum." Suara itu kukenal.

Pak Sukar. Aku mencoba bangkit dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Dari balik pintu kamar, terdengar percakapan lirih antara beliau dan Bapak. Aku tak bisa menangkap seluruh pembicaraan mereka. Hanya beberapa potong kalimat yang samar-samar terdengar.

"...demamnya belum turun?"

"Iya."

"...sudah berapa hari?"

"Tiga hari."

Lalu suara mereka mengecil. Aku mencoba mendekat ke pintu. Namun kepalaku mendadak berputar. Aku kembali terduduk di dipan. Tak lama kemudian pintu kamar terbuka perlahan. Bapak masuk lebih dahulu. Di belakangnya menyusul Pak Sukar. Beliau menatapku cukup lama. Sorot matanya kali ini berbeda. Tidak hanya terlihat khawatir, tapi seperti sedang memastikan sesuatu.

"Wajahmu pucat sekali." Pak Sukar duduk di tepi dipan.

"Saya hanya demam."

"Demam biasa tidak seperti ini."

Aku mencoba tersenyum. "Mungkin saya terlalu capai."

Pak Sukar tak menjawab. Beliau justru meraih pergelangan tanganku. Ujung jarinya menempel pada denyut nadiku. Mata beliau perlahan terpejam. Ruangan menjadi sunyi.

Aku memandang Bapak. Beliau hanya berdiri di dekat pintu dengan wajah yang sulit kubaca.

"Pak."

Aku memanggil pelan. Beliau tidak menjawab. Tatapannya justru tertuju kepada Pak Sukar. Seolah sedang menunggu sesuatu.

Lihat selengkapnya