Aku tidak tidur hingga fajar menyingsing. Bayangan Bapak yang menangis di depan makam Ibu terus berputar di dalam kepalaku. Sejak semua kejadian aneh itu bermula, aku melihat sisi lain dari lelaki yang selama ini kuanggap mulai berubah jadi asing. Beliau masih mencintai Ibu. Aku tidak lagi meragukannya. Tatapan itu. Tangisan itu. Tidak mungkin dibuat-buat. Namun justru itulah yang membuat hatiku semakin kacau. Kalau Bapak benar-benar mencintai Ibu, mengapa beliau melakukan semua ritual mengerikan itu? Mengapa harus menggali tanah di bawah pohon beringin? Mengapa harus berbicara dengan sesuatu yang tak terlihat? Dan mengapa beliau mengatakan bahwa Ibu akan hidup kembali?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku sepanjang pagi. Aku bahkan tak menyadari semangkuk bubur yang disiapkan Bapak di atas meja tetap utuh hingga mulai dingin.
"Wati." Suara beliau membuyarkan lamunanku. "Kamu belum makan."
Aku mengangkat kepala. Beliau berdiri di ambang dapur seperti biasa. Wajahnya tampak tenang. Tak ada sedikit pun tanda bahwa semalam beliau menangis di depan makam Ibu.
"Wati belum lapar."
"Kamu beberapa hari ini tidak makan dengan benar."
"Wati nanti saja."
Beliau memandangku beberapa saat. Tatapan itu tak lagi membuatku takut seperti sebelumnya. Justru kini terasa begitu letih. Seolah ada beban yang terus menggerogoti dirinya dari dalam.
"Kalau begitu, jangan terlalu siang." Beliau mengambil caping yang tergantung di dinding. "Bapak ke sawah dulu."
Aku hanya mengangguk. Kulihat beliau melangkah keluar rumah dengan cangkul di bahu. Sampai sosoknya menghilang di ujung jalan kampung, aku masih berdiri di depan pintu. Kini, aku mulai sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Menjelang tengah hari, Pak Sukar datang. Luka di punggungnya masih membuat langkahnya sedikit tertatih. Beliau mengenakan kain bersih yang menutupi sebagian bahunya. Meski wajahnya tetap pucat, sorot matanya tampak jauh lebih kuat dibandingkan kemarin.
"Apa bapakmu di rumah?"
"Tidak. Ke sawah."
Beliau mengangguk pelan.
"Bagus."
Aku mempersilakan beliau masuk. Rumah kembali dipenuhi keheningan. Pak Sukar tidak langsung duduk. Beliau justru memperhatikan setiap sudut ruangan, seperti memastikan tak ada orang lain yang mendengarkan pembicaraan kami. Barulah setelah itu beliau mengambil tempat di bangku kayu.
"Wati."
"Iya."
"Apa yang kamu lihat semalam?"
Aku tercekat. Beliau menatapku lekat-lekat.
"Kamu mengikuti bapakmu lagi, bukan?"
Aku tak mampu menyembunyikan keterkejutanku.
"Bapak tahu?"
Pak Sukar tersenyum tipis. "Wajahmu menceritakan semuanya."
Aku mengembuskan napas panjang. Perlahan kuceritakan apa yang kulihat di makam. Tentang Bapak yang menangis, permintaan maafnya kepada Ibu, janjinya bahwa Ibu akan hidup kembali. Pak Sukar mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Semakin jauh ceritaku, semakin muram wajah beliau. Setelah aku selesai, beliau memejamkan mata beberapa saat.
"Jadi," bisiknya pelan, "dugaan saya selama ini benar."
Aku menggenggam kedua tanganku.
"Pak. Apakah benar orang mati bisa dihidupkan lagi?"
Beliau membuka mata. "Lahir kembali?"
Aku mengangguk.
"Tidak."
"Kalau begitu—"
"Yang dicoba bapakmu bukan membangkitkan kematian." Beliau berhenti sejenak. "Tapi memindahkan kehidupan."