Aku masih memandangi telapak tanganku. Kulitnya telah kembali utuh dengan tak ada goresan maupun bekas darah. Tak ada rasa perih yang seharusnya masih tertinggal setelah tersayat pisau. Hanya sisa kehangatan aneh yang perlahan menghilang dari permukaan kulitku.
Ruangan terasa begitu sunyi. Asap tipis dari mangkuk tanah liat masih melayang perlahan menuju langit-langit kamar. Aroma dedaunan yang terbakar kini bercampur dengan wangi bunga tujuh rupa yang belum juga benar-benar lenyap.
Aku mengangkat wajah. Pak Sukar masih menatapku. Tatapan itu tidak lagi dipenuhi keraguan, tapi kepastian.
"Kamu," suara beliau terdengar lirih, "akhirnya memperlihatkan tanda itu."
Aku menggeleng pelan. "Saya tidak mengerti."
Pak Sukar menarik napas panjang. "Dan saya berharap kamu memang belum mengerti."
Beliau kemudian mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah sedang berusaha menenangkan pikirannya sendiri.
Beberapa saat tak seorang pun berbicara. Aku bisa mendengar suara jangkrik mulai bersahutan di luar rumah. Senja telah benar-benar berganti malam. Dari balik jendela, cahaya langit perlahan memudar jadi hitam pekat.
"Pak." Aku akhirnya memberanikan diri memecah keheningan. "Kalau benar darah saya berbeda, apa sebenarnya yang terjadi pada saya?"
Pak Sukar tidak segera menjawab. Beliau justru memungut kembali pisau kecil dan mangkuk tanah liat dari lantai. Semua benda itu dimasukkan ke dalam tas kainnya dengan gerakan perlahan, seolah sedang mengulur waktu.
"Arsyad belum boleh mendengar semuanya."
Aku terdiam. "Kenapa?"
"Karena saya belum tahu seberapa jauh dia sudah melangkah."
Jawaban itu membuat dadaku kembali sesak. Pak Sukar berdiri, melangkah menuju pintu kamar, lalu berhenti tepat sebelum membukanya.
"Wati."
"Iya."
"Ada sesuatu yang harus kita cari."
Aku mengernyit. "Mencari apa?"
Beliau menoleh. Tatapannya kali ini begitu serius. "Lontar peninggalan Bogeng Samil."
Nama itu kembali terdengar. Sebelumnya Pak Sukar pernah menyebut Bogeng Samil sebagai leluhurnya, seorang pemburu belian yang menyalahgunakan ilmu. Namun baru kali ini beliau menyebut tentang sebuah lontar.
"Lontar?"
Pak Sukar mengangguk. "Bukan sembarang lontar."
Beliau kembali duduk di tepi dipan. "Dahulu Bogeng Samil menuliskan hampir seluruh pengetahuannya di atas lembaran-lembaran lontar."
"Tentang apa?"
"Tentang ilmu."
"Ilmu hitam?"
"Bukan hanya itu." Beliau menggeleng pelan. "Di dalamnya ada cara mengenali berbagai ilmu lama yang berkembang di tanah Lombok."
Aku mendengarkan tanpa berkedip.
"Mulai dari ilmu pengobatan, ilmu penolak bala. Hingga ilmu-ilmu yang seharusnya tidak pernah diwariskan kepada manusia." Suara beliau semakin pelan ketika mengucapkan kalimat terakhir.
Dadaku kembali berdebar. "Apakah... nyelak juga ada di dalamnya?"
Pak Sukar mengangguk. "Ada."
Aku menelan ludah. "Lalu... tuselak?"
Beliau kembali mengangguk. "Ada juga."
Ruangan mendadak terasa lebih dingin. Aku teringat kembali wajah Bowo yang berubah jadi beboro. Kuburan yang terbuka. Pohon beringin. Buntalan kain hitam. Suara Ibu. Dan semua kejadian yang perlahan menyeretku ke dalam dunia yang bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya.
"Kalau begitu," aku menatap Pak Sukar penuh harap, "kenapa kita tidak mengambil lontar itu sejak dulu?"
Wajah tua beliau mendadak muram. "Itulah masalahnya."
"Maksud Bapak?"
"Lontar itu sudah lama hilang."
Aku membeku. "Hilang?"
"Bertahun-tahun yang lalu." Pak Sukar menghela napas panjang. "Setelah keturunan terakhir Bogeng Samil meninggal, rumah tempat penyimpanannya ditutup. Tidak ada lagi yang berani menjaganya. Orang-orang mulai menganggap cerita tentang lontar itu hanya dongeng."
Beliau tersenyum pahit. "Tapi saya tahu lontar itu benar-benar ada."
"Kenapa Bapak begitu yakin?"
"Karena saya pernah melihatnya."