TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #19

Penjaga Lontar

Pagi itu matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika aku dan Pak Sukar meninggalkan rumah. Kabut masih menggantung rendah di atas persawahan. Udara terasa lembap, membawa aroma tanah yang semalam diguyur hujan tipis. Di kejauhan terdengar ayam jantan bersahut-sahutan, memecah kesunyian yang sejak subuh menyelimuti kampung.

Aku berjalan beberapa langkah di belakang Pak Sukar. Beliau tidak banyak bicara. Tas kain lusuh yang selalu dibawanya tergantung di bahu kiri, sementara keris peninggalan Bogeng Samil tampak terselip rapi di balik lipatan sarungnya. Langkahnya mantap, seolah telah berkali-kali melewati jalan setapak itu.

Sesekali beliau berhenti untuk memperhatikan jejak-jejak yang tertinggal di atas tanah. Aku ikut menunduk. Di antara rumput yang masih basah oleh embun, tampak beberapa bekas telapak kaki yang masih baru.

"Pak." Aku mempercepat langkah hingga sejajar dengannya. "Itu jejak siapa?"

Pak Sukar berjongkok. Jemarinya menyentuh bekas pijakan itu perlahan. Tanahnya masih lembut. Beliau mengusap sedikit lumpur yang menempel di ujung jari, lalu mengamatinya.

"Belum lama."

"Mungkin warga yang lewat?"

Pak Sukar menggeleng. "Jalan ini sudah puluhan tahun jarang dilewati."

"Lalu?"

Beliau bangkit perlahan. "Seseorang mendahului kita."

Dadaku seketika terasa sesak. Bayangan Bapak kembali muncul di kepalaku. Namun aku memilih diam karena tidak ingin terus-menerus mencurigainya tanpa bukti.

Kami kembali berjalan. Semakin jauh meninggalkan kampung, jalan setapak berubah semakin sempit. Pohon-pohon besar tumbuh rapat di kanan kiri, menutupi sebagian cahaya matahari yang baru mulai menghangatkan pagi. Sesekali terdengar suara burung hutan. Namun selain itu, tak ada suara lain.

Perjalanan hampir satu jam itu akhirnya membawa kami ke sebuah pemakaman tua. Beberapa makam batu yang tersebar di bawah pohon-pohon beringin raksasa. Sebagian nisannya telah miring, bahkan ada yang hampir seluruhnya tertelan akar pohon. Rumput liar tumbuh di mana-mana. Suasana tempat itu terasa begitu sunyi.

Pak Sukar menghentikan langkahnya. "Kita istirahat sebentar."

Aku mengangguk. Baru saja aku hendak duduk di sebuah batu besar, terdengar suara batuk dari balik rumpun bambu. Aku spontan menoleh. Seorang lelaki tua perlahan keluar dari balik pepohonan. Tubuhnya sangat kurus. Punggungnya sedikit membungkuk. Janggut putihnya menjuntai hingga dada, sementara kepalanya ditutupi ikat kain lusuh yang warnanya hampir memudar dimakan usia. Di tangan kanannya tergenggam sabit kecil. Sorot matanya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang tampak setua dirinya. Beliau berhenti beberapa langkah dari kami. Tatapannya mula-mula jatuh kepadaku, lalu beralih kepada Pak Sukar.

Beberapa saat tak seorang pun berbicara. Kemudian, lelaki tua itu tersenyum tipis.

"Saya kira …," suaranya serak namun jelas, "tidak akan ada lagi keturunan Bogeng Samil yang datang ke tempat ini."

Pak Sukar membungkukkan badan, hormat. "Assalamualaikum, Kek."

"Wa'alaikumussalam." Lelaki tua itu mengangguk pelan. "Sudah lama sekali, Sukar."

Aku menatap Pak Sukar dengan heran. "Kakek mengenal Bapak?"

Pak Sukar tersenyum tipis. "Beliau penjaga makam ini." Beliau menoleh kepada lelaki tua itu.

"Masih mengingat saya?" Lelaki tua itu terkekeh pelan.

"Bagaimana mungkin saya lupa?"

"Kamu datang ke sini waktu masih bocah. Digandeng kakekmu." Beliau memicingkan mata. "Dulu tubuhmu sekurus bambu. Sekarang rambutmu yang memutih."

Pak Sukar ikut tersenyum kecil. Kulihat wajah beliau sedikit lebih tenang. Lelaki tua itu kemudian memandangku.

"Dan ini... anak Arsyad?"

Aku mengangguk pelan.

"Iya, Kek."

Tatapan beliau berubah. Ada sesuatu yang sulit kuartikan di balik sorot matanya. Seolah beliau mengenal wajahku meski kami belum pernah bertemu sebelumnya.

"Akhirnya," gumamnya lirih, "darah itu datang juga."

Aku mengernyit. "Maksud Kakek?"

Lihat selengkapnya