Lelaki tua itu masih memandangi kami. Tatapannya perlahan berpindah dari wajah Pak Sukar kepadaku, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak sanggup diucapkannya. Angin pagi kembali berembus di antara akar-akar beringin tua. Daun-daun kering berjatuhan, menutupi sebagian nisan yang telah lapuk dimakan usia. Untuk beberapa saat, tak seorang pun berbicara. Aku justru sibuk memikirkan lembar-lembar lontar yang ternyata tersebar di berbagai tempat. Harapan untuk segera menemukan jawaban terasa semakin jauh. Kami bahkan belum memperoleh satu lembar pun.
Lelaki tua itu perlahan berdiri. Tulang-tulangnya berbunyi pelan ketika tubuh renta itu menegakkan diri. "Kalau memang kalian berniat mengumpulkan semua peninggalan Bogeng Samil," beliau berkata lirih, "kalian harus lebih cepat daripada orang yang juga sedang mencarinya."
Pak Sukar mengangguk pelan.
"Kami mengerti."
"Tidak." Lelaki tua itu menggeleng. "Kalian belum mengerti."
Aku mengernyit. Beliau memandangku cukup lama.
"Mulai hari ini, anak itu tidak lagi hanya diburu manusia."
Dadaku seketika menegang. "Maksud Kakek?"
Beliau tidak sempat menjawab. Seekor burung gagak yang sejak tadi bertengger di dahan beringin mendadak mengepakkan sayapnya dengan panik. Lalu seekor lagi. Disusul burung-burung lain yang berhamburan meninggalkan pepohonan. Suasana pemakaman berubah seketika. Sunyi. Bahkan desir angin yang sejak tadi menemani percakapan kami mendadak hilang.
Pak Sukar perlahan berdiri. Sorot matanya langsung mengarah ke langit.
"Ada yang datang." Suara beliau terdengar jauh lebih pelan daripada biasanya.
Aku ikut mendongak. Awalnya tak kulihat apa pun. Hanya langit pucat yang tertutup awan tipis. Namun beberapa detik kemudian, kulihat sesuatu bergerak. Mula-mula hanya berupa bayangan hitam yang berputar-putar sangat tinggi. Semakin lama, bayangan itu semakin membesar. Aku menyipitkan mata.
"Itu... burung?"
Pak Sukar tidak menjawab. Tangannya justru perlahan meraih gagang keris yang terselip di balik pinggangnya. Rahang beliau mengeras. Lelaki tua penjaga makam mundur beberapa langkah. Raut wajahnya yang sejak tadi tenang kini berubah pucat.
"Celaka," gumamnya. "Dia sudah menemukan anak itu."
Aku belum sempat bertanya siapa yang dimaksud ketika bayangan hitam itu meluncur turun dengan kecepatan yang sulit kuikuti.
Brak!
Tanah beberapa langkah di depan kami bergetar keras. Debu beterbangan. Daun-daun kering terlempar ke segala arah.
Aku spontan mundur. Saat debu perlahan menghilang, napasku langsung tercekat. Makhluk itu berdiri di hadapan kami. Tubuhnya jauh lebih besar daripada Bu Hamidah ketika berubah jadi Tuselak. Tingginya hampir menyamai dahan beringin yang rendah. Kulitnya hitam kebiruan, seperti daging yang telah lama membusuk. Kedua lengannya menjuntai hingga hampir menyentuh tanah. Jemarinya panjang dengan kuku-kuku melengkung menyerupai cakar burung pemangsa. Namun yang paling membuatku tak mampu mengalihkan pandangan adalah wajahnya. Tidak memiliki bentuk yang tetap. Sesaat menyerupai wajah seorang perempuan tua. Lalu meleleh begitu saja, berubah jadi wajah laki-laki. Kemudian berubah lagi jadi wajah yang sama sekali tak kukenal. Puluhan wajah saling berebut keluar dari balik kulit hitamnya.
Aku membeku. Makhluk itu perlahan mengangkat kepalanya. Dua matanya menyala merah gelap. Tatapannya lurus mengarah kepadaku. Ya, kepadaku seorang.
Makhluk itu mengendus-endus udara. Sekali. Lalu terdengar suara seraknya yang membuat seluruh tubuhku menggigil.
"...bebai..."
Suara itu terdengar seperti berasal dari banyak tenggorokan sekaligus.
"...darah... bebai..."
Aku refleks mundur selangkah. Pak Sukar segera berdiri di depanku.
"Wati." Suara beliau tegas. "Jangan bergerak."
Aku nyaris tak mampu menjawab. Makhluk itu kembali mengendus udara. Kali ini kepalanya perlahan miring ke kanan. Kemudian, tersenyum. Senyum yang tidak mungkin dimiliki manusia. Sudut bibirnya robek hingga hampir mencapai telinga. Dari balik mulutnya tampak deretan gigi-gigi runcing yang tidak beraturan.