TUSELAK

Marion D'rossi
Chapter #21

Tumbal Pertama

Kesadaranku kembali ketika aroma obat-obatan memenuhi hidungku. Langit telah berubah jingga. Cahaya senja menyelinap melalui celah-celah dinding bambu sebuah gubuk kecil yang tak kukenal. Tubuhku terasa pegal. Kepalaku masih berdenyut akibat benturan saat melarikan diri dari pemakaman tadi pagi.

Aku mencoba bangkit.

"Wati." Suara Pak Sukar menghentikan gerakanku. Beliau duduk di sudut ruangan dengan punggung bersandar pada dinding. Tubuhnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya. Bagian punggung hingga bahu kirinya telah dibalut kain putih yang mulai memerah oleh darah yang merembes keluar.

Aku langsung turun dari dipan. "Pak!"

"Jangan banyak bergerak."

"Tapi luka Bapak …."

Aku mendekat. Tanganku gemetar melihat balutan yang begitu tebal.

"Saya tidak apa-apa."

"Itu bukan luka kecil."

Pak Sukar tersenyum tipis. "Kalau saya tidak baik-baik saja, saya sudah tidak sempat bicara denganmu."

Aku tak sanggup membalas senyumnya. Rasa bersalah perlahan memenuhi dadaku. Kalau bukan karena aku, Tuselak Bonga tidak akan mengejar kami. Kalau bukan karena darah bebai yang mengalir di tubuhku, Pak Sukar tak perlu mempertaruhkan nyawanya.

"Maaf." Suaraku nyaris tak terdengar. "Semua ini karena saya."

Pak Sukar menggeleng pelan. "Jangan pernah berkata begitu."

"Tapi—"

"Wati." Beliau memotong ucapanku. "Makhluk itu memang datang untukmu."

Aku menundukkan kepala.

"Tetapi bukan berarti semua ini salahmu." Suara beliau terdengar begitu tenang. "Sejak awal, jalan ini memang sudah menunggumu."

Aku menggenggam ujung bajuku erat-erat. Kalimat itu tidak membuatku merasa lebih baik. Justru semakin menegaskan bahwa aku telah terseret ke dalam sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kupahami.

 

Menjelang matahari tenggelam, Pak Sukar memaksaku pulang.

"Ayahmu pasti mencarimu."

Aku ragu meninggalkan beliau.

"Lukanya—"

"Penjaga makam akan membantu saya."

Aku menoleh kepada kakek tua yang sejak tadi sibuk menumbuk dedaunan di luar gubuk. Beliau mengangguk kecil.

"Pergilah. Besok atau lusa, kalau tubuhnya sudah kuat, saya sendiri yang akan mengantarnya pulang."

Aku akhirnya menurut. Sebelum berangkat, Pak Sukar sempat memanggilku sekali lagi.

"Wati."

"Iya, Pak."

"Jangan ceritakan pertemuan kita hari ini kepada siapa pun."

Lihat selengkapnya